Style Blitz Tribun

Anggrek Spesies Langka

Dengan penebangan hutan, habitat anggrek spesies akan hilang dan terancam punah

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Bidang Litbang dan Konservasi Anggrek Spesies, Agustina Listianawati menyatakan, maraknya eksploitasi hutan secara legal maupun ilegal mengakibatkan rusaknya hutan dan mengancam keberadaan anggrek (spesies) yang hidup secara epifit di pepohonan hutan.

"Dengan penebangan hutan, habitat anggrek spesies akan hilang dan terancam punah. Padahal, anggrek spesies dengan aneka jenisnya yang sampai ribuan merupakan kekayaan alam Kalimantan," ujar Agustina kepada Tribunpontianak.co.id, Sabtu (21/4/2012).

Penebangan hutan dengan modus kegiatan ekonomis, penjualan anggrek spesies secara tidak terkendali dan ilegal yang dilakukan penggemar anggrek dan penduduk setempat yang minim pengetahuan juga ancaman bagi kepunahan anggrek spesies.

"Penjualan anggrek spesies yang langka kepada kolektor asing yang dilakukan penduduk setempat di daerah perbatasan dengan Serawak, Malaysia adalah keadaan yang dapat mengancam kelestarian anggrek spesies Kalbar," ungkapnya.

Padahal, katanya, Indonesia merupakan satu dari 170 negara di dunia yang ikut meratifikasi peraturan dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) yang mengatur perdagangan antarnegara dari jenis-jenis flora dan fauna yang terancam punah, termasuk jenis anggrek spesies yang tidak boleh diperdagangkan kecuali hasil perbanyakannya.

"Namun, sosialisasi tentang aturan yang termaktub dalam CITES itu tidak sampai ke masyarakat setempat," tandasnya.

Mengantisipasi kepunahan anggrek spesies, dapat dilakukan dua cara konservasi. Pertama, konservasi secara ex-situ yakni konservasi anggrek spesies dikoleksi dan ditanam di luar habitat aslinya. Di kalbar, sudah dibangun Orchid Centre sejak 2004 oleh Pemprov Kalbar

"Sedangkan cara kedua yakni konservasi dilakukan secara in-situ. Artinya, anggrek spesies dibiarkan hidup di habitatnya untuk melindungi ekosistim dan habitat alaminya. Karena kebanyakan anggrek tropis bersifat epifit dengan sistem akar yang melekat pada pohon tanpa merusak pohon itu sendiri," ujarnya.

Saking cintanya pada anggrek ia menulis buku Anggrek Spesies Kalimantan Barat Volume 1 bersama dua rekannya yang juga dosen Pertanian Untan yakni Chairani Siregar dan Purwaningsih

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved