Krisis Wanita Berjiwa Kartini

Cita-cita RA Kartini berbasis ketuhanan, kebijaksanaan, perikemanusiaan dan nasionalisme. Tantangan perempuan Indonesia kini.

Tayang:
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sabtu (21/4/2012), tepat 133 tahun sejak Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah. Atau 108 tahun pascawafatnya pelopor kebangkitan perempuan Indonesia.

Putaran waktu yang teramat lama. Terlalu tua pula untuk ukuran harapan hidup orang Indonesia kini yang mencapai usia sekitar 69,4 tahun.

Lazimnya perempuan di Tanah Air kini banyak mengalami kemajuan di berbagai bidang, sebagaimana cita-cita RA Kartini.

Di zamannya, RA Kartini berjuang melalui cara khasnya. Tujuan utamanya menembus "tembok" budaya Jawa, yang diangggap mengekang kemajuan perempuan.

Cita-citanya satu, menginginkan wanita Indonesia bebas menuntut ilmu atau mendapat kesempatan belajar sama dengan kaum Adam.

Ide dan cita-cita RA Kartini terungkap dalam tulisan-tulisannya yang berbasis ketuhanan, kebijaksanaan, keindahan, perikemanusiaan dan cinta Tanah Air.

Sungguh tepat WR Supratman menciptakan lagu Ibu Kita Kartini. Ibu kita Kartini, pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka. Begitu bait lagu yang kita hafal saat SD.

Pertanyaannya, sudahkah perempuan Indonesia meneladani dan mengamalkan cita-cita RA Kartini? Kenaifan besar, apabila senandung Ibu Kita Kartini setiap peringatan Hari Kartini hanya jadi nyanyian jiwa.

Naif pula jika hanya dijadikan nyanyian formal berbagai ajang peringatan. RA Kartini tak mampu menikmati kemuliaan cita-citanya. Kaum perempuan Indonesia lah kini yang berpeluang mewujudkannya.

Hampir tiada lagi onak sosial, budaya, bahkan hukum formil yang menghambat kemajuan perempuan. Ilmu apa pun terbuka luas didalami dan dikembangkan. Profesi apa pun bisa digapai.

Distorsi
Jabatan publik dan politik di semua tingkatan bisa diraih. Perempuan kini mendapat kesempatan setara dengan laki-laki di negeri ini. Di berbagai sektor memang telah bermunculan wanita hebat, baik di dalam maupun luar negeri.

Putri sulung Bung Karno, Megawati Soekarnoputri pernah jadi orang nomor satu di republik ini. Sri Mulyani pernah menjabat Menteri Keuangan, sebelum go international. Perempuan berpengaruh di Asia ini kini menjabat managing director Bank Dunia.

Di parlemen, perempuan menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya, baik di pusat maupun daerah, termasuk distorsi yang dialami Angelina Sondakh dan Wa Ode Nurhayati.

Perempuan Kalbar relatif membanggakan. Tjhai Chui Mie mampu bercokol sebagai Ketua DPRD Singkawang. Empat perempuan lainnya, Hairiah dkk, bahkan melenggang ke DPD RI.

Tampilnya dr Juliarti Djuhardi Alwi sebagai Bupati Sambas juga membuktikan, betapa pesat dan hebat kemajuan perempuan Kalbar. Dunia usaha apalagi, relatif banyak perempuan jadi orang nomor satu. 

Jika di level nasional dan internasional, Martha Tilaar populer sebagai "ratu bisnis" kosmetika dan jamu, wanita Kalbar pun banyak yang sukses meretas usaha di berbagai bidang.

Kiprah kaum Hawa bahkan menembus profesi sarat risiko jiwa, baik sebagai prajurit TNI maupun pilot. Fakta yang berbeda 180 derajat, dibanding era RA Kartini.

Patut disyukuri di tengah usaha terus-menerus mengembangkan diri. Patut jadi obsesi setiap insan perempuan Indonesia, di mana pun dan kapan pun.

Lawan persepsi lemah, selalu di belakang laki-laki, melankolis atau kecengengan diri. Tanpa menafikkan perbedaan kekuatan fisik dibanding lelaki, bukan berarti wanita selalu kalah.

Membangun wanita tangguh lahir batin, lazim dimulai dari wanita sendiri. Sebelum menuntut hak apa pun dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, wujudkan kualitas diri prima lahir batin.

Mutu diri yang luar biasa tak ubahnya senjata terampuh mengenyahkan potensi diskriminasi. Perjuangan konkret dan efektif, dibanding unjukrasa atau protes. Saatnya meneladani Kartini dan mengamalkan makna Habis Gelap Terbitlah Terang. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved