Editorial

Pelajaran Berharga Kabut Asap Riau

Di luar hanya muncul asap, namun di dalam api menyala dan menjalar kemana-mana..

Pelajaran Berharga Kabut Asap Riau
TRIBUN PONTIANAK/GALIH NOFRIO NANDA
Kabut Asap 

SUDAH dua bulan lebih warga Riau bertahan dalam bekapan asap dari kebakaran hutan dan lahan. Warga Riau dipaksa bertahan hidup dalam perihnya asap dan sesaknya udara yang beracun. Mereka juga terjebak disana karena bandara hampir lumpuh. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, 49.591 orang di wilayah Riau menderita penyakit karena asap seperti ISPA, pneumonia, iritasi mata, asma, dan kulit.

Bencana kabut asap itu mencapai puncaknya dalam sepekan terakhir ini, menyebar hingga provinsi tetangga, Sumatera Barat, Jambi dan Sumatera Selatan. Berdasarkan data, hinggu Jumat (14/3) sebanyak 12 dari 13 alat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tersebar di sejumlah titik di kota Pekanbaru menunjukkan status berbahaya.

Kabut asap yang sangat tebal, dengan jarak pandang hanya puluhan meter di Pekanbaru dan sekitarnya membuat Bumi Lancang Kuning laksana sauna raksasa. Mereka terkena imbas dari perbuatan yang dengan sengaja dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Seperti dikutip Kompas, api membakar habis hutan produksi atau hutan konservasi seluas 13.000 hektare atau seluas 130 kilometer persegi. Kebakaran sudah masif, apalagi terjadi di hutan jenis gambut. Kebakaran gambut ibarat api dalam sekam. Di luar hanya muncul asap, namun di dalam api menyala dan menjalar kemana-mana..

Jika dirunut ke belakang, bencana kabut asap seperti itu, bukan sekali ini saja terjadi. Sejak kurun 17 tahun terakhir, hampir setiap tahun kabut asap menerpa wilayah tersebut. Hal ini menunjukkan pemerintah, terutama pemerintah setempat seakan-akan tidak pernah mau belajar dari masalah yang sudah terjadi setiap tahun.

Misalnya, akhir Januari silam, media di Riau sudah mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi kebakaran lahan, seperti tahun sebelumnya. Sayang pemberitaan itu dianggap angin lalu. Nyaris tak ada tindakan dari aparat setempat bagi pembakar lahan selagi api masih kecil. Kepekaan pejabat setempat terhadap musibah kabut asap sangat minim.

Ini bisa dilihat dari pernyataan Gubernur Riau Annas Maamun yang terkesan pesimis dengan keadaan kabut asap Riau saat ini. "Macam mana lagi. Segala upaya sudah dikerahkan, tapi api tak padam-padam. Serahkan semua pada Allah Yang Maha Kuasa," kata Annas Maamun enteng kepada wartawan, saat pulang kampung ke Bagansiapiapi, Kamis (13/3).

Bila dicermati, bencana kabut asap di Riau saat ini lebih dikarenakan prilaku yang merasa tidak pernah bersalah dari apa yang dikerjakannya. Peristiwa yang terjadi sebelumnya tidak membuat mereka jera, karena tiadanya pemberian sanksi hukum yang maksimal pada pelaku pembakaran lahan yang sebenarnya merupakan kejahatan lingkungan dan kemanusiaan.

Sehingga oknum-oknum tak bertanggungjawab makin leluasa melakukan pembakaran, termasuk merambah cagar biosfer Giam Siak Kecil untuk perluasan pembukaan lahan perkebunan sawit. Jadi bisa dipastikan tahun-tahun ke depan hal yang sama akan terjadi dengan kadar yang bisa jadi lebih berbahaya.

Kita berharap, bencana ekologi yang terjadi di Riau saat ini hendaknya bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, khususnya masyarakat dan para stake holder dan pemerintah daerah Provinsi Kalbar dan Pemda Kabupaten di Kalbar. Bahwa ternyata ulah pembakaran lahan yang selama ini dibiarkan, akhirnya membawa petaka yang begitu besar bagi masyarakat. Jangan sampai tragedi yang terjadi di Riau menimpa Kalbar yang kita cintai.

Terkait ini, kita mendukung Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang mendesak para pimpinan nasional yang akan terpilih melalui pemilihan umum (Pemilu) 2014 harus kuat memiliki agenda politik lingkungan hidupnya. Hal lain yang harus dilakukan calon pimpinan nasional mendatang, yakni membentuk pengadilan lingkungan hidup untuk memastikan penjahat lingkungan bertanggungjawab atas praktek buruk mereka dalam berinvestasi yang telah merusak lingkungan hidup dan merampas sumber-sumber kehidupan masyarakat. (Tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved