Style Blitz Tribun

Mandau Warisan Leluhur

Barang-barang tersebut didapat dari hasil perjalanannya ke hampir seluruh kabupaten di Kalimantan Barat.

Editor: Jamadin
zoom-inlihat foto Mandau Warisan Leluhur
Mandau Antik
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menjaga eksistensi kekayaan budaya Dayak agar tak tergerus modernisasi, merupakan acuan E Yohanes Palaunsoeka mengoleksi barang-barang antik. Ratusan barang antik khas suku Dayak seperti meriam, gong, tepa', sumpit, mandau, tombak, sape' tersimpan rapi di rumahnya di Jl Apel, Kompleks Apel Indah, Pontianak.

Barang-barang tersebut didapat dari hasil perjalanannya ke hampir seluruh kabupaten di Kalimantan Barat, yang dilakoninya sejak bujangan. Anes, sapaan akrabnya, yang juga Ketua Komunitas Perupa Kalimantan "Borneo" Wilayah Kalbar itu, sudah dididik orangtuanya untuk menjaga serta melestarikan peninggalan leluhur, termasuk menjaga barang-barang khas budaya Dayak.

Beberapa barang-barang khas Dayak miliknya, menyimpan nilai sejarah tersendiri yang tak bisa ditukar dengan materi. Seperti mandau, senjata sejenis parang, teramat berkesan dalam hidup Anes yang didapat dari orangtuanya saat dia melepas masa lajang.

"Mandau ini saya dapat dari orangtua saya saat menikah, dan sudah ada sejak kakek saya hidup. Mandau ini warisan leluhur dan umurnya sudah ratusan tahun," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id, Selasa (24/4/2012).

Dalam kepercayaan budaya Dayak, katanya, anak lelaki harus memilik parang atau mandau setelah dia menikah. Lebih jauh dari itu, terdapat ungkapan yang berbunyi matauang maniyang alat  yang berarti anak laki-laki harus pandai membuat tombak, pisau, parang, sumpit yang bertujuan sebagai perlengkapan atau perkakas untuk menemaninya dalam bekerja, berburu dan melindungi diri dari mara bahaya.

Kecintaannya pada barang-barang khas dayak itu, kian tampak jelas setelah dia memilih untuk tidak menjual pedang yang tenar disebut serawak ranger kepada kolektor.

"Pedang itu saya dapat saat saya melakukan perjalanan ke Sintang dan mau dibeli kolektor seharga puluhan juta. Dia amat tertarik lantaran ada permata di pedang itu, tidak seperti pedang-pedang lain yang hanya memuat ukiran saja,"
imbuhnya.

Tak terbersit sedikitpun dalam pikiran Anes untuk melepas barang-barang antik khas budaya Dayak kepada orang lain. Baginya, nilai sejarah yang melekat pada barang-barang antik miliknya tak dapat ditukar dengan apapun, sekalipun uang.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved