Editorial

Sanksi Berat Polisi Terlibat Narkoba

Barang bukti berupa satu klip plastik transparan berisi serbuk diduga sabu-sabu dibalut dengan plastik hitam

Sanksi Berat Polisi Terlibat Narkoba
Net
Sabu-sabu

JAJARAN Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Barat menangkap mantan anggota Polda Kalbar, berinisial IR di sebuah rumah kos jalan Panglima Aim Gang Seruni Indah I Pontianak Timur. Saat dilakukan penggerebekan di rumah kosnya, Kamis (12/9/2013), selain ditemukan sejumlah barang bukti narkoba, ia sedang bersama dua wanita berinisial KN dan AN. 

Barang bukti berupa satu klip plastik transparan berisi serbuk diduga sabu-sabu dibalut dengan plastik hitam. Polisi juga menemukan alat-alat lainnya berupa bong dari botol minuman penyegar, tiga buah korek api gas, gunting, tiga pipet terbuat dari kaca, dua pipet diruncingkan dan satu senjata api rakitan beserta lima amunisi.

Yang mengejutkan, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap IR, seperti diungkap Kapolda Kalbar Brigjen Pol Tugas Dwi Apriyanto yang hari (15/9) ini akan melakukan serahterima jabatan kepada Kapolda Baru Brigjen Pol Arie Sulistyo, ada indikasi oknum polisi dan perwira yang dalam peredaran narkoba tersebut. Polisi bahkan juga mengamankan oknum anggota aktif berinisial IN.

Kita berharap Kapolda baru serius mengusut tuntas dugaan keterlibatan oknum polisi dan perwira di jajaran Polda dalam kasus narkoba tersebut. Sebab, peredaran narkoba di Kalbar selama ini cukup memprihatinkan. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, Kalbar sering menjadi pintu masuk barang haram itu dari negeri jiran.

Seperti dilakukan oleh Junaidi, PNS kantor Bea Cukai Entikong yang menjadi kurir aksi penyelundupan 28 Kg sabu-sabu senilai Rp 56 milliar dari Kuching ke Pontianak melalui Entikong November 2012. Atas perbuatannya itu, oleh Pengadilan Negeri (PN) Pontianak, Kamis (12/9/2013), Junaidi divonis penjara seumur hidup.

Kita prihatin, polisi yang seharusnya menjadi bagian pemberantas narkoba, namun akhir-akhir ini di sejumlah polisi di berbagai daerah justru terlibat dalam kasus narkoba. Sebagaimana terungkap di media massa, sejumlah polisi ditangkap karena diduga kedapatan memakai narkoba, bahkan ikut mengedarkannya.

Adanya polisi yang terlibat kasus narkoba, walau itu dikatakan oknum, akan mengakibatkan kepercayaan polisi di mata masyarakat bisa menurun. Apalagi yang terlibat tidak hanya para bintara tapi juga para perwira lulusan Akademi Polisi yang notabenenya adalah calon pimpinan Polri di masa mendatang. Masyarakat berpikir, siapa lagi yang bisa dipercaya jika polisi sebagai penegak hukum juga melakukan hal yang tidak mencerminkan prilaku sadar hukum.

Sejumlah kalangan menilai meningkatnya penggunaan narkoba di lingkungan kepolisian, karena polisi yang terjerat narkoba hanya dihukum ringan. Karena itulah, untuk memberikan efek jera, pimpinan Polri harus bertindak tegas kepada setiap oknum yang terlibat dalam penyalagunaan narkoba.

Langkah konkretnya dengan memberi sanksi berat sampai pemecatan, selain sanksi penundaan kenaikan pangkat, dimutasi ke wilayah lain, dan juga tentu sesuai aturan yang ada, misalnya juga telah melewati sidang kode etik polisi, hukum peradilan dan lainnya.
Untuk ancaman hukumnya dalam proses di peradilan sebaiknya ditambah. Sebagai pihak keamanan, ada dalam pelaksanaan hukuman pada penegak keamanan, salah satu pasalnya mengatakan akan ditambah sebanyak 1/3 dari masa tuntutan umum.

Jadi, misalnya tuntutan bagi pengguna narkoba itu enam tahun, maka akan ditambah sepertiga dari masa tuntutan yakni menjadi delapan tahun. Hal ini mesti diterapkan agar memiliki efek jera bagi aparat penegak hukum.

Tak kalah pentingnya adalah tindakan pencegahan dengan meningkatkan kedisiplinan aparat penegak hukum. Sebab pencegahan yang dilakukan pasti jauh lebih baik daripada menindaki. Dalam hal ini pihak kepolisian bisa bekerjasama dengan pihak lain, misalnya pemerintah, Badan Narkotika Nasional (BNN).

Selain itu memperbanyak sosialisasi ke masyarakat, terutama kalangan generasi muda akan bahaya narkoba. Sosialisasi yang dilakukan bisa di kampus-kampus, sekolah menengah dan masyarakat umum. Sebab polisi bukan pemadam kebakaran, yang baru bertinak setelah ada kasus. Kita juga menginginkan masyarakat dapat bekerjasama, sebab tugas pencegahan narkoba bukan tugas polisi semata namun secara umum adalah tugas kita, sebagai warga masyarakat. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved