Mutiara Ramadan
Taubat Nasuha
Barangsiapa yang melakukan puasa Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni
PUASA Ramadan dapat menghapuskan dosa-dosa yang lalu. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang melakukan puasa Ramadan dengan keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni." (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Bahkan amalan-amalan ibadah sunah yang dilakukan di Bulan Ramadan pun dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadis, "Barangsiapa yang mendirikan salat malam di Bulan Ramadan, karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni."
Ini membuktikan bahwa Bulan Ramadan Allah memberi kesempatan bagi kita untuk memohon ampun kepada-Nya, dengan menjalankan amalan-amalan yang menuntut kita ikhlas mendapat Ridha-Nya.
Tapi perlu dipahami, bahwa tak semua dosa-dosa yang lalu bisa dihapuskan amalan-amalan tersebut. Dosa-dosa yang lalu bisa dihapuskan hanya sebatas dosa-dosa kecil. Sedangkan dosa-dosa besar tak akan terhapus, jika tidak dilakukan dengan tobat yang sungguh-sungguh atau taubatan nasuha.
Dalil-dalil yang menjelaskan keterangan tersebut adalah, firman Allah ta'ala yang berbunyi, "Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang diperintahkan kepada kalian untuk menjauhinya, niscaya kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil ) kalian dan kami memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)." (QS. An-Nisa' : 31)
Hal itu juga dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis-hadis sahih. Diantara hadis tersebut, dari Abu Hurairah ra dan Abu Sa'id Al Khudriy ra yang berkata, bahwa Rasulullah SAW menyampaikan khutbah kepada kami di atas mimbar.
Beliau bersabda, "Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya." Kemudian beliau terdiam, sehingga setiap orang di antara kami mulai menangis karena sedih mendengar sumpah beliau.
Lalu beliau bersabda, "Tiada seorang hamba pun yang melaksanakan salat lima waktu, melaksanakan puasa Ramadan dan menjauhi tujuh dosa besar, melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga pada hari kiamat sampai suara pintu surga itu berderit-derit."
Lalu beliau membacakan ayat, "Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang diperintahkan kepada kalian untuk menjauhinya, niscaya kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil ) kalian dan kami memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)." (QS. An-Nisa' : 31)
Di antaranya lagi adalah hadis dari Abu Hurairah ra yang menyatakan, "Salat wajib lima waktu, Salat Jumat ke Salat Jumat berikutnya dan Puasa Ramadan ke Puasa Ramadan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa di antara kedua waktu tersebut selama ia menjauhi dosa-dosa besar."
Dalam hadis ini jelas ditegaskan bahwa Puasa Ramadan dengan Puasa Ramadan tahun berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa dengan syarat, ia menjauhi dosa-dosa besar. Dengan kata lain, dosa yang dihapuskan dalam Puasa Ramadan adalah dosa-dosa kecil.
Adapun dosa-dosa besar pada masa yang lalu, tidak secara otomatis terhapuskan dengan puasa Ramadan atau amalan-amalan kebaikan lainnya.
Untuk menghapuskan dosa-dosa besar tersebut, diperlukan amalan tambahan dengan taubat nasuha yang dilakukan dengan tulus. Hal tersebut dijelaskan sebagaimana firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nasuha, niscaya Rabb kalian akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. At-Tahrim: 8)
Dengan memahami penjelasan di atas, sebaiknya kita semakin terpacu memanfaatkan hari-hari di sepanjang 10 hari kedua Ramadan dengan memperbanyak amal salih agar mendapatkan ampunan Allah. Amalan-amalan salih tersebut, alangkah baiknya diiringi taubat yang sungguh-sungguh atas semua dosa yang telah kita lakukan di masa lalu. Wallaahu A'lam Bil Muroodih. (*)