Mutiara Ramadan

Ciri Orang Ikhlas

Apabila syarat yang pertama terpenuhi (ikhlas), maka tercapailah kesahihan batin.

Editor: Jamadin

Ustaz Jefry Al Buchori (alm)

DALAM surah Al-An'am (6: 162-163) Allah SWT berfirman, "Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan, demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)."

Ikhlas adalah melakukan amalan-amalan semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. Amalan-amalan tersebut tanpa dicampuri keinginan dunia, keuntungan, pangkat, harta, kemasyhuran, kedudukan tinggi, meminta pujian, menuruti hawa nafsu, dan lainnya.

Setiap amal saleh mempunyai dua syarat agar diterima di sisi Allah. Pengertiannya, Allah tidak menerima amalan seseorang hamba, melainkan jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mutaba'atur-rasul (mengikuti sunah Rasulullah SAW).

Apabila syarat yang pertama terpenuhi (ikhlas), maka tercapailah kesahihan batin. Dan, apabila syarat yang kedua terpenuhi, maka tercapailah kesahihan lahir.

Berkenaan syarat pertama, Rasulullah SAW bersabda, "Sesunggugnya setiap amalan itu bergantung pada niat dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan apa yang diniatkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Adapun yang berkenaan syarat kedua, yaitu mengikuti sunah Rasulullah, maka beliau telah bersabda, "Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan dari kami, maka dia tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah telah banyak menyebutkan syarat tersebut dalam Alquran. Di antaranya firman-Nya dalam Surah Luqman (31: 22), "'Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan."

Adapun sikap berserah diri kepada Allah adalah mengikhlaskan niat dan beramal karena-Nya. Sedangkan berbuat kebaikan adalah mengikuti sunah Rasulullah SAW. Allah berfirman, "(Dialah) Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun." (QS. 67:2)

Ikhlas mempunyai banyak tanda dan ciri-ciri. Di antara tanda-tanda tersebut adalah: Pertama, orang yang ikhlas bercirikan takut akan kemasyhuran dan sanjungan yang dapat membawa fitnah kepada diri sendiri dan agamanya.

Pun jika ia seorang yang mampu, maka hendaknya ia meyakini bahwa Allah menerima sesuatu berdasarkan batin, bukannya zahir. Karena, apabila seseorang merasa memiliki kemasyhuran di seluruh penjuru dunia sekalipun, sedangkan niatnya barcampur-baur, maka kemasyhurannya itu tak akan memberi manfaat apapun kepadanya.

Kedua, orang yang ikhlas senantiasa menganggap dirinya hina di hadapan Allah SWT. Hatinya tak boleh dimasuki sifat takabur dan takjub terhadap diri sendiri. Bahkan, ia senantiasa merasa takut kalau-kalau dosanya tak diampuni Allah, atau kebaikannya tak diterima oleh-Nya.

Ketiga, orang yang ikhlas lebih menyukai melakukan amal kebaikan secara sembunyi-sembunyi daripada amalan yang dipenuhi dengan iklan dan irama kemasyhuran.

Keempat, orang yang ikhlas tidaklah bekerja semata-mata untuk mencari keuntungan atau mencapai kemenangan saja. Ia melakukannya semata-mata, karena mencari keridhaan Allah dan mematuhi perintah-Nya.

Kelima, orang yang ikhlas senantiasa merasa gembira dengan adanya orang-orang yang mempunyai kemampuan melebihi dirinya. Ia mampu berbagi amal dan memberi peluang kepada siapa saja yang mampu menggantikan posisinya tanpa merasa berat hati, atau berusaha menjegal dan menghalangnya, atau menghina dan marah kepadanya.

Bahkan, kita melihat orang yang ikhlas itu, apabila melihat orang yang lebih baik darinya dalam memikul tugas, ia mau mengundurkan diri dalam keadaan ridha. Ia akan mengutamakan orang tersebut daripada dirinya dalam keadaan taat dan bahagia. (tribun cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved