Tuah Getir Sang Idola Bieber
Pelajaran berharga remaja RI. Jangan latah mengidolakan Bieber atau figur yang tak jelas integritas dan ketaatannya kepada Allah.
Remaja Indonesia, larut secara suka rela. Mereka berduyun-duyun menyesaki arena pertunjukan bertitel Super Show 4. Begitu gandrungnya, ada remaja putri rela antre tiket sejak pukul 05.00 WIB, kendati konser dimulai petang.
Makin sulit dinalar, ribuan remaja tergabung dalam Clouds, sebutan fans berat Yesung Suju, menyisihkan uang Rp 9 juta hanya untuk menarik perhatian sang idola.
Konser Suju sarat emosional. Histeria melanda kaum Elf, sebutan penggemar Suju. Yang namanya suka, sulit dinalar pakai akal sehat. Tak bisa pula diukur menggunakan uang atau waktu, bahkan jiwa.
Demi cita rasa, kaum Elf rela mempertaruhkan segalanya. Beruntung Suju begitu apik unjuk kepiawaian bermusik dan ber-dance. Mereka pun familiar, seperti karakter umum budaya orang Asia.
Sang boyband Suju tak rikuh mengenakan topi made in Indonesia sambil nyanyi, menyapa dan mengucapkan terimakasih ala Bahasa Indonesia, bahkan pakai Bahasa Jawa.
Suju makin mencuri hati anak muda, manakala melantunkan Cinta Jangan Kau Pergi, lagu yang biasa dinyanyikan Vidi Aldiano. Luar biasa, sensasional dan mengesankan, tentu bagi penyukanya.
Histeria fans ini mengingatkan konser serupa di Sentul International Convention Center, Bogor, 23 April 2011 lalu. Kala itu Justin Bieber membuat penggemar beratnya histeris.
Konser bertitel My World Tour selama 90 menit itu, juga tak kalah luar biasa menghipnotis ratusan ribu fans berat Bieber. Saking kuatnya mengidolakan pujaannya, kekasih Selena Gomez itu seperti manusia setengah dewa saja.
Sosok Bieber di mata kaum muda seolah tiada cacat, sempurna! Pelajaran besar bagi remaja Indonesia, baru datang pekan lalu. Tepatnya saat Bieber mempromosikan album terbarunya, Believe di London.
Ketika menjawab pertanyaan sang pemandu acara tentang proses pembuatan lagu Be Alright, Bieber menorehkan kata-kata yang menghina Bangsa Indonesia.
Ambivalensi
Intinya, penyanyi yang jadi idola remaja di dunia ini, menyatakan karyanya itu dibuat di Indonesia yang disebut negara random alias acak atau tidak jelas.
Tak sampai di situ, Bieber mengaku membuat rekaman di studio kecil dan ditangani orang-orang Indonesia yang dinilai tak tahu dan tak mengerti apa yang dilakukan.
Negeri tak jelas, pasti bukan ucapan rasa terimakasih atas elu-eluan yang diberikan remaja Indonesia secara suka rela kepadanya.
Sebutan hina bagi NKRI dari bule kecil asal negeri mungil Kanada. Bieber dilahirkan di Stratford, Ontario, Kanada, negeri yang hanya seluas 9.970.610 kilometer persegi dan dihuni 32, 4 juta penduduk, atau 1/6 penduduk negeri kita.
Hinaan ini sungguh melukai nurani bangsa. Jika sang penguasa negeri memiliki kecintaan republik ini, lazimnya protes dan menuntut Bieber tentang tudingan negara tak jelas.
Kendati demikian, di balik tudingan menyakitkan ini, patut disyukuri. Tuhan akhirnya membuka hati nurani kaum remaja di Tanah Air. Hinaan Bieber pun akhirnya menyulap kegandrungan menjadi kebencian dan penistaan.
Murka para remaja dimanifestasikan melalui jejaring sosial, Twitter maupun Facebook. Hampir semua fans mencaci-maki Bieber, si anak pasangan broken home, Jeremy Jack Bieber dan Patricia Lynn Mallette.
Pelajaran teramat berharga bagi generasi muda Indonesia. Jangan latah dan mudah menggandrungi figur manusia yang belum jelas integritas dan kualitas ketaatannya kepada Allah.
Pengidolaan berlebihan kepada penyanyi Pop dan R&B yang salah kaprah. Faktanya, Bieber hanya merdu bernyanyi, tapi nyanyian jiwanya melukai sesama, bahkan bangsa kita.
Hikmah yang baik bagi generasi muda bangsa untuk mengidolakan satu-satunya Dzat Tertinggi, yaitu Allah beserta Nabi, sang pesuruh Tuhan di dunia. Saatnya kita sebagai orangtua mendidik anak-nak kita secara cerdas batin dan lahir! (*)