style Blitz
Melihat Penghobi Layangan Hias Pontianak
Layangan hias kini sudah diakui dunia dan sudah mendunia
LAYANG -LAYANG,jenis mainan yang satu ini tentu akan mengingatkan kita pada masa kecil. Biasanya kalau tiba musim layang-layang, birunya langit akan disemarakkan dengan layang-layang kertas milik anak-anak kecil.
Layang-layang memang identik dengan laki-laki, tak lain karena mayoritas penggemar mainan angkasa ini adalah laki-laki. Tak jarang hobi bermain layang-layang sewaktu kecil akan terus terbawa hingga dewasa. Atas dasar hobi inilah sebagian penyinta mainan terbang ini lantas membuat kreasi layang-layang sendiri baik sebagai koleksi pribadi maupun dijadikan lahan bisnis.
Hal ini yang dilakoni Yusran. Pensiunan PNS ini sejak kecil, suka bermain layangan. Mulai layangan tradisional yang terbuat dari bambu dan kertas, hingga kini ia gemar bermain layangan hias sekelas dunia.
"Sekitar 15 tahun belakangan ini saya lebih fokus ke layangan hias. Jadi sedikit saya ubah profesilah, karena main layangan aduan tidak ada gunanya. Selain bisa merugikan orang banyak, layangan tradisional sekarang sudah banyak disalahgunakan," ujar Pensiunan PNS ini.
Dikatakan Yusran, bermain layangan hias dapat menguntungkan. Dia sering dipangil di event-event besar seperti festival layangan di luar daerah.
"Layangan hias kini sudah diakui dunia dan sudah mendunia," kata pria kelahiran Pontianak 11 November 1956 ini.
"Kalau skala nasional saya sudah beberapa kali mengikuti festival-festival. Seperti di Jakarta, Palembang, Medan, Bali, pangandaran, dan Badung. Untuk festival internasional, di Bintulu Malaysia," jelasnya.
Prestasi
Yusran memgaku sudah memiliki prestasi-prestasi di tingkat naisonal. Di Bandung Tahun 2012, katagori sport standar kite (layangan) juara III. Di pangandaran Tahun 2011 katagori III dimensi harapan III , 2D dan tradisional dapat harapan 1, II, dan III. Dari berniaga layangan yang dimilikinya, ada yang memang dibuat sendiri, bahkan ada yang langsung dipesan dari luar negeri.
"Layangan dari Perancis berjenis sand kit. Kalau dirupiahkan harganya sekitar Rp 1,4 juta. Karena rangkanya bukan fiber, tapi karbon, bahanya keras tapi ringan, bahannya tak ada di Indonesia," ungkapnya.
Yusran menambahkan, layangan yang biasa dibuat sendiri, yaitu berjenis layangan kreasi 2 dan 3 dimensi. "Kita punya layangan lain dengan jenis pilot layangan tanpa rangka, glider, treind (panjang), rokaku. (Bahasa jepang, karena mainan Jepang), stand kite, evolution tali 4," paparnya.
"Untuk lamayangan pembuatan layangan 3 dimensi itu membutuhkan waktu 2 pekan dengan biaya sekitar Rp 4-6 ribu untuk satu buah layangan. Tapi kalau yang dua dimensi dua hari jadi, dan biayanya pun sekitar Rp 3-5 ratus ribu," jelasnya.
Dalam bermain layangan, bukan kemenangan yang di kejar. Namun kepuasan tersendiri yang diperoleh apabila layangan bisa naik. "Dalam festipal bukan menang atau kalah yang dipikirkan, tapi layangan bisa naik, itu sudah puas," imbuhnya.
"Karena main layangan hias ini, kan bahan utamanya kain parasut, selain bambu atau bahan fiber atau bahan karbon untuk rangkanya. Dan berpengarus pada faktor cuaca. Kadang dalam even, bukan menang kalah, tapi berapa dari penonton yang tertarik, jadi ada nilai julanya," kata Yusran.
Pria yang berdomisili di Jl Sultan Syahrir Gang Rawasari 1 No 15 ini, kadang terkendala masalah biaya untuk mengikuti dan berangkat mengikuti festival. "Tapi walau dana tidak mendukung, ahirnya dana pribadi tetap dikeluarkan, ya karena ini hobi juga," jelasnya. (ken)