Editorial

Hukum Berat Pemerkosa Anak

Parahnya lagi, perbuatan bejat itu juga dilakukan oleh paman korban, SNS (40).

Hukum Berat Pemerkosa Anak
ILUSTRASI 

PERIBAHASA populer mengatakan, sebuas-buas harimau tidak akan memangsa anaknya. Namun, tidak berlaku bagi beberapa ayah yang bisa disebut dengan ayah 'cabul'. Miris memang, saat seorang Ayah yang seharusnya mengayomi, menyayangi, dan menjadi pelindung anaknya malah melakukan perbuatan tak senonoh terhadap darah dagingnya sendiri. Ayah tak lagi mengenal status sebagai 'Ayah' terhadap anaknya.

Seperti dialami IDS (16), siswi SMA di Kecamatan Air Besar, Kabupaten. Diberitakan koran ini dua hari berturut-turut (15-16/4), sang ayah, APN (38) memperkosa putri kandungnya sejak masih umur tujuh tahun. Parahnya lagi, perbuatan bejat itu juga dilakukan oleh paman korban, SNS (40). Kejahatan seksual terhadap ADS itu dilakukan di lima lokasi, di antaranya di WC, bawah pohon dan di rumah.

Kasus yang tergolong unik ini memantik reaksi kepolisian untuk memeriksa kejiwaan tersangka dan korban di Mapolda Kalbar. Selain kasus ADS, kepolisian Landak saat ini juga sedang menangani kasus YR (13), siswi SMPN di Ngabang yang menjadi korban asusila pamannya sendiri, berinisial TPN. Kasus YR terjadi pada September dan Oktober 2013, namun baru dilaporkan ke Polres 3 Maret 014 silam.

Kini, kedua anak itu sudah dalam pendampingan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Landak. Kepala BPPKB Landak, D Darma mengatakan, setelah dilakukan pendampingan, YR awalnya sudah sembuh dari trauma. Tapi begitu kembali ke sekolah, ia trauma lagi bahkan sampai stadium IV, dengan ciri-ciri tidak ada reaksi interaksi bahkan tidak makan. Setelah penanganannya dilimpahkan ke psikiater, berangsur-angsur pulih.

Menurut Kanit IV Unit Pelayanan Perempuan dan anak ( PPA ) Satreskrim Polres Landak Aiptu Dahman Saragih, pada tahun 2014 unit PPA sudah menangani tiga kasus asusila yang semuanya korban anak dibawah umur. Dan pada tahun 2013 ada 18 kasus asusila yang saat ini perkaranya sudah P21alias berkasnya sudah lengkap dan siap dilimpahkan ke Pengadilan.

Masyarakat prihatin, sebab menunjukkan trend meningkat. Sepanjang tahun 2013 begitu googling dengan kata kunci "ayah perkosa anak kandung" diklik terdapat ratusan data yang bermunculan. Setelah dicermati hingga googling di halaman ke lima, ternyata ada sekitar 14 kasus perkosaan ayah terhadap anak kandungnya.

Satu di antaranya kasus yang membuat kita lebih miris dan geram terjadi di Kabupaten Kubu Raya, terungkap pada pertengahan Juni 2013. RJ, seorang pria paruh baya tega memperkosa 3 anak kandungnya, 2 di antaranya hamil. Sang ayah bejat ini juga memaksa kedua anaknya yang hamil untuk menggugurkan anak kandungnya. RJ sudah ditangkap polisi dan harus
mempertanggung-jawabkan perbuatan biadabnya.

Pelaku kejahatan seksual terhadap anak dibawah umur, sudah sepantasnya dikenai hukuman seberat-beratnya. Bila mengacu pada pasal 81 UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, pelaku dikenai ancaman hukuman 15 tahun penjara. Selain sanksi hukuman berat, pelaku pantas dikenai sanksi sosial yang terlembagakan. Seperti ada tanda khusus pada KTP pelaku.
Bahkan, ancaman hukuman belasan tahun itu dianggap terlalu ringan, apalagi jika pelaku adalah orang-orang dekat korban. Mestinya hukuman yang diberikan sebagaimana diungkapkan oleh Ida Chrysanti, psikolog Biro Konsultasi Remaja dan Keluarga Bogor, adalah hukuman penjara seumur hidup, dengan harapan tindak kejahatan serupa tidak akan terulang lagi.

Sebab, pemerkosaan sebagai salah satu tindak kekerasan seksual yang menimpa anak-anak dan perempuan adalah suatu bentuk penistaan terhadap kemanusiaan. Masalah kekerasan seksual, termasuk yang dilakukan oleh orang-orang terdekat korban merupakan masalah yang butuh penyelesaian secara nasional. Keberpihakan negara terhadap anak-anak dan perempuan, terutama korban perkosaan satu di antaranya harus tercermin dalam pemberian ketegasan hukum untuk pelaku, dengan sanksi hukuman seberat-beratnya. (Tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved