Editorial

Ukraina-Rusia di Ambang Perang

Rusia tak mampu mengontrol negara yang pernah menyimpan sebagian besar senjata nuklir pada era Uni Soviet.

Ukraina, negara pecahan Uni Soviet di Eropa Tengah kini dilanda krisis yang sangat mendebarkan, setelah pemerintahan negeri ini yang pro Barat memobilisasi tentara untuk siap perang menyusul ancaman invasi besar-besaran Rusia ke wilayahnya.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengerahkan ribuan tentaranya ke perbatasan Rusia-Ukraina. 6.000 serdadu mulai dipindahkan ke Krimea, sebuah wilayah otonom Ukraina yang condong pada Rusia.

Pengerahan ribuan pasukan siap perang itu disetujui Parlemen Rusia akhir pekan lalu, menyusul penggulingan Presiden Viktor Yanukovych oleh kelompok oposisi pro Barat yang kini berkuasa di Ukraina beberapa hari sebelumnya. Justifikasinya, yaitu kebutuhan untuk melindungi warga Rusia, sama seperti yang Putin gunakan saat melancarkan invasi ke Georgia tahun 2008.

Yanukovych tumbang setelah sekitar 100 orang pendukung oposisi tewas dalam bentrokan di Kiev, ibukota Ukrania melawan pasukan pemerintah yang dikontrol Yanukovych.

Kekalahan Yanukovych ini seolah memperlihatkan keruntuhan Rusia di bekas negara federasi Uni Soviet. Rusia tak mampu mengontrol negara yang pernah menyimpan sebagian besar senjata nuklir pada era Uni Soviet.

Sekutu kuat Rusia yang menghalangi masuknya Ukrania ke Uni Eropa itu kini kabur ke kota Rostov, di Rusia. Bahkan Yanukovych tampil di hadapan wartawan di kota Rostov, Jumat (28/2) menolak pemecatannya dan menyatakan akan terus berjuang.

Langkah Rusia ini dikecam dunia. Perdana menteri baru Ukraina Arseniy Yatseniuk memperingatkan kemungkinan perang dengan Rusia dan menempatkan pasukannya dalam siaga tinggi serta meminta bantuan NATO. Presiden Ceko, Milos Zeman, menggambarkan krisis saat ini yang paling berbahaya di Eropa sejak invasi Uni Soviet ke Cekoslawakia tahun 1968.

Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama mengatakan, Amerika Serikat akan berdiri bersama komunitas internasional, untuk menjamin bahwa akan ada konsekuensi terhadap setiap intervensi yang terjadi di Ukraina.

Jika memang niat atau ambisi perang Vladimir Putin tak bisa dicegah, kita bisa membayangkan apa yang bakal terjadi. Kemungkinan peperangan tidak hanya soal politis, tetapi melebar ke soal etnis, mengingat Ukrania dibangun di atas dua etnis besar, penduduk suku asli Ukraina dan etnis Rusia yang secara genetik dan budaya berbeda.

Lantas apa dampak dan korelasinya dengan Indonesia? Secara langsung memang tidak ada, karena wilayah konfliknya yang sangat jauh dengan kita, di Eropa Tengah. Namun secara tidak langsung bertemunya dua kekuatan besar di medan perang pasti akan berdampak global, terutama ke perekonomian dunia yang tengah goyah.

Belum lagi perang, eskalasi ketegangan di Ukraina telah memicu sentimen buruk, harga minyak di pasar Asia langsung meroket. Seperti dikutip Antara Senin (3/3), Kontrak utama New York, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik 1,14 dolar AS menjadi 103,73 dolar AS, sedangkan minyak mentah Laut Utara Brent untuk pengapalan April melonjak 1,62 dolar AS menjadi 110,69 dolar AS.

Desmond Chua, analis pasar pada CMC Markets di Singapura, mengatakan Ukraina adalah bagian dari rantai suplai Brent sehingga perkembangan yang terjadi di negeri ini akan memicu pergerakan harga minyak dunia. Ukraina memang bukan produsen atau konsumen besar minyak, namun negeri ini menjadi transit untuk ekspor energi Rusia.

Dilansir kantor berita AFP, lebih dari 70 persen gas dan minyak Rusia mengalir ke Eropa melalui Ukraina. Sebaliknya, Eropa adalah pembeli 90 persen minyak ekspor Rusia,
Karena itu kita berharap perang Ukraina dan Rusia . Sebab bila sampai pecah perang di bekas negara federasi Uni Soviet tersebut, ini akan memicu konfrontasi terbesar antara Rusia dan Barat sejak Perang Dingin. (tribun cetak)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved