Mutiara Ramadan
Dua Kredo Agama
Pemahaman, kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan merupakan sumber dan fondasi bagi keberagamaan seseorang
Oleh Komaruddin Hidayat
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
DI muka bumi ini, agama selalu tampil dalam wujudnya yang plural. Selalu terdapat beragam agama, meskipun setiap orang beragama meyakini hanya agamanya yang paling benar.
Namun ada juga orang yang tidak mau peduli pada agama. Bagi sebagian masyarakat Barat atau Tiongkok malah heran, mengapa mesti beragama.
Tetapi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, akan heran kalau orang tidak beragama. Kalau seseorang beragama, masih juga muncul pertanyaan selanjutnya, agama apa yang dianut? Mengapa tidak ganti-ganti agama agar lebih banyak pengetahuan dan pengalamannya?
Terdapat dua kredo utama dalam beragama. Yaitu percaya akan adanya Tuhan dan percaya terhadap keabadian hidup setelah mati. Dua kredo ini merupakan dimensi pokok dalam setiap agama.
Di antara keduanya muncullah konsep dan kepercayaan terhadap pembawa atau pendiri agama yang diyakini menerima mukjizat ataupun wahyu dari Tuhan untuk meyakinkan ummatnya. Wahyu ajaran Tuhan itu lalu dihimpun menjadi kitab suci, yang di dalamnya terdapat perintah dan panduan berbuat kebajikan, baik yang berupa ritual keagamaan maupun perilaku sosial horizontal.
Inti agama adalah kepercayaan pada Tuhan, namun mempunyai implikasi dalam berbagai kehidupan sehari-hari, sehingga muncul etika dan pranata sosial. Dari sekian agama yang ada, mungkin saja ajaran Islam yang paling detail memberikan panduan perilaku dan pranata sosial.
Bahkan sejak masuk dan keluar toilet saja ada formula doanya. Soal pembagian harta warisan, misalnya, Alquran juga memuat formula sangat detail. Mungkin ini sebagai antisipasi kalau sudah menyangkut harta, manusia maunya mendapatkan lebih, enggan dikurangi.
Namun begitu Alqur'an mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan sesama keluarga sehingga dimungkinkan terjadi hibah dan hadiah secara suka rela jika dipandang ada anggota keluarga lebih memerlukan. Artinya, pelaksanaan pembagian harta warisan itu luas dan luwes.
Siapapun yang mendalami agama, terlebih bagi masyarakat sekuler yang sangat mengandalkan nalar dalam memahami agama, tema ketuhanan menempati urutan pertama untuk dipelajari dan diajarkan. Pemahaman, kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan merupakan sumber dan fondasi bagi keberagamaan seseorang.
Dalam sejarah agama, selalu saja muncul perdebatan seputar konsep ketuhanan. Memasuki zaman modern berbagai argumen yang dimajukan semakin canggih, kaya, dan mendalam. Mereka yang menganut faham ateisme, berbagai buku yang menyajikan argumen saintifik untuk menyangkal adanya Tuhan semakin bermunculan.
Sebaliknya, mereka yang menganut faham teisme, mesti mampu memberikan sanggahan balik yang juga bersifat saintifik. Metode dan isi argumen seputar ketuhanan hari ini menggunakan kajian sains yang lebih rasional, empiris ,dan detail dibanding perdebatan di abad-abad lalu.
Tapi bagi masyarakat Indonesia yang sejak kecil sampai tua dikondisikan untuk meyakini dan mempraktikkan agama, berbagai argument filosogis-ilmiah itu tidak diperlukan. Agama cukup diyakini dan dijalankan.
Para penceramah agama pun lebih banyak mengutip ayat-ayat Alquran, hadits, dan pendapat ulama ketimbang membahasnya dari sisi filsafat dan keilmuan modern. Bahkan festival keagamaan semakin meriah.
Ditambah lagi agama ditarik-tarik ke politik. Maka semakin warna-warni dan riuh-rendah wajah agama di Indonesia.
Namun, bagi generasi baru yang mendapatkan pendidikan modern dan bergaul lintas agama serta bangsa di lingkungan kerja dan kampus internasional, cara pandang terhadap agama dan ketuhanan telah mengalami pergeseran cukup jauh.
Berbeda dari generasi orangtuanya. Mereka merasa dituntut untuk memiliki basis argumen dan penalaran yang lebih ilmiah dan filosofis karena sering terlibat dalam obrolan dan diskusi lintas agama dan lintas anak bangsa dalam suasana terbuka.
Di antara pertanyaan yang sering meneror mereka adalah mengapa orang-orang sekuler yang tidak bertuhan lebih peduli dan mencintai lingkungan hidup? Mengapa korupsi lebih rendah terjadi di lingkungan masyarakat sekuler?
Demikianlah, masih banyak pertanyaan kritis dan fenomena sosial yang sering djadikan argumen yang menggeser dan bahkan menantang posisi agama dalam menyelenggarakan kehidupan bernegara dan sosial. Begitu masuk panggung sosial, agama apapun mesti siap menghadapi kritik, ujian, dan sorotan sehingga pada urutannya akan terjadi seleksi dan pendewasaan alamiah. (Tribun cetak).