Editorial

Jokowi, Sang Capres Paling Fenomenal

Faktanya, pencapresan Jokowi itu malah diumumkan lebih awal.

Jokowi, Sang Capres Paling Fenomenal
KOMPAS.COM
Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. 

PDI Perjuangan akhirnya secara resmi menunjuk Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi sebagai capres Indonesia dari PDIP. Penobatan Jokowi jadi capres disampaikan oleh Ketua Bapilu PDIP Puan Maharani yang membacakan Surat Perintah Harian Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri soal pencapresan Jokowi, di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (14/3/2014).

Pengumuman DPP PDIP itu menjadi klimaks dari pencapresan Jokowi selama ini.dan memberikan kepastian, setelah sebelumnya terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sinyal Jokowi mendapat kepercayaan dari partai berlambang banteng moncong putih itu menjadi capres PDIP sebenarnya sudah berhembus kencang sepekan lalu.

Senin (3/3) lalu, orang nomor satu di DKI Jakarta itu ketika didesak wartawan apakah sudah tahu kalau bakal dicapreskan PDIP sempat keceplosan menjawab, "Sudah, eh...belum-belum." Bahkan seperti diberitakan koran ini (4/3), Megawati bukan sekadar memberikan lampu hijau bagi Jokowi untuk berlaga dalam Pilpres 2014, tetapi juga berjanji akan mengumumkan pencapresan Jokowi sebelum pemilu legislatif 9 April.

Faktanya, pencapresan Jokowi itu malah diumumkan lebih awal. Momentum mengumumkan capres Jokowi sebelum masa kampanye terbuka yang akan dimulai 16 Maret itu dinilai bijak dan tepat. Mengingat mayoritas pendukung PDIP menginginkan deklarasi pencapresan dilaksanakan sebelum pileg. Dan perlu diingat, tidak semua pendukung Jokowi simpatisan PDIP. Sehingga keputusan mengumumkan Jokowi sebagai capres tidak menjadi seperti 'membeli kucing dalam karung'. 

Selain itu akan lebih mempersatukan dua kubu di dalam PDIP, yaitu: kubu Projo (Pro Jokowi) dan kubu Promeg (Pro Mega), yang selama ini terjadi tarik-menarik untuk mencalonkan Jokowi atau Megawati sebagai Capres PDIP. Di kalangan pemilih PDIP sendiri, prosentase pemilih Jokowi lebih solid daripada Megawati. Jika yang jadi capres adalah Jokowi, maka 76,8 persen pemilih PDIP memilih Jokowi. Sementara Megawati hanya 46,4 persen.

Meski banyak lembaga survei yang menyatakan peluang mantan Wali Kota Solo ini sangat besar menjadi capres, beberapa pengamat politik memperingatkan bahwa pencapresan Jokowi akan menimbulkan konflik antara kebutuhan rakyat versus kepentingan politik pragmatis. Selain itu, deklarasi Jokowi sebagai capres akan memancing serangan politik, bukan hanya kepada PDIP tetapi juga kepada Gubernur DKI Jakarta itu.

Namun menurut pengamat politik senior dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, keberadaan Jokowi menjadi Presiden RI pada tahun 2014, tak lagi dilihat sebagai sudah waktunya bagi pria kelahiran Solo itu, agar mengembangkan sayapnya ke istana. Melainkan, sudah dilihat sebagai sebuah kebutuhan warga Indonesia atas sosok pemimpin yang baru, transparan dan merakyat.

Saat ini, kata Arbi seperti dilansir Beritasatu.com, Minggu (29/12/2013), faktor keperluan terhadap sosok pemimpin yang baru dan merakyat paling berperan. Dari satu tahun kepemimpinannya di Jakarta, cara peraih penghargaan Bung Hatta Anti-Corruption Award 2010 ini dalam menjalankan kekuasaannya dikenal sangat santun, dekat pada rakyat, apa adanya, sederhana, transparan dan lebih terbuka kepada warga yang membutuhkan pertolongannya.

Cara-cara dia melakukan kekuasaannya itu telah menjadi kebutuhan rakyat Indonesia.
Lepas dari segala kelemahan dan kelebihan yang dimiliki Jokowi dan strategi PDIP mengumumkan lebih dini Jokowi sebagai capres PDIP, Jokowi merupakan tokoh paling fenomenal dalam dua tahun ini. Mantan Wali Kota Solo ini memenangi pilgub DKI tanpa KTP Jakarta,merajai hampir semua survei survei capres terfavorit berdasarkan tingkat elektabilitas, menjadi salah satu yang paling banyak ditonton menurut data YouTube Asia Pasifik.

Bila merunut pada hasil survei Indobarometer, dan beberapa lembaga survei lainnya Jokowi sebagai capres PDIP diperkirakan akan selalu memenangkan pertarungan di pilpres mendatang melawan siapa pun bakal capres partai lainnya. Wallahu 'alam. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved