Editorial

Ketika Polisi Terlibat Narkoba

Dari empat tersangka narkoba, dua di antaranya anggota.

Ketika Polisi Terlibat Narkoba
Antara
Sabu-sabu

ANGGOTA Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar, Bripka TN, diburu rekan-rekannya sesama anggota polisi. Ia diduga terlibat dalam kasus kepemilikan sabu dengan tersangka BS (31), yang ditangkap di Jl Husein Hamzah Pontianak.

Kendati dalam proses penyelidikan, namun dugaan keterlibatan anggota polisi dalam kasus narkoba, kian menambah panjang daftar kasus serupa. Kasus terakhir terjadi di Polres Ketapang, 17 Januari 2014.

Dari empat tersangka narkoba, dua di antaranya anggota. Mereka adalah Bripda BS yang kemudian diketahui sebagai pengguna, dan Bripka S yang diduga sebagai pemasok kepada dua tersangka lainnya, HS dan IS.

Dari rumah Bripka S di Jl S Parman, diperleh barang bukti 2 paket sabu seberat 2,4 gram, 5 korek api, 1 bong, pipet, plastik klip, dan timbangan. Pada, 12 September 2013, angota polisi berinisil IN, ditangkap bersama mantan perwira Polda Kalbar, Iwan Rachmanto, juga dalam kasus narkoba dan senjata api.

Sementara pada 4 Desember 2012, seorang perwira yang bertugas di Polda Kalbar, positif memakai narkoba saat tes urine yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalbar. Urinenya positif mengandung amphetamine, yang biasanya terkandung dalam ekstasi atau morfin.

Bukan tanpa tindakan. Polda Kalbar bertindak tegas kepada anggotanya yang terbukti terlibat kejahatan narkotiba. Pada 17 Oktober 2013, tiga polisi yang bertugas di Polda Kalbar, dua di antaranya perwira menengah (Pamen), dinonaktifkan dari jabatannya karena terindikasi menggunakan narkoba.

Kedua perwira menengah itu adalah pejabat di Direktorat Sabhara Polda Kalbar, Ajun Komisaris Besar P dan Komisaris Y, sementara satu lainnya adalah Bpritu S yang bertugas di Direktorat Reserse Narkoba.

Pada 2012, Polda Kalbar memecat delapan polisi nakal. Satu di antaranya terbukti terlibat dalam kasus narkoba. Tindakan serupa juga dilakukan pada 2011, di mana sebanyak 15 angota Polda Kalbar dipecat karena terkait tindak pidana.

Tiga di antaranya, dipecat karena terkait kasus narkoba. Sedangkan pada 2010, sebanyak enam personel Polda Kalbar dipecat, satu di antaranya terbukti melanggar hukum dalam kasus narkoba. melihat data-data dan fakta di atas, keterlibatan oknum anggota polisi di jajaran Polda Kalbar, bukan kasus baru.

Dalam empat tahun terakhir, hampir setiap tahun, selalu ada kasus narkoba yang menjerat personel Polda Kalbar. Sudah begitu, tindakan tegas yang diambil Polda Kalbar dengan opsi pemecatan, ternyata juga tidak membuat gentar anggota.

Masih saja ada yang mencoba-coba masuk ke dalam lingkaran barang haram tersebut. Ancaman pemecatan, tak membuat efek jera. Berkaca dari kasus-kasus tersebut, sejatinya, Polda Kalbar lebih meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat pengawasan internal.

Upaya menelisik oknum-oknum anggota yang bermain-main dengan narkoba, harus menjadi atensi Kapolda Kalbar. Kapolda Kalbar harus membersihkan institusinya, sehingga personelnya steril dari penyalahgunaan narkoba.

Upaya ini menjadi urgen karena sebagai institusi penegak hukum, kepolisian yang berada di garda terdepan, sejatinya bersih dan bermartabat dalam mengembah tugas. Tentu, upaya bersih-bersih internal kepolisian, juga harus mendapat dukungan penuh dari seluruh stake holder.

Terutama dari masyarakat, tokoh masyarakat, dan lembaga terkait seperti Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalbar.

Sebab, memberantas narkoba, semestinya menjadi atensi bersama. Tidak semata-mata menjadi tugas, beban, dan tanggungjawab kepolisian, dalam hal ini Polda Kalbar. Semua tentu berharap, kasus Briptu TN, menjadi kasus terakhir yang terjadi di jajaran Polda Kalbar. Semoga! (tribun cetak)

Penulis: Hasyim Ashari
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved