Warga Malaysia Permak Bidai Bengkayang Jadi Bidai Sarawak
Basiran mengatakan, modusnya adalah dengan menamai Bidai Seluas dengan nama Bidai Sarawak.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, BENGKAYANG - Warga Sarawak, Malaysia, mengklaim Tikar Bidai asal Seluas, Bengkayang, Kalbar, sebagai produk kerajinan tangan mereka. Namanya pun diubah menjadi Bidai Sarawak.
Khawatir kekayaan budaya dan tradisi Kalbar ini dicaplok negara tetangga, Ketua Komisi X DPR, Agus Hermanto, berjanji akan mendalaminya. Pihaknya akan menggelar rapat dengar pendapat dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Adalah Basiran (45), warga Dusun Sinargalih, Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, yang menyebut warga Sarawak mengklaim Bidai, yang merupakan kerajinan warga Seluas, diklaim warga Sarawak.
Basiran mengatakan, modusnya adalah dengan menamai Bidai Seluas dengan nama Bidai Sarawak.
"Mereka memborong Bidai yang dijual pedagang di perbatasan. Kalau sudah masuk Malaysia, mereka mengklaim menjadi Bidai Sarawak dengan terlebih dahulu memoles dan mengemas ulang," kata Basiran kepada Tribun, Senin (23/12/2013).
Seperti pernah diberitakan, bukan kali ini saja, Malaysia mengklaim kebudayaan dan tradisi yang dimiliki Indonesia. Wakil menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Windu Nuryanti, mencatat sejak 2007 hingga 2012, Malaysia sudah mengklaim tujuh budaya Indonesia, sebagai wairsan budaya mereka.
Pada November 2007, misalnya Malaysia mengklaim kesenian Reog Ponorogo, pada Desember 2008 klaim atas lagu Rasa Sayange dari Kepulauan Maluku. Lalu klaim batik pada Januari 2009.
Tari pendet yang jelas-jelas dari Bali juga diklaim Malaysia pada Agustus 2009 yang muncul dalam iklan pariwisata negeri jiran yang suka menyatakan diri sebagai The Truly Asia itu. Selanjutnya instrumen dan ansambel musik angklung pada Maret 2010.
Pangan kekayaan Indonesia juga diincar Malaysia, yaitu beras asli Nunukan, Kaltim, beras Adan Krayan.
Di Malaysia, beras organik bergizi tinggi itu dijual dengan merk Bario Rice. Lalu yang terbaru adalah klaim Malaysia atas tari Tor-tor dan Gondang Sambilan yang merupakan asli kesenian dari Sumatera Utara.
Bidai Dipoles di Sarawak
Basiran menuturkan Bidai asal Seluas, sangat diminati di Malaysia. Setelah tikar-tikar tersebut dipoles, dikemas lebih baik, dan dilabeli Bidai Sarawak, nilai jualnya melonjak tajam. Mereka yang awalnya membeli seharga 220 Ringgit Malaysia (RM) dari Seluas, dijual kembali menjadi 1.000 RM.
Tikar Bidai buatan tangan warga Dusun Sinargalih, Desa Seluas, memang sangat diminati warga Malaysia. Basiran mengaku dalam sepekan saja, bisa menghasilkan 17 hingga 18 helai Tikar Bidai.
Per helai tikar dihargai 220 RM, atau sekitar Rp 792 ribu. "Kalikan saja, dengan harga jual 220 RM dengan Rp 3.600, harga rupiahnya bisa Rp 792 ribu," ujarnya.
Ongkos peoduksi tikar dengan ukuran 2x3 meter sekitar Rp 230 ribu. Butuh waktu tiga hari pengerjaan dari mulai produksi hingga finishing. Tidak hanya dalam bentuk tikar, aneka kerajinan Bidai juga dipreoleh dalam bentuk lain. Tikar yang berasal dari kayu Kapuak ini, bisa dianyam juga menjadi taplak meja, sajadah, dan hiasan dinding.
Semua tergantung permintaan. Kadang motifnya juga disesuaikan dengan motif keinginan konsumen. "Kalau pemesanan tidak hanya dari Malaysia, tetapi juga pemesanan dari Pontianak dan luar Kalbar," kata Basiran.
Ketua Koperasi Hasil Benua ini mengaku memasok Tikar Bidai ke Malaysia menggunakan sepeda motor. Ia membawa 30 lembar Bidai ke perbatasan, Serikin, Malaysia, di titik nol antara Indonesia-Kalbar. "Langsung diambil pedagang di sana," ujarnya.
Padahal, sebenarnya, Basiran sangat ingin agar Bidai Seluas ditampung dan tidak dipasarkan ke Malaysia. Ia sudah menyampaikan persoalan ini ke Pemkab Bengkayang. Namun, tidak bisa dilakukan karena terbentur anggaran.
"Sudah sering diajukan ke pemerintah kabupaten, agar pemasaran tidak di Malaysia. Tetapi memang untuk sementara terkendala dana. Karena tidak mampu menampung kerajinan Seluas dan Jagoi Babang," paparnya.
Di balik menggiurkannya harga Tikar Bidai, Basiran dan pengrajin lainnya mengaku kini sulit menemukan bahan baku. Hal itu tidak terlepas dari kondisi hutan yang sudah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.
Tidak hanya itu, Basiran jug amenyebut sumber daya manusia, turut jadi kendala. Sebab banyak yang mulai enggan menganyam. Penduduk desa menurutnya, lebih memilih bekerja sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit. "Sekarang tinggal delapan pengrajin saja," imbuh Basiran.
Hak Paten
Menanggapi klaim warga Malaysia atas Tikar Bidai Seluas, Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bengkayang, berupaya agar Tikar Bidai menjadi hak paten masyarakat Bengkayang.
"Pemkab Bengkayang sudah berupaya menjaga agar Tikar Bidai menjadi hak paten Kabupaten Bengkayang. Menganyam Tikar Bidai ini, sudah turun temurun dari nenek moyang masyarakat," kata perwakilan dari Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bengkayang, Sudadi.
Peneliti Balai Kajian Sejarah Kalbar, Andre WP, menjelaskan kerajian Tikar Bidai berasal dari kebudayaan masyarakat Bidayuh yang terdapat di Indonesia dan Malaysia.
"Mereka ini sama bahasanya. Dalam perjalanannya, Malaysia tidak mengembangkan lagi, sementara di Indonesia, di Jagoi Babang, terus berkembang. Karena apa, karena secara bahan baku tersedia, kemampuan masyarakatnya juga sangat mendukung," kata Andre.
Dengan potensi tersebut, akhirnya secara alami Tikar Bidai asal Kalbar berkembang dan memenuhi kebutuhan pasar. Atas dasar mekanisme pasar, Tikar Bidai menjadi barang dagangan yang bernilai ekonomi.
"Tikar Bidai kemudian dijual ke Malaysia dengan masih ciri khas Bidayu, tapi masih dalam bentuk polos. Di Kuching dikemas ulang dijual ke India, Singapura, dan berbagai negara lainnya. belakangan, masyarakat Jagoi mencoba menambah motif atau memberikan gradasi warna," tutur Andre.
Ia menjelaskan Tikar Bidai kalbar sangat lokalistik. Dalam proses pembuatannya, di antaranya direndam dalam lumpur, direbus, dan menggunakan berbagai teknik alami.
"Jadi, dengan adanya klaim Malaysia seperti itu, kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu sudah mekanisme pasar, hanya, upaya kita adalah bagaimana hasil kerajian kita itu sebagai warisan tak benda," katanya.
Tikar Bidai saat ini sudah didaftarkan di Kemendikbud, melalui Dirjen Kebudayaan. Tikar Bidai diusulkan menjadi warisan budaya nasional bersama empat kearifan lokal asal Kalbar. Harapannya bisa cepat didaftarkan di UNESCO.
"Kasus ini, sama dengan Noken Papua, di mana Papua Nugini juga ada. Hanya menjadi penilaian nantinya adalah apakah kerajian tersebut mana yang lebih massif, mana yang bermanfaat, apakah masih banyak perajinnya, melihat ini jelas kita lebih unggul," kata Andre yakin.
Andre mengungkapkan klaim Tikar Bidai yang dilakukan Malaysia sudah diketahui Pemerintah Indonesia sejak lama. Sudah diketahui staff ahli presiden.
"Pemerintah Indonesia tahu, sudah dilaporkan sekitar 2010-2011, Staf Ahli Presiden sudah tahu waktu kunjungan ke sana. Tidak bisa ngapa-ngapain, karena itu sudah mekanisme pasar. Namun dengan tercatat di Unesco, maka salah satu kearifan lokal kita bisa dilestarikan dan dikenal sampai generasi ke depan," tegasnya.
Upaya Pembinaan
Menyusul klaim Malaysia ini, Ketua Komisi X DPR, Agus Hermanto, berjanji akan membawanya ke Kemendikbud. "Tentunya, kita akan melakukan raker atau dengar pendapat dengan Kemendikbnbud. Kan di sana ada Ditjen dan wakil menteri. Agar kita bisa mengetahui secara rinci yang telah terjadi," kata Agus.
Hal itu dilakukan karena sudah banyak kasus serupa yang melibatkan dua negara serumpun antara Indonesia dengan Malaysia. "Kalau kita diam saja, kan tidak bisa menyelesaikan masalah. Namun kalau kita melihat ini dengan terburu-buru dengan tidak melihat latar belakang, tentu kita juga salah," ujarnya.
Terlepas dari polemik saling klaim itu, sejatinya untuk melestarikan Tikar Bidai memang tak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata. Pihak ketiga, juga sejatinya punya andil atas kelangsungan budaya lokal Kalbar ini.
Seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI).
"Tikar Bidai merupakan salah satu potensi daerah yang memiliki nilai jual tinggi. Kearifan lokal yang patut dikembangkan. Makanya, kita sangat konsisten membantu, membina masyarakat Bengkayang dalam pengembangannya," kata Konsultan UMKM BI Perwakilan Kalbar, Hatta Siswa Mayahya.
Ia mengatakan dalam pengembangan dan pembinaan UMKM, BI memiliki program khusus yang memang benar-benar fokus untuk hal ini. Di antaranya, Inkubator Bisnis yang bekerjasama dengan Lembaga Swabina Mitra dan pendampingan langsung kepada UKM dan Koperasi yang ada di daerah.
"Seperti yang kita lakukan di Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang ini, kita mencoba untuk melakukan pembinaan aktif kepada masyarakat pengrajin Tikar Bidai. Kita mencoba membantu proses pemasaran, maupun pengenalan produk kepada pasar luas, melalui berbagai pameran," paparnya.
Hatta menjelaskan, selama ini, pengrajin Bidai menjual hasil karya mereka ke Malaysia karena permintaan pasar di sana sangat tinggi. Tentu saja juga karena kondisi geografis Seluas yang berdekatan dengan Sarawak.
"Bentuk pembinaan yang kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada pengrajin Bidai secara rutin, agar mereka terus berinovasi dan mengembangkan kerajinan mereka," ujar Hatta. (tribuncetak/yun/rhd/okezone.com)