Editorial

Asa untuk Oegroseno

Apalagi di angkatannya, Oegroseno cukup menonjol karena berbagai prestasinya dan sangat diperhitungkan.

Asa untuk Oegroseno
net
Komjen Pol Oegroseno

Kapolri Jenderal Timur Pradopo Jumat (2/8) resmi melantik Komisaris Jenderal (Komjen) Pol Oegroseno sebagai Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia menggantikan Komjen Pol Nanan Soekarna yang pensiun Juli silam. 

Sebelumnya jabatan Oegroseno adalah Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam), yang posisinya akan digantikan Asisten Operasi Kapolri, Irjen Pol Badrodin Haiti.

Yang menarik, meskipun jabatan Oegroseno sebagai Wakapolri keberadaannya sangat diperhitungkan Kapolri Jenderal Timur Pradopo.

Apalagi pengangkatan tersebut ditunjuk langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Selama ini, selain kepada Nanan, Timur sungkan sama Oegroseno yang merupakan teman seangkatan yakni 1978.

Meskipun 17 Februari 2014 mendatang Oegroseno akan memasuki masa pensiun, ia masih memiliki kans untuk jadi Kapolri menggantikan Timur Pradopo. Jika Timur dipercepat pensiunannya, sesuai sinyal yang pernah disampaikan Presiden SBY, Oegroseno salah satu alternatif berpeluang besar menggantikan Timur Pradopo.

Apalagi di angkatannya, Oegroseno cukup menonjol karena berbagai prestasinya dan sangat diperhitungkan. Jenderal bintang tiga ini dikenal rendah hati, disiplin, bersahaja, kritis, cerdas, terbuka, idealis, lugas, kreatif, inovatif, dan berani bicara apa adanya sesuai hati nuraninya meskipun bertentangan dengan atasannya.

Menarik untuk digarisbawahi penegasan Oegro sehari sebelum dilantik sebagai Wakapolri bahwa untuk mengoptimalkan masa kerja yang hanya enam bulan ke depan, mantan Kepala Baharkam ini memprioritaskan program peningkatan pelayanan kepada warga masyarakat dan soliditas internal. Jangan sampai masyarakat yang berhadapan dengan kepolisian merasa dipersulit.

Masyarakat, sambung mantan Kadiv Propam Polri ini harus lebih nikmat setelah keluar dari kantor polisi daripada masuk hotel. Strategi lainnya adalah dengan cara blusukan ke rakyat yang diayominya. Jangan sampai nanti anggota polisi duduk di ruangan terus, persentase di luar akan lebih banyak. Kalau takut hitam jangan jadi pemimpin.

Mengutip pengamat kepolisian Aqua Dwipayana, setelah Oegroseno jadi Wakapolri, warna Polri akan makin jelas. Sikap Polri selama ini yang dalam menangani beberapa kasus terlihat ragu-ragu, akan lebih tegas. Misalnya ketika menjadi Kapolda Sulawesi Tengah pada 2006, Oegro pernah menolak untuk mengeksekusi Tibo Cs, sehingga dirinya dicopot dari jabatannya.

Namun Oegroseno tidak kecil hati. "Orang yang belum tentu bersalah masa' dihukum. Saya tidak mau kelak ada penyesalan seumur hidup. Lebih baik saya dicopot daripada melakukan eksekusi. Saya lebih mengutamakan hati nurani dalam bekerja," kata Oegroseno waktu itu.

Ketika menjadi Kapolda Sumatera Utara, Oegroseno terjun langsung memimpin anak buahnya untuk mencari teroris kelompok Fadli yang merampok bank CIMB Niaga Medan & menyerang Polsek Hamparan Perak. Selama berhari-hari mantan Kalemdikpol Mabes Polri itu bersama jajarannya di tengah-tengah kebun kelapa sawit di daerah Serdang Bedagai untuk mencari orang yang diduga teroris tersebut. Hasilnya beberapa orang berhasil ditembak mati dan ada juga yang ditangkap hidup-hidup.

Komitmennya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat harus lebih nikmat setelah keluar dari kantor polisi daripada masuk hotel tersebut tidaklah mengada-ada. Sebab sejak dulu, Oegroseno dikenal rendah hati, disiplin, bersahaja, kritis, smart, memiliki inovasi, dan kreativitas utk membangun Polri dalam rangka melayani masyarakat.

Komitmennya tidak pernah berubah walaupun kini menyandang pangkat bintang tiga. Ia mengajak anggota Polri untuk berubah ke arah yang lebih baik dengan semakin meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, dengan merubah sistem yang ribet birokrasinya jadi sistem yang sederhana namun bermanfaat. Contoh Call Center 110, penerapan e-learning, 1 Polisi 1 Desa, dan masih banyak lagi.

Karena itulah tidaklah berlebihan bila dikatakan pergantian Wakapolri kali ini menjadi momentum penting bagi seluruh anggota Polri. Dibawah sosok Wakapolri Komjen Oegroseno yang tidak menakutkan, tidak over acting, tidak lagi mempersulit masalah, dan sok kuasa, tetapi yang mau mengubah dirinya untuk mengerti apa keinginan masyarakatnya, kita berharap ada perubahan berarti di Polri, terutama merubah mental polisi kita sebagai pengayom-pelindung-pelayan masyarakat agar citra Polri semakin kinclong dan dicintai rakyat. (tribun cetak)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved