Breaking News:

Keliling Kampung Kampanye Lingkungan

Sedangkan di Desa Padu Banjar seperti diketahui merupakakan wilayah yang memiliki gambut dalam yang mana terdapat habitat hidup orangutan

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Jamadin
Keliling  Kampung Kampanye Lingkungan
istimewa
Anak-anak sekolah dasar saat menyiapkan bibit tanaman untuk makanan orangutan, belum lama ini

Citizen Reporter

Petrus Kanisius “Pit” | Yayasan Palung

SEPERTI biasa, Yayasan Palung kembali berkeliling ke kampung- kampung di beberapa desa yang ada di Kabupaten Kayong Utara, tujuannya untuk melakukan kewajiban kami kampanye lingkungan, Jumat (25-26/3/2014) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, kami tim pendidikan lingkungan dan media kampanye Yayasan palung bersama beberapa relawan Tajam dan RebonK melakukan kampanye lingkungan di dua desa. Desa pertama kami lakukan di Desa Penjalaan dan di Desa Padu Banjar di Kecamatan Simpang Hilir, KKU.

Kampanye yang kami lakukan adalah pemutaran film lingkungan dan penyadartahuan tentang undang-undang perlindungan terhadap satwa-satwa dilindungi seperti orangutan, enggang, trenggiling, bekantan, penyu, kelasi, kelempiau dan beberapa jenis burung endemik dan keragaman hayati seperti tumbuhan dan hutan yang semakin terancam punah di Tanah Kayong, dalam kesempatan tersebut, kami bergai informasi berupa penjelasan-penjelasan terkait UU no 5 tahun 1990 tentang; perlindungan terhadap satwa dilindungi dan keanekaragaman hayati.

Pada malam harinya, kami melakukan kampanye lingkungan dan di siang harinya kami diajak untuk bertemu dengan Kepala desa untuk berbagi informasi tentang lingkungan dan beberapa potensi yang ada di masyarakat mereka. Widodo, Kadus Desa Penjalaan mengatakan; masyarakat di desanya menginginkan untuk dirangkul terkait beberapa potensi hutan yang ada, Hutan Penyekam namanya, yang luasnyasekitar 2000 hektare yang sangat berpotensi terlebih khusus pengelolaan yang bijaksana tanpa merusak hutannya.

Lebih lanjut Widodo menginginkan kelak, desa di dusun mereka bisa dijadikan hutan desa. Seperti di ketahui juga dari cerita Kasdio, salah seorang perangkat desa menuturkan, di Desa penjalaan memiliki potensi kerajinan anyam-anyaman berupa tikar, lekar dan bakul dari bahan yang mereka gunakan adalah nipah. Desa penjalaan yang mayoritas Melayu 80%, Jawa 15 % dan sisanya Tionghoa dan Dayak. Sebanyak, 2586 jiwa/675 KK mendiami wilayah tersebut. Saat ini, di desa Penjalaan selalu direpotkan dengan masalah kebakaran lahan yang menurut cerita beberapa masyarakat dari tahun ke tahun terus terjadi.

Sedangkan di Desa Padu Banjar seperti diketahui merupakakan wilayah yang memiliki gambut dalam yang mana terdapat habitat hidup orangutan. Seperti penuturan Sunardi, selaku kepala desa mengatakan, di areal tersebut terdapat APL (Area Penggunaan Lain) dan sebagian besar masyarakat di desanya adalah petani.Tidak kurang 3500 jiwa/990 KK menempati wilayah tersebut. Ada hal yang menarik, menurut cerita Kadus, Masyarakat secara khusus menyiapkan tradisi setiap selesai panen dengan mengadakan acara Ngemping dan potong kambing saat musim panen tiba. Ritual tersebut masih ada sampai saat ini dan masih tetap dilaksanakan oleh masyarakat secara bersama sebagai wujud syukur kepada pencipta, imbuhnya lagi.

Dari dua desa yang kami kunjungi tersebut, kami mendapatkan sambutan baik, bahkan Kepala desa dan beberapa masyarakat menginginkan desa mereka untuk didampingi termasuk di selolah mereka.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved