Editorial

Menggapai Predikat Taqwa

Karena itulah, Allah SWT mengganjar predikat taqwa bagi mereka yang menunaikannya dengan sungguh-sungguh.

Menggapai Predikat Taqwa
Uray Ferdian
Para jamaah salat tarawih perdana saat bersujud di Masjid Mujahidin Pontianak, Selasa (9/7/2013). 

MARHABAN ya Ramadan! Bulan yang dinanti ummat Muslim di penjuru dunia akhirnya tiba. Bukan sembarang bulan karena ia lebih mulia dari seribu bulan. Bulan itu bernama Ramadan.
Begitu besar keutamaan dan kemuliaan yang terkandung di dalamnya, Allah SWT menyeru dan mewajibkan umat Islam untuk menunaikannya sebagai mana dalam firman-Nya dalam Surat Al- Baqarah, Ayat 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.

Penetapan awal puasa atau 1 Ramadan 1434 Hijriah, telah ditetapkan pemerintah melalui Sidang Isbat, Selasa (8/7). Dalam sidang yang digelar Kementerian Agama dan melibatkan berbagai Ormas Islam itu, 1 Ramadan jatuh pada hari ini, Rabu (10/7).

Meski demikian, sebagian umat Muslim lainnya, seperti Muhammadiyah misalnya, menetapkan 1 Ramadan lebih awal, yaitu pada, Selasa kemarin. Perbedaan yang juga kerap menghiasi Ramadan dari tahun ke tahun.

Tentu perbedaan itu bukan untuk diperuncing. Namun, bagaimana umat Islam, saling menghargai, menghormati, lebih toleran, dan mampu mengambil hikmah. Bukankah perbedaan dalam Islam adalah rahmat?

Bukankah rahmat itu pula yang berusaha digapai selama 10 hari pertama Ramadan, kemudian mencari berkah dan maghfirah, di 10 hari kedua dan ketiga? Tentu, kekhusyukan menjalankan ibadah puasa, jauh lebih penting ketimbang memperuncing silang sengketa penetapan 1 Ramadan.

Ya, puasa di Bulan Ramadan, memang mendapat tempat istimewa. Inilah ibadah transendetal karena berpuasa atau tidaknya seseorang, hanya ia dan Allah SWT sendiri yang tahu. Berbeda dengan amaliah lainnya, yang kasat mata, seperti salat, infag, zakat, dan sadaqoh.

Karena itulah, Allah SWT mengganjar predikat taqwa bagi mereka yang menunaikannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan di penghujung Ramadan, raihan fitri disemat bersamaan dengan hari kemenangan, saat takbir berkumandang di Hari Raya Idul Fitri.

Guna meraih predikat taqwa dan menjadi pribadi yang fitri itulah, Ramadan hadir setahun sekali. Inilah kesempatan untuk menggeber, meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Menunaikan amalan fikriyah, jasadiyah, maupun yang bersifat ruhiyah, menjadi keniscayaan.

Sebab puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Jauh lebih esensi dan hakiki adalah bagaimana mengendalikan hawa nafsu. Bukankah, hawa nafsu ini juga yang menjadi pemantik tindakan korupsi, menghamba kekuasaan, hingga kasus asusila dan kriminalitas lainnya. Cukuplah menjadi tamsil, ada begitu banyak pejabat publik dan politisi kita yang diperbudak hawa nafsu.

Mengeruk uang rakyat, memperkaya diri sendiri, hanya demi pemenuhan ambisi dan harga diri.
Mari memanfaatkan momentum Ramadan dengan menempa diri dengan amaliah maksimal guna menjelma pribadi paripurna. Tentu, peningkatan kapasitas ibadah itu, tak semata sepanjang Ramadan.

Sebab sejatinya, Ramadan memberi warna pada kehidupan umat Islam di 11 bulan berikutnya selama setahun mengarungi bahtera kehidupan. Amaliah Ramadan sangat penting. Namun, jauh lebih penting bagaimana semangat Ramadan itu, membawa dampak dalam kehidupan aktisitas kita sehari-hari. Selamat menunaikan Ibadah Puasa. (tribun cetan)

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved