Style Blitz Tribun
Masuk Hutan Buru Anggrek
Dosen Fakultas Pertanian Untan ini terpesona dengan ribuan aneka macam bentuk daun, bunga dan warna dari anggrek.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kalimantan Barat menyimpan ribuan spesies anggrek alam. Eksotisme aneka ragam spesies anggrek di hutan Kalbar begitu menarik perhatian Agustina Listiawati untuk mengoleksi dan membudidayakannya.
Sekitar 400 spesies anggrek hutan kini tubuh di rumahnya di Jl Johan Idrus Pontianak. Perempuan yang menyelesaikan S2 Bidang Agronomi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini jatuh hati pada keindahan anggrek spesies sejak 2002.
Ia rela kelua masuk hutan nyaris diseluruh kabupaten di Kalbar demi melacak keberadaan anggrek spesies. Bersama teman-temannya penggemar anggrek, ia kerap bermalam di hutan hanya sekadar untuk mendeteksi keberadaan anggrek spesies.
"Pengalaman saat masuk hutan untuk mencari anggrek spesies teramat berharga. Dari kejadian disengat lebah, digigit lintah, bertemu dengan ular berbisa yang mengancam nyawa sudah pernah saya dan teman-teman alami. Pengalaman terakhir kita menyusuri hutan Gunung Bawang di Kabupaten Bengkayang dan bermalam di dalam hutan demi menemukan spesies anggrek hutan," ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id, di rumahnya, Sabtu (21/4/2012).
Dosen Fakultas Pertanian Untan ini terpesona dengan ribuan aneka macam bentuk daun, bunga dan warna dari anggrek. Menurutnya, waktu mekar bunga anggrek hutan juga beragam, mulai setengah hari hingga berbulan-bulan.
"Anggrek alam, atau anggrek yang asli berasal dari hutan, kaya dengan jenis atau ciri khas yang masing-masing berbeda satu sama lain. Beberapa contoh nama anggrek di taman saya ini, ada anggrek phalaenopsis bellina (lau kembang atau anggrek kelip), phalaenopsis cornucervi (anggrek ekor buaya atau anggrek bulan loreng), arachnis flos (anggrek kalajengking), coelogyne pandurata (anggrek Hitam), phalaenopsis amabilis (anggrek bulan) rhinchostylis retusa (anggrek ekor tupai), eria javanica (anggrek eria kancil), grammatophyllum speciosum (anggrek tebu) dan banyak lagi nama-nama anggrek lain," ungkapnya.
Demi mendapatpatkan anggrek, iat tak segan mengeluarkan uang Rp 2 juta hingga Rp 3 juta untuk biaya perjalanan ke hutan.
"Apalagi saat mendengar kabar bahwa hutan akan dijadikan lokasi pertambangan, baik pasir maupun emas, saya dan teman-teman berebut start dengan penambang. Saya takut dan khawatir, spesies anggrek punah sebelum diselamatkan," katanya.
Perempuan ini bahkan pernah melacak keberadaan anggrek spesies hingga ke Serikin, perbatasan Sanggau Ledo dan Kuching, Malaysia.
"Serikin itu nama pasar rakyat yang hanya ada pada Sabtu dan Minggu dan secara teritorial menjadi bagian dari Malaysia. Saya ke pasar itu dan beli anggrek spesies agar tak punah," imbuhnya.
Anggrek hutan, katanya, dapat tumbuh secara epifit atau menumpang pada tanaman lain namun tidak merusak tanaman tersebut. Anggrek tak seperti benalu. Selain itu, ada pula anggrek yang hidup di tanah yang disebut teristrial dan hidup di atas bebatuan yang disebut litopit.
Kecintaan terhadap angger juga dirasakan Saptan (62), istri purnawirawan Polri. Sudah 15 tahun ia hobi menanam dan merawat berbagai jenis tanaman hias.
Warga Jl Dr Wahidin, Kompleks Janur Asri No 21A ini memiliki empat jenis anggrek yakni anggrek tanah, vanda douglas, dendrobium dan kalajengking. Semuanya ia dapatkan dari sang kakak.
"Awalnya saya beli di daerah Sungai Selamat. Namun, yang di beli mati semua anggreknya, jadi yang sekarang ini saya minta dengan Mbak saya. Alhamdulillah semenjak 15 tahun lalu anggrek yang ada sudah banyak di rumah saya. Ini belum seberapa di banding rumah saya dulu di Siantan," imbuhnya.
Menurutnya, merawat anggrek gampang-gampang susah. Ia kerap merasa senang jika anggrek yang ia
tanam berbunga.
"Waduh, rasanya senang sekali. Untuk merawat anggrek ini sama seperti merawat anak bayi, harus telaten," jelasnya.
Untuk jenis anggrek tanah, ia harus sering memangkasnya. Dengan begitu, bunga akan cepat tumbuh. "Anggrek tanah ini, bunganya bisa sampai dua bulan tak habis-habis. Anggrek ini pun lebih gampang tumbuh di banding anggrek lain," tuturnya.
Saptan juga punya kebiasaan unik, yakni menyiramkan air sisa cucian beras dan air vetsin pada tanamannya. Ini ia lakukan setelah mendapat masukan dari para tetangganya.