Editorial

Antisipasi Bencana Kekeringan

Kemarau tahun ini memang datang lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya

Antisipasi Bencana Kekeringan
TRIBUN PONTIANAK/MADROSID
PADI KERING - Anggota kelompok tani Sungai Pinyuh menunjukan padi yang dalam kondisi mengering, belum lama ini

Kemarau sudah melanda Kota Pontianak sejak beberapa bulan terakhir. Sebenarnya tak hanya Kota Pontianak, namun juga sebagian besar kawasan di Kalimantan Barat. Sejumlah kalangan menduga hal ini disebabkan karena climate change atau perubahan lingkungan.

Kemarau tahun ini memang datang lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya. Biasanya kemarau, disertai asap terjadi sekitar bulan Juni hingga awal September. Setelah bulan tersebut itu biasaya wilayah di Kalimantan Barat mulai memasuki musim penghujan. Namun saat ini musim kemarau terjadi lebih awal.

Masyarakat tak siap menghadapi perubahan cuaca yang tak menentu seperti ini. Kondisi lebih parah terjadi di Kota Pontianak, masyarakat kesusahan memperoleh air minum. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa hanya mampu menyalurkan air payau bahkan beberapa hari terakhir menyalurkan air asin.

Memang ada upaya Pemkot Pontianak menyalurkan air bersih dan air tawar melalui Booster Pramuka, namun itu tentu saja tak memadai. Bisa dibayangkan jika warga Pontianak berbondong- bondong antre untuk mendapatan air bersih di booster tersebut. Saat ini memang tak semua warga antre menggunakan jeriken, sebagian memilih tak menggunakan fasilitas itu karena tak ingin repot untuk antre.

Persoalan kekeringan, asap, serta dampak turunannya seperti mengganggu penerbangan, kesehatan, bahkan hubungan diplomatik bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa seperti ini sudah berulang. Meski demikian seakan tak ada solusi dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Tak pula kita mendengar ada perusahaan sawit yang dikenakan sanksi pidana karena melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar. Padahal sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang konsen terhadap persoalan lingkungan sudah berkoar-koar mengabarkan kondisi ini.

Kemarau yang panjang memang peristiwa alam. Meski demikian masyarakat juga harus disiapkan untuk mengantisipasi sejak dini agar bisa beradaptasi dengan situasi ini. Jika tidak disiapkan maka kondisi ini bisa membahayakan bagi masyarakat.

Pemerintah juga hendaknya memberikan edukasi terus-menerus terhadap masyarakat terutama menyangkut kesehatan. Masyarakat perlu tahu, bagaimana menjaga kesehatan saat musim kemarau seperti saat ini. Wabah penyakit akan memakan biaya besar jika tak diantisipasi. Kerugiannya tak hanya melulu soal materil, namun juga soal nonmateril.

Iklim global memang sedang berubah, pemanasan global menjadi kekhawatiran bersama masyarakat dunia. Perlu kebersamaan agar persoalan ini bisa diatasi bersama. Termasuk kesadaran untuk menjaga lingkungan baik oleh perorangan maupun korporasi hingga pemerintah. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved