Editorial

Perhatikan Nasib Pedagang

Pasar Dahlia di kawasan Sungai Jawi di lantai dasar, pembeli memang cukup ramai.

Perhatikan Nasib Pedagang
Dhita
Aktivitas pedagang di Pasar Flamboyan, Senin (13/1/2014) 

BILA keluhan yang disampaikan sebagian pedagang pasar tradisional yang sudah direhab benar adanya, bahwa pascapasar direhab, pendapatan mereka mahal menurun seperti dilaporkan dalam liputan khusus koran ini, ini tentu harus menjadi perhatian pemerintah daerah Kota Pontianak. Perlu dicarikan akar permasalahannya dan solusi yang bisa menolong mereka.

Seperti diberitakan koran ini, Pemkot Pontianak berhasil merehabilitasi setidaknya enam pasar tradisional. Antara lain, Pasar Teratai, Mawar, Dahlia, Kemuning, Pasar Turi dan terakhir Pasar Flamboyan.

Namun dalam perjalanannya, bangunan pasar, kecuali Flamboyan terkesan mubazir manakala sebagian ruko di dalamnya, terutama di lantai dua dan tiga kosong. Ruko di lantai dasar Pasar Flamboyan yang menghadap ke jalan hingga kini juga masih terlihat tutup. Menurut beberapa pedagang, ruko tersebut belum laku, karena harganya terlalu mahal.

Sejumlah pedagang di Pasar Flamboyan, Kemuning, dan Pasar Dahlia yang ditemui Tribun mengakui, memang kondisi pasar sekarang lebih bagus, bersih dan tertata. Namun mereka mengeluh, karena omzet penjualannya justru menurun dibanding hasil waktu berjualan di pasar lama (sebelum direhab).

Pasar Dahlia di kawasan Sungai Jawi di lantai dasar, pembeli memang cukup ramai. Jenis dagang yang diperdagangkan juga lengkap, mulai dari los pasar sembako, pasar sayur, pasar ikan, daging serta los penjual ikan. Namun begitu naik lantai dua yang menjual tas, pakaian, dan sepatu tampak sepi pembeli.

Hanya sedikit los atau kios yang buka. Banyak los atau kios di lantai 2 yang kosong dan kondisi kotor, tidak terurus. Bahkan banyak kios yang sudah tanpa penutup rolling door, karena dicuri. Menurut Samsudin (50), penjaga di Pasar Dahlia Pasar Dahlia, terjadi kesalahan pada pembangunannya. Ukuran ruko yang berada di atas sangat kecil dibanding yang dimiliki pedagang sebelum pasar direhab, sehingga menyulitkan pedagang. Karena itulah banyak pedagang yang enggan memakai ruko yang berada di atas. Kondisi lantai dua yang sepi dan tak terurus juga terlihat di Pasar Puring dan Pasar Kemuning.

Menanggapi keluhan pedagang tersebut, Walikota Pontianak, Sutarmidji menuturkan pembangunan pasar tradisional di Kota Pontianak pada dasarnya dilakukan bukan hanya untuk kebutuhan aktifitas perdagangan sekarang, namun juga untuk beberapa tahun ke depan, mengingat pertumbuhan kota yang semakin berkembang.

Kapasitas yang lebih besar juga dimaksudkan agar dapat menampung PKL-PKL ataupun PKL yang terkena penertiban oleh pemerintah. Bahkan dalam beberapa kesempatan PKL yang terkena penertiban juga ditawarkan untuk pindah ke lokasi pasar yang belum terisi. Untuk memudahkan pedagang, di beberapa pasar retribusi juga belum ditarik.

Midji juga menyadari, lantai dua beberapa pasar yang sudah direhab kondisinya memang sepi. Karena itu untuk solusinya, ke depan PKL kaset yang berada di depan Pasar Kemuning akan dipindah ke bagian lantai dua pasar. Sementara untuk Pasar Dahlia, di lantai dua yang minim pengunjung akan ditempatkan lokasi pembayaran seperti PDAM, listrik hingga Pajak Bumi dan Bangunan.

Untuk solusi lainnya, menarik usulan yang disampaikan Ketua Komisi C DPRD Kota Pontianak, HM Syafiun layak ditindaklanjuti, yakni meminta agen-agen di beberapa lokasi pasar tradisional sebaiknya dinaikkan ke lantai dua, sementara pengecer berada di lantai bawah. Sehingga pengecer jika kehabisan barang tetap naik ke lantai dua.

Kita mendukung sepenuhnya dan mengucapkan terima kasih kepada Pemko Pontianak yang telah berhasil merehab beberapa pasar tradisional sehingga pasar tampil modern dan bersih. Namun para pedagang yang kerap mengeluhkan mahalnya harga jual kios setelah pasar direnovasi, serta kondisi los dan kios di lantai dua yang terkesan mubazir perlu menjadi perhatian Pemko. Misalnya dengan mengundang para pedagang duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved