Editorial

Menguji Ulang Psikologi Polisi

Dengan melaksanakan itu secara konsisten, mudah-mudahan kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Menguji Ulang Psikologi Polisi
Ilustrasi

PENEMBAKAN terhadap Kepala Pelayanan Markas (Ka Yanma) Polda Metro Jaya, AKBP Pamudji pada Selasa (18/3) malam oleh anak buahnya sendiri, Brigader Susanto tak bisa dipandang sepele. Apalagi ini adalah kasus yang kesekian kalinya di lingkungan Polri sesama polisi saling tembak maupun bawahan menembak atasannya.

Sebelumnya, seperti dilansir Kompas (20/3), pada 15 Februari 2014, Brigader Lasmidi terluka tembak dalam baku tembak dengan tiga polisi di Jl Gatot Subroto, Kota Tangerang. 6 April 2013, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Sulsel, Kombes dr Purwadi terluka akiabt ditembak Briptu Briptu Satu Ishak di ruang kerjanya.

Pada 26 Januari 2012 Bripda FHB tewas ditembak Bripda HB di rumah kontrakannnya. Keduanya adalah anggota Direktorat Polisi Perairan Tanjung Priok. 22 September Kasi Propram Polres Manggarai Barat, NTT Aiptu Jacob Temaluru menembak rekannya, Aipti Putu Artha, di Labuan Baji. 14 Maret 2007 Wakapolwiltabes Semarang AKPB Lilik Purwanto tewas ditembak bawahannya, Briptu Hance Christijanto, di ruang kerjanya.

Dalam kasus penembakan AKBP Pamudji, sebelumnya Susanto sempat membuat alibi bahwa kematian atasannya itu bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri.

Penembakan terjadi setelah korban menegur Brigader Susanto yang tak mengenakan pakaian dinas lengkap. Tubuh korban tergeletak di ruang piket Yanma dengan luka tembak di kening. Susanto punya alibi saat penembakan ia berada di luar ruangan.

Namun hasil visum terhadap Pamudji menunjukkan tubuhnya bersih. Sebaliknya di tangan dan badan Brigadir Susanto justru ditemukan jelaga bekas mesiu dan bercak darah korban. Walhasil, tak sampai 24 jam, Brigadir Susanto langsung ditetapkan sebagai tersangka pelaku penembakan yang menewaskan atasannya. Ia pun terancam hukuman 15 tahun penjara.

Bagi Polri kasus yang penyebabnya sangat sepele, Brigader Susanto marah dan tak terkontrol emosinya karena ditegur atasannya, AKBP Pamudji disebabkan tidak memakai pakaian dinas di kantor merupakan hal yang sangat serius. Ini membuktikan bahwa komunikasi di internal Polri ada masalah dan perlu sungguh-sungguh dibenahi sampai ke akar masalahnya.

Kita mendukung Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman yang telah memerintahkan agar dilakukan uji ulang secara psikologis dan teknis terhadap petugas polisi yang memegang senjata. Bila perlu diperbanyak coaching psikologi dan kelas manajemen stress untuk level perwira menengah (pamen) ke bawah sampai bintara.

Kebanyakan pamen sudah tenang kejiwaannya sehingga bisa menghadapi masalah stress, terlihat dari aura wajah mereka rata-rata tenang seperti level Kapolres ke atas. Belajar dari lima insiden penembakan tersebut menunjukkan semuanya dilakukan oleh polisi yang masih berpangkat Bintara, yakni dari Brigader sampai Aiptu. Karena itu prioritas utama coaching psikologis sebaiknya ditujukan untuk bintara.

Ada baiknya tes psikologi bagi pemegang senjata benar-benar dilaksanakan secara berkala. Mereka yg tidak lulus jangan sekali-kali dibekali senjata api. Ini penting, untuk kemajuan dan kebaikan Polri. Jadi terhadap polisi yang gampang marah dan emosi, jangan dikasih senjata, sebab berbahaya. Marah yang berlebihan membuat pelaku susah berfikir benar sehingga memicu munculnya perilaku agresif menggunakan senjata. Terhadap anggota-anggota yang bermasalah seharusnya diberi sanksi tegas, daripada mereka menjadi sumber masalah yg merusak Institusi.

Kemudian untuk menimbulkan efek jera agar kejadian yang sama tidak terulang, pelaku penembakan harus dihukum seberat- beratnya termasuk pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH). Dengan melaksanakan itu secara konsisten, mudah-mudahan kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Namun yang tak kalah pentingnya dikerjakan oleh Polri adalah saat seleksi awal ketika masuk menjadi onggota Polri. Harus diperhatikan bibit, bebet, dan bobotnya. Prosesnya dilakukan secara obyektif, fair, dan transparan. Hal tersebut sangat penting. Dengan seleksi yang ketat, orang-orang yang terpilih diyakini orang berkualitas, perilakunya lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Semoga. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved