Editorial

Pemilukada Cermin Masyarakat Kalbar

Sejatinya, masing-masing pasangan calon sudah bisa mengetahui berapa perolehan suara ril tanpa menunggu pleno KPU.

Pemilukada Cermin Masyarakat Kalbar
net
Ilustrasi

PERHELATAN pesta demokrasi di Kota Pontianak, Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, dan Sanggau, belum selesai. Masih ada tahapan lain, menunggu pleno di tingkat kecamatan hingga kabupaten/kota.

Memang, pencoblosan sudah dilakukan, Kamis (19/9) kemarin. Namun, Komisi Pemilihan Umum (KPU) masing-masing baru akan menggelar rapat pleno penghitungan suara pada, Selasa (24/9) mendatang.

Meski begitu, dari perhitungan suara sementara yang dihimpun Tribun dari Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), bisa diketahui siapa yang unggul di masing-masing daerah. Sutarmidji misalnya, unggul sementara atas lima pasang Calon Wali Kota (Cawako) Pontianak lainnya.

Begitu juga dengan Ria Norsan yang unggul sementara di Pemilukada Kabupaten Pontianak, dan Paolus Hadi di Sanggau. Sementara di Kubu Raya, Rusman Ali dan Muda Mahendrawan berlangsung ketat.

Sejatinya, masing-masing pasangan calon sudah bisa mengetahui berapa perolehan suara ril tanpa menunggu pleno KPU. Sebab, mereka mengantongi formulir C1 dan punya saksi di masing- masing tempat pemungutan suara (TPS).

Kecanggihan teknologi, seperti penggunaan pesan singkat (SMS) via handphone, membuat hasil penghitungan suara bisa diketahui sesaat setelah surat suara dihitung di tingkat Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).

Wajar kelau kemudian, banyak klaim tentang siapa yang menang dan kalah. Kendati data-data sementara itu sudah kadong menyebar di masyarakat, tentu saja, semua pihak harus menghormati tahapan Pemilukada yang sudah ditetapkan KPU.

Dalam hal ini, kepastian siapa yang menang dan kalah, baru akan diketahui 24 September nanti. Sambil menunggu proses tersebut, sejatinya semua pihak menahan diri. Kita patut bersyukur, pelaksanaan Pemilukada serentak di empat kabupaten/kota di Kalbar ini, berlangsung dalam situasi aman dan damai.

Kondusivitas Kalbar pun, tetap terjaga dan terpelihara. Patut diapresiasi sikap arif dan bijaksana, para pasangan calon kepala daerah, yang mengedepankan kepentingan bersama. Begitu juga dengan penyelenggara pemilu dan aparat keamanan yang terus mengawal jalannya pesta demokrasi lima tahunan ini.

Tak terkecuali, segenap masyarakat Kalbar, khususnya di empat kabupaten/kota, yang telah menunjukkan kedewasaannya dalam berpolitik. Ini menjadi modal berharga bagi keberlangsungan pembangunan Kalbar.

Tentu saja, di luar itu, jika ada yang tidak puas dengan hasil pemilukada pasca pleno, ada upaya lain sesuai ketentuan. Ada Mahkamah Konstitusi (MK) yang menjadi wadah penyelesaian sengketa Pemilukada.

Kita berharap tidak ada cara-cara anarki yang bisa merusak dan mencederai tatanan demokrasi kita. Cukuplah konflik horisontal yang dipicu sengketa Pemilukada, terjadi di daerah lain. Jadikan itu tamsil, ambil hikmah, bahwa Kalbar bisa jauh lebih baik.

Bahwa Pemilukada di Kalbar bisa menjadi contoh daerah lain di Tanah Air. Sikap saling menghargai dan menghormati ini, tentu tidak lahir dengan sendirinya. Masyarakat butuh panutan dan tauladan. Sejatinya, para calon kepala daerah, memberikan contoh.

Yang menang tidak besar kepala, yang kalah menerima dengan lapang dada. Sebab hakikatnya, Pemilukada adalah untuk semua. Begitu selesai, semua harus kembali bergandengan tangan. Membangun daerah seusai keahlian masing-masing untuk tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved