Style Blitz Tribun
Bersatu dengan Ragam Scooter
"Vespa standar yang saya beli tahun 2006, semuanya saya ubah. Dari stang, ban, knalpot, bahkan bodi nya pun saya modif.
Di antara keempat aliran tadi, terbagi dalam beberapa kurun waktu, yaitu di antaranya pada tahun-tahun awal tahun 1990-an banyak sekali dalam setiap event vespa, di mana sangat banyak vespa yang menganut aliran racing. Mereka (pemakai scooter, red) berupaya untuk memodifikasi vespa kesayangan mereka dengan model Racing look, baik dari segi body, maupun dari mesinnya saja dan ada yang sekaligus keduanya yaitu mesin dengan spek racing dan kontur bodipun juga mengikuti daya mesin agar setara dengan deruan mesin yang mereka adopsi dalam scooter mereka.
Seperti halnya, Hendry Corbuzier (35). Penggerak wirausaha bidang jasa ini tetap menggilai vespa. Sekitar tahun 2002, dia memiliki vespa jenis Sprin diproduksi tahun 1974, dibelinya waktu itu sekitar Rp 1,7 juta.
Belum puas dengan Sprin, Corbuzier beralih ke Vespa Strada, dan dimodifikasinya dengan model racing look, dengan menghabiskan dana sebesar Rp 7 juta-an. Dia merubah semua bentuk dan aksesoris dari vespa standarnya.
"Vespa standar yang saya beli tahun 2006, semuanya saya ubah. Dari stang, ban, knalpot, bahkan bodi nya pun saya modif. Tetapi itu untuk fisiknya saja, untuk mesin juga saya semi tun up dengan menggunakan piston RX-King dan tangannya menggunakan Yamaha RXZ. Bangga menggebernya," ujar Corbuzier, ditemui di rumahnya di kawasan Jl Komyos Sudarso Gg Rambutan, Kamis (26/4).
Unik dan Klasik
Bentuk yang unik dan klasik inilah yang menjadi alasan Corbuzier memilih vespa yang menjadi tunggangannya.
"Untuk memainkan warna dan menambah aksesoris vespa, mudah dilakukan. Tetapi kalau untuk motor lain sangat sulit.
Kalau mau beli motor selain vespa, berapapun dan kapan pun bisa dibeli, karena banyak tersedia di dealer. Namun kalau untuk vespa, saat ini sudah tidak ada lagi pasarannya," ujar Corbuzier.
Corbuzier menambahkan, dengan vespa dia lebih percaya diri dan mendapatkan suatu kepuasan. Pasalnya, kebersamaan dan teman lebih mudah didapatkan.
"Untuk klub motor lain, coba di lihat apa bila di jalan kita sedang mogok, mana ada saling bantu, walau motornya satu jenis. Kecuali kenal baru mau singgah. Beda dengan Vespa, di mana pun kalau kita sedang mengalami musibah, seperti ban bocor atau apalah, walau tidak kenal pasti akan singgah. Bahkan kadang sampai bantu dorong," tuturnya.
Dengan Vespa Strada 150 cc, Corbuzier telah melakukan perjalanan jauh seperti Sanggau, Sambas, Bengkayang, Ngabang, Sintang, bahkan ke Sandai Ketapang. "Semua itu saya melewati jalan darat Tayan. Tapi ingat bro, motor baru laju wajar, tetapi kalau motor tua masih bisa laju, itu luar biasa," tandasnya.
Tidak hanya hoby untuk touring, ternyata prestasi yang dia miliki sudah banyak. Untuk Drack Vespa di bawah naungan IMI, pada tahun 2009 di Pemangkat dia juara 1 se-Kalbar. Dan juga pada tahun 2010, Corbuzier mendapatkan Juara 2 untuk Racing Vespa se-Kalbar yang diadakan di Pemangkat juga.
"Jangan mengaku kaya kalau belum punya Vespa, karena apa? karena vespa ini kan sering masuk bengkel, jadi sikit-sikit duit yang harus dikeluarkan, " ujarnya tertawa.
Tak Pernah Konflik
Menurut Corbuzier, dalam komunitas vespa, kesetiakawanan dan kekompakan selalu dijaga dalam kondisi apapun. Selama 10 tahun mengenal vespa dan berbagai komunitas di Kalbar ini, Corbuzier mengatakan belum ada yang namanya anak vespa berkonflik sesama anak vespa.
"Karena sudah sering anak-anak komunitas vespa di Kalbar, khususnya Pontianak, kalau ada kawan yang sakit, atau yang memerlukan darah, pasti tanpa dikomando semua tetap turun dan membantu," jelasnya.
"Tidak hanya itu saja, sumbangan-sumbangan kawan yang tertimpa musibah pun, sering kami lakukan, walau saya Independen. Kemudian baksos-baksos yang dilakukan teman-teman di Pontianak ini, seperti membaersihkan pasar. Dan kami juga sering mengadakan Roling Thunder bersama, kumpul-kumpul bareng membahas masalah vespa, ya itung-itung tukar informasi lah," kata Corbuzier.