Mutiara Ramadan
Tidak Ada yang Instan
Akibatnya, pendidikan anak banyak diserahkan kepada orang lain, seperti pembantu atau sekolah
HM Cholil Nafis Lc PhD
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU
Sekretaris Pengkajian MUI
PADA zaman modern ini, banyak keluarga yang sulit melakukan pendidikan langsung kepada anak-anaknya. Ada berbagai sebab, seperti karena kesibukan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengejar karir, atau untuk mencapai kesenangan hidup. Akibatnya, pendidikan anak banyak diserahkan kepada orang lain, seperti pembantu atau sekolah.
Padahal kewajiban mengasuh dan mendidik anak dalam keluarga telah ditegaskan oleh Allah SWT (QS Al-Tahrim : 6): "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
Ayat di atas dapat dimaknai, mendidik anak itu hukumnya wajib. Sehingga, bagi yang melaksanakannya akan mendapatkan balasan pahala/surga. Sebaliknya bagi yang tidak melaksanakan akan mendapat siksa. Menurut Jamal Abdurrahman, pendidikan berarti surga, menyepelekannya berarti neraka.
Rasulullah saw tegas menjelaskan: "Suami bertanggung jawab memelihara keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu. Istri bertanggungjawab dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu." (HR Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar).
Ramadan adalah momentum yang tepat sebagai sarana untuk memaksimalkan pendidikan dalam keluarga dan membangun komunikasi intensif antara anggota keluarga. Saat bulan Ramadan, anggota keluarga bisa lebih banyak waktu berinteraksi langsung dan dapat membangun komunikasi, minimalnya dapat terjalin saat buka puasa dan sahur bersama secara rutin.
Juga dapat diberikan contoh ketaatan dalam beragama sambil membangun komunikasi terbuka. Aktivitas ini dapat diterjemahkan dalam bentuk kegiatan salat subuh dan maghrib berjamaah seluruh anggota keluarga. Komunikasi dengan lingkungan sekitar dapat dilakukan dalam bentuk salat tarawih dan sewaktu-waktu mengadakan buka bersama dengan kerabat dan teman.
Selanjutnya, perlu ada jadwal rutin dan target membaca (tadarrus) Alquran selama Ramadan. Bahkan perlu disediakan waktu khusus bersama anak-anak membaca ayat-ayat suci Alquran diikuti penjelasan maknanya. Cara ini dalam rangka membentuk karakter anak yang cinta Alquran dan memahami Alquran untuk dipedomani dalam hidupnya.
Akhlakul Karimah dapat ditanamkan melalui pembiasaan anak dalam mengikuti perintah puasa. Filosofi puasa harus ditanamkan kepada anak, antaranya adalah kedisiplinan, kesetiakawanan sosial, dan menghargai proses.
Kedisiplinan dapat dihayati dalam jadwal puasa setiap tahun dan saat memulai berpuasa yaitu sejak terbit fajar tidak boleh kurang dan lebih sedikitpun dan mengakhiri puasa setelah terbenam matahari atau masuk waktu maghrib. Kedisiplinan ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari seperti disiplin bekerja, mematuhi undang-undang, dan memenuhi tanggungjawab.
Rasa lapar dan haus karena berpuasa dapat mendidik dan mengasah keluarga, khususnya anak-anak agar turut merasakan nasib orang yang keadaan ekonominya berkurang. Sehingga dapat menumbuhkan rasa setiakawan, sayang dan peka terhadap penderitaan orang lain. Juga, penanaman kepedulian sosial kepada anak-anak untuk membangun solidaritas sosial dalam berbangsa dan bernegara. Keagamaan yang ditanamkan kepada keluarga menjadi paralel dengan semangat gotong royong.
Tentang hal itu semua, Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang tidak punya rasa empati dan peduli kepada anak yatim dan orang miskin adalah pendusta agama. (QS Al Ma'uun: 1-3).
Proses waktu sebulan lamanya dalam menjalankan ibadah puasa dan dilakukan setiap tahun secara rutin selama Ramadan dapat memberi makna bahwa hidup membutuhkan perjuangan dan proses waktu. Menjalani proses ini dapat ditanamkan kepada generasi dalam keluarga bahwa untuk mencapai keberhasilan hidup, baik di dunia ataupun di akhirat harus melewati perjuangan dan dedikasi tinggi. Tidak ada keberhasilan secara instan, karena sesuatu yang instan mudah lenyap dan biasanya menghalalkan segala cara.
Ramadan menjadi sarana untuk mendidik anak dalam keluarga yang efektif guna menanamkan keimanan, keislaman dan ihsan. Sayyidina Ali ra mengingatkan: "Ajarilah anak-anakmu dan keluargamu perilaku yang baik dan didiklah dengan budi pekerti." (*)