Mutiara Ramadan

Lidah Durhaka

Sungguh lidah merupakan alat perangkap setan yang paling jitu untuk menjerumuskan manus

Editor: Jamadin

Ustaz Jefry Al Buchori (alm)

DUSTA berawal dari ucapan lidah. Padahal, ucapan lidah dapat memunculkan pancaran iman dan akal yang sempurna, jika digunakan untuk hal-hal yang mulia. Oleh karena itu, lidah termasuk di antara nikmat Allah yang besar dan di antara ciptaan Allah yang sangat halus nan ganjil.

Iman dan kufur seseorang tak akan terang dan jelas, selain dengan kesaksian lidah. Lidah mempunyai ketaatan yang besar dan mempunyai kedurhakaan yang besar pula. Anggota tubuh yang paling durhaka kepada manusia adalah lidah. Sungguh lidah merupakan alat perangkap setan yang paling jitu untuk menjerumuskan manusia.

Rasulullah SAW bersabda, "Wajib atas kalian berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan. Dan, keduanya di surga. Jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka." (HR. Ibnu Hibban)

Peringatan Rasulullah dalam hadis tersebut sangatlah tegas dan jelas. Namun, sayang banyak orang meremehkan peringatan tersebut. Mereka terlanjur terbiasa berdusta, sehingga kejujuran semakin langka. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan senantiasa berusaha menutupi kedustaannya dengan berbagai cara.

Sebuah dusta berpotensi melahirkan banyak kedustaan baru. Lebih dari itu, dusta juga berpotensi melahirkan kecurangan, kekerasan, kejahatan, bahkan pembunuhan. Semua itu merupakan bentuk kedurhakaan (ketidaktaatan) kepada Allah SWT.

Berbohong atau berdusta adalah sifat yang timbul dari sebab beberapa faktor. Antara lain, karena seseorang lemah jiwa dan mental, terguncang jiwanya, senang dengan pandangan dan perhatian manusia, gemar bergurau hingga melampaui batas, memiliki rasa dengki dan iri, serta hidup dalam lingkungan sosial buruk sehingga berpengaruh kepadanya.

Oleh karena itu, di bulan yang penuh berkah ini, marilah tingkatkan iman kita kepada Allah SWT yang telah memberikan beribu-ribu kenikmatan kepada kita. Semoga Allah senantiasa meluruskan amalan kita dan terhindar dari penyakit dusta.

Memang, hukum syar'i membolehkan kita berbohong. Namun, hal itu hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu. Antara lain, bohong dalam medan perang atau jihad atau perang menghadapi musuh, yang kita kenal sekarang dengan taktik atau strategi.
Bohong juga dibenarkan secara syar'i dalam rangka islah atau memperbaiki hubungan dua orang yang sedang marah atau bermusuhan. Dalam kitab, Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menyebutkan sebuah hadis dari Ummu Kultsum bahwasanya Rasululah SAW bersabda, "Tidaklah dikatakan pendusta, orang yang meng-islah-kan antara manusia dan dia berkata baik pada kedua belah pihak."

Dari sini jelas bahwa berbohong yang bukan atas dasar syar'i, hendaknya dihindari atau dijauhi. Sebab, hal ini memang sangat diancam dan dibenci Allah serta Rasul-Nya.

Orang yang berdusta adalah orang yang menyatakan sesuatu tidak menurut keadaan sebenarnya. Lain di mulut, lain pula di hati. Berita bohong tetap berdampak negatif (membahayakan), baik bagi orang yang menyampaikan berita bohong tersebut, maupun bagi yang menerimanya.

Bahaya bagi orang yang menyampaikannya, karena dia telah merusak suasana, membuat orang gelisah, apalagi sampai mencelakakan, maka dosanya sangatlah besar.

Bahaya bagi yang menerimanya dapat merusakkan ketentraman jiwa, apalagi berita itu berupa ancaman atau teror mental, yang bahayanya tidak kecil bagi seseorang atau masyarakat luas. Oleh sebab itu, Allah SWT sangat mengecam dengan keras terhadap orang-orang yang berdusta.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya kebenaran itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga. Dan, seseorang yang senantiasa benar dan terus-menerus mencari jalan kebenaran, sehingga ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang benar.

Dan, sesungguhnya dusta itu akan membawa pada dosa, sedangkan dosa itu akan membawa ke neraka. Dan, orang yang senantiasa berdusta dan tidak henti-hentinya untuk berdusta, sehingga ia akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari dan Muslim). (tribun cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved