Film Ketu7uh, Kisah Pilpres Rakyat Jelata
Pandangan orang biasa, menurutnya, bahkan lebih penting dibanding pandangan para anggota tim sukses yang dijejalkan ke khalayak selama ini.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Pemilu presiden tak melulu soal "perang" antar- calon, antar-relawan, ataupun antar-tim sukses Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta. Bagi tim WatchdoC, Pilpes juga berkisah tentang orang biasa, orang terpinggirkan, yang mencari asa, perubahan, lewat pemilihan yang berlangsung sekali dalam lima tahun itu.
Ketu7uh adalah film terbaru WatchdoC, rumah produksi yang mengambil spesialisasi film dokumenter. Sejak 2009, rumah produksi berisi jurnalis-jurnalis video itu sudah menggarap banyak seri atau film dokumenter, baik untuk stasiun tv swasta maupun pribadi. Program Market Story di Bloomberg adalah satu di antara karya WatchdoC.
Lewat Ketu7uh, WatchdoC mencoba mengangkat pemilu presiden dari kacamata orang biasa. "Kami berangkat dari pandangan, tanggapan soal pemerintahan sebelumnya dan apa harapan mereka pada presiden berikutnya," kata Produser Ketu7uh, Hellena Yoranita Souisa.
Pandangan orang biasa, menurutnya, bahkan lebih penting dibanding pandangan para anggota tim sukses yang dijejalkan ke khalayak selama ini.
Hellena menjelaskan, pemilu terlihat berbeda dari sisi orang-orang yang umumnya tinggal di wilayah pinggiran. Misalnya, pemilu itu ternyata tidak 'rusuh', tidak 'hiruk-pikuk', seperti yang dibayangkan orang selama ini. "Ya, ternyata tidak ada keributan apa-apa. Kami mencoba melihat suasana pemilu yang berbeda itu, yang tidak mengacu pada kubu tertentu," ujarnya.
Hellena berkata, mereka yang tampil dalam Ketu7uh dipilih secara acak dan tersebar di berbagai wilayah mulai dari Indramayu, Tangerang, Jakarta, Ende, dan Samarinda. Karena tokoh-tokoh utama dokumenter ini berasal dari berbagai wilayah, belasan jurnalis video dikerahkan. Total ada 17 jurnalis terlibat dalam pembuatan dokumenter ini. Sebanyak 12 orang merupakan kru WatchdoC dari Jakarta, sementara sisanya kontributor daerah.
"Kebetulan tiap kami liputan ke daerah, kami melakukan workshop terhadap jurnalis-jurnalis video baru. Kami punya banyak kenalan di daerah yang bisa membantu," ujar Hellena.
Hellena menambahkan, film yang syutingnya berlangsung sejak awal tahun ini dibuat dengan dana WatchdoC sendiri. Itu sebabnya, film ini tidak berorientasi keuntungan. Rencananya, begitu film ini selesai, mereka akan screening roadshow ke berbagai daerah. "Film ini belum selesai. Kami masih menunggu proses pelantikan. Saya tidak bisa bilang apakah sisi gugatan hasil pemilu ini akan kami masukkan juga atau tidak," Hellena berujar.
Secara terpisah, Raff Beding, jurnalis yang terlibat dalam produksi, mengatakan bahwa Ketu7uh adalah proyek film yang menarik. Ia mengibaratkan produksi film ini seperti penelitian tentang pemilu dengan orang-orang biasa sebagai objeknya. "Saya fokus pada sisi-sisi manusianya,"ujar Raff kepada Tempo via pesan elektronik.
Trailer Ketu7uh sudah muncul di YouTube sejak 22 Juli 2014. Ketika tulisan ini dibuat, trailer hitam putih itu sudah beredar di berbagai situs jejaring sosial dan menarik komentar-komentar positif dari netizen. "Merinding liat trailer film dokumenter Yang Ketu7uh," ujar salah satu tweeps, @Rinjenong. Akun @alfredoodenis pun menyarankan Presiden RI ketujuh Joko Widodo untuk melihatnya. "Watch it and congrats Mr. Joko Widodo," ujarnya.
Selebtweet pun tak ketinggalan meninggalkan komentar untuk film yang kabarnya tidak akan hitam putih seperti trailernya. Penulis Dewi Dee Lestari lewat akun @deelestari mengaku berkaca-kaca melihat trailernya.