Style Blitz

Merujuk Ajaran Islam

Dilarang keras bertikai sesama, apalagi menyalahinya.

Tayang:
Editor: Arief
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Bagi orang Melayu, agama Islam adalah anutannya. Seluruh nilai budaya dan norma sosial masyarakat, wajib merujuk pada ajaran agama Islam.

"Dilarang keras bertikai sesama, apalagi menyalahinya. Karena, semua nilai budaya yang dianggap belum serasi dan belum sesuai dengan ajaran Islam, harus diluruskan terlebih dahulu," ujar pengarang buku adat Melayu, Syafaruddin Usman.

Selain itu, dalam adat dan istiadat Melayu, orang tua yang dituakan, atau pemimpin sangatlah penting. Pemimpin, yang dikemukakan oleh masyarakatnya disebut 'Ditinggikan Seranting Didahulukan Selangkah'. "Lazimnya diambil atau dipilih dari tokoh masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu," tambahnya.

Menurutnya di dalam adat dan budaya Melayu, menganggap manusia seluruhnya bersaudara. Karena mereka senantiasa, hidup mencari persahabatan dan memupuk perdamaian, saling menghormati.

Di sisi lain dari nilai ajar adat istiadat Melayu, yaitu mengutamakan persatuan dan kesatuan. Menjunjung tinggi kegotongroyongan dan mengekalkan tenggang rasa di dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

"Para sesepuh menegaskan, dalam rasa persatuan dan kesatuan, kegotongroyongan, serta bertenggang rasa, adalah inti dari kepribadian Melayu. Dengan prinsip ini, maka akan mampu mewujutkan kedamaian di muka bumi ini," jelas Syafaruddin.

Dalam adat dan tradisi Melayu, 'Yang hak berpunya, yang milik bertuan'. Di mana ungkapan ini juga mengandung arti, hak orang dipandang, milik orang dikenang, pusaka orang dikandang.

Satu di antara sandaran Melayu, adalah musyawarah dan mufakat. Di mana, tegak adat karena mufakat, tegak tuah karena musyawarah.

"Karena dari adat dan istiadat Melayu, bahwa tanpa musyawarah, selain dianggap sebagai melecehkan adat istiadat, pekerjaan yang dirancang juga akan mengalami hambatan dan sulit untuk dilaksanakan," jelasnya.


Menurut adat dan tradisi Melayu, bila tercapai kesepakatan dan musyawarah, maka kesepakatan itu menjadi tanggungjawab yang tidak boleh diabaikan.

Di dalam ungkapan adat dikatakan, adat mencari rezeki, pantang sekali meupakan budi. Adat orang berusaha, pantang berbuah tak semenggah. "Adat hidup mencari makan, pantang sekali melupakan iman, mencari bekal secara halal, mencari nafkah secara sah," ujarnya dalam istilah.

"Kalau hidup hendak senonoh, mencari nafkah jangan mengecoh. Kalau hidup hendak selamat, mencari rezeki jangan khianat. Kalau hidup hendak sentosa, mencari makan jangan menyiksa," pungkasnya. (ken)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved