Style Blitz

Musik Tradisi Ajarkan Jati Diri

Terlebih ia sering menekuni vocal, tepatnya paduan suara Porseni SMP hingga SMA masih ikut Porseni.

Tayang:
Penulis: Rizky Zulham | Editor: Jamadin
IMPROVISASI musik tradisi seiring perkembangan zaman menjadi sesuatu yang lebih berwarna. Di mana alat musik tradisional dikombinasikan dan dipadukan dengan instrumen musik modern. Hal tersebut tentunya demi menambah warna musik dengan tidak menghilangkan komposisi musik dasarnya.

Seperti yang dituturkan pemain alat musik flute, Peri Rakhmadi, yang mengaku awalnya tak pernah tahu dan mengenal alat musik khususnya tradisional. Terlebih ia sering menekuni vocal, tepatnya paduan suara Porseni SMP hingga SMA masih ikut Porseni. 

"Bahkan saya pernah menjadi seorang yang terpilih paduan suara di Istana Negara tahun 2007, yaitu HUT RI ke-62. Awal SMP saya mulai menyukai musik walau awalnya malu. Entah dari mana datangnya bakat itu, karena orangtua tidak ada yang paham tentang musik. Saya memilih musik Tradisional disebabkan saya percaya akan harga jual tradisi di mata masyarakat sangat mahal," imbuh pria kelahiran Sanggau 1 Oktober 1990 ini.

Mempelajari tradisi, menurut anak bungsu dari tiga bersaudara ini sama halnya dengan membangun rumah sendiri. Ketika kita memainkan musik tradisi, masyarakat dunia akan sangat mengapresiasi kesenian itu karena ini kesenian yang hanya dimiliki daerah tertentu.

"Lain halnya dengan musik barat, seluruh penjuru dunia sudah mengenalinya. Jadi, saya pikir kita wajib sebagai putra daerah membangun kesenian tradisi kita. Saya memainkan alat musik tiup dan memiliki alat musik tersebut seperti seruling dan flute. Karena saya Etnis Melayu, jadi saya sering memainkan alat musik melayu dalam iringan dan orkes yang membawakan lagu-lagu Melayu," lanjutnya.

Dijelaskan, dirinya saat ini bermain flute yang merupakan alat musik tiup dari Eropa. "Harganya kisaran Rp 2 jutaan hingga puluhan juta. Kalau musik tradisi biasanya banyak diproduksi dari daerah sendiri," paparnya.

Dijelaskanya, flute memang bukan merupakan instrumen melayu. Tetapi melayu adalah etnik yang sangat terbuka dengan pengaruh perkembangan zaman dan kebutuhan karakter yang diperlukan dalam Ansambel Musik Melayu di Kota Pontianak. 

Senada dikatakan Galih Septian yang memilih melestarikan musik melayu lantaran kecintaannya terhadap budaya nenek moyangnya tersebut. Ia mengaku, awalnya belajar musik, dengan basic musik klasik. Tetapi kemudian tertarik dengan memainkan biola tapi dengan jenis musik Melayu.
Ia membenarkan, biola bukan merupakan alat musik tradisional masyarakat Melayu. 

"Tetapi tradisi melayu sudah dekat dengan lantunan suara biola. Dan kenapa saya memainkan musik tradisi karena saya merasa peduli dan mencintai budaya," tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Dorongan itu yang kemudian membuatnya sadar bahwa memainkan sesuatu yang bersifat tradisional adalah titik awal untuk melestarikan budaya Indonesia.  Untuk harga biola yang digandrunginya, bervariasi dari yang paling murah Rp 700 ribu sampai ratusan juta. Alat tersebut dapat di beli di toko-toko musik pada umumnya. "Biola milik saya merek Suzuki Violin, seharga Rp 7,8 juta," ," imbuh pria kelahiran Ngabang 30 Maret 1992 ini. (Tribun cetak)

Untuk alat musik biola itu sendiri bisa di dalami, kalau menurut saya minimal belajar basic satu tahunan. Agar bisa menguasai teknik-teknik tertentu," pungkas mahasiswa semester delapan jurusan musik FKIP Prodi Seni Tari dan Musik ini. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved