Ironi Joy Flight Superjet
Kecerobohan memenuhi prosedur terbang, ancaman besar bagi bisnis penerbangan yang tumbuh-berkembang di Indonesia
Pesawat produk kerja bareng Rusia, Italia dan Prancis ini, ditemukan berkeping-keping di lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.
Tak ada tanda-tanda kehidupan dari 47 penumpang, termasuk kru pesawat yang sedang menjalani joy flight, sebelum dioperasikan maskapai penerbangan sipil di Indonesia.
Tim SAR menemukan jasad penumpang tak utuh, termasuk pilot terbaik dari Rusia. Tragedi memilukan ini menambah deretan panjang dalam sejarah penerbangan sipil di Tanah Air.
Tragedi getir yang mengingatkan misteri Adam Air penerbangan KI-574, 1 Januari 2007. Adam Air jurusan Surabaya-Manado itu berkeping-keping, sebelum mencapai tujuan.
Tak seorang pun dari 96 penumpang dan enam kru hidup, bahkan jenazahnya hingga kini belum ditemukan. Tragedi ini merupakan tragedi terbesar dalam sejarah Boeing 737-400.
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan kecelakaan ini disebabkan cuaca buruk, kerusakan alat bantu navigasi inertial reference system, dan kegagalan kinerja pilot menghadapi situasi darurat.
Kotak hitam baru ditemukan delapan bulan kemudian di laut dengan kedalaman 2000 meter. Apakah tragedi Sukhoi Superjet-100 yang didesain untuk penerbangan jarak jauh itu juga disebabkan faktor cuaca?
Segenap ahli KNKT masih meneliti seksama bersama tim investigasi Rusia. Yang pasti, data satelit cuaca mencatat, sebelum menabrak Gunung Salak, pesawat naas itu dikepung awan tebal setinggi 37 ribu kaki.
Sangat mungkin pilot mencoba keluar dari kerawanan maut dengan cara meminta izin turun atau naik dari ketinggian terbang. Sebelum hilang kontak, sang pilot memang sempat minta izin turun ke 6.000 kaki dari ketinggian 10.000 kaki.
Data Multifunctional Transport Satellites (MTSAT), menunjukkan sekitar waktu kejadian, awan sekitar Gunung Salak sangat tak ramah, rapat dengan liputan awan lebih 70 persen.
Arti Kehidupan
Awan jenis Cumulo Nimbus (Cb) menjulang tinggi sampai sekitar 37.000 kaki atau 11,1 kilometer, jelas aral yang teramat membahayakan penerbangan.
Satelit MTSAT Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional mencatat, saat tragedi Sukhoi Superjet-100, Gunung Salak tertutup penuh awan. Indeks konveksi berkisar 30. Artinya, lokasi itu kemungkinan besar dilanda hujan.
Jika benar ini yang terjadi, sangat mungkin Sukhoi Superjet-100 celaka akibat cuaca. Adakah kesalahan prosedur penerbangan, khususnya penggunaan data cuaca sebelum terbang? Semoga tidak.
Kalau ada kecerobohan prosedur dalam persyaratan penerbangan, aib besar dalam bisnis penerbangan yang saat ini sedang tumbuh-berkembang di Indonesia.
Prinsipnya, begitu take off, keselamatan penumpang di tangan pilot, selain Tuhan. Kala roda pesawat tak lagi menggelinding di atas landasan pacu, semua penumpang ibarat teken nyawa.
Apabila pesawat jatuh di ketinggian ribuan kaki di atas bumi, hampir bisa ditebak tak bakalan hidup. Kesalahan sedikit pengoperasian pesawat di udara, tak ubahnya mengundang maut.
Tragedi Sukhoi Superjet-100 harus diusut tuntas. Diteliti seksama tanpa dusta. Jika tidak, bisnis penerbangan terancam mengalami titik balik. Dampak ikutannya akan bermuara pada hambatan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pelajaran teramat penting untuk kesekian kalinya dalam bisnis penerbangan. Tak kalah penting, hikmah di balik tragedi ini. Kematian datang kapan pun, apabila Allah menghendaki.
Hampir semua penumpang yang menikmati joy flight pesawat bersertifikat laik terbang dari otoritas Rusia dan EASA itu, unjuk suka cita. Siapa sangka, suka cita itu mengantar ke kematian?
Selagi masih diberi kehidupan oleh Allah, marilah senantiasa berbuat baik dan benar, sebagaimana diajarkan agama, budaya dan hukum yang kita sepakati.
Naif, menyesal setelah ajal menjemput. Momentum baik bagi kita, terutama pejabat untuk menemukan makna kehidupan sejati. Mari amalkan semua perintah Tuhan secara tulus, tanpa kemunafikan. (*)