Tragedi Pemimpin Miskin Moral
Cukup Foke keseleo jari. Pemimpin nasional dan calon-calon kepala daerah, naif menghalalkan segala cara demi meraih jabatan.
Tak hanya jadi trending topics di jejaring sosial, Twitter maupun Facebook. Calon Wakil Gubernur Jakarta dari jalur independen, Biem Benyamin pun turut jengah.
Biem menilai simbol jari itu tak pantas, dan menyangsikan Foke yang beralasan tak tahu-menahu makna acungan jari tengah.
Pelajaran teramat penting dan berharga bagi kita, terutama yang mengemban amanah sebagai pemimpin. Tak cukup kata-kata, bahasa tubuh, termasuk gerakan jari wajib benar dan bijak.
Mencapai perbuatan benar dan bijak, tentu membutuhkan pemahaman. Apa pun yang kita hadapi dan kerjakan, termasuk acungan jari tengah, naif asal acung.
Simbol jari tengah yang notabene produk "budaya" asing, memiliki makna bertolak-belakang budaya adi luhung bangsa kita.
Pantangan, tabuh atau pamali bagi pejabat publik mengacungkan jari tengah ala anak band atau lainnya. Merujuk sejarah simbol acungan jari tengah ini, memiliki makna vulgar.
Simbol jari itu identik fuck you (F-word). Pertama kali digunakan dalam kata kerja, to have sexual intercourse (untuk melakukan hubungan intim) dalam tulisan Flen Flyys tahun 1475.
Makna lainnya, dampratan. Seperti persetan dan sejenisnya. Secara politik bermakna ejekan pada masa perang Inggris-Prancis tahun 1415.
Prajurit Inggris yang tertangkap pasukan Prancis, jari tengahnya dipotong. Tujuannya, para prajurit Inggris tak mampu memanah dan menggunakan pedang untuk berperang.
Inggris memiliki senjata khas yang dinamakan English Longbow, buah karya suku asli Inggris yang hidup di pepohonan. Teknik menggunakan English Longbow itu disebut Plucking The Yew.
Segala Cara
Faktanya, Inggris tetap memenangi peperangan, lalu memunculkan ejekan kepada Prancis dengan acungan jari tengah. Ejekan ala AS dimanifestasikan melalui F-word sejak tahun 1951.
Makna ejekan ataupun berlatar niat seks, tetap tabuh bagi pejabat kita mengacungkan jari tengah. Ejekan memberi arti tak terkendalinya emosi. Manifestasinya, marah, kesal dan sejenisnya. Tentu bukan cermin pejabat bijaksana.
Apalagi, jika acungan jari tengah dimaksudkan terkait hubungan intim. Sangat naif, tragedi moral bagi pemimpin di negara kita.
Seorang pemimpin, wajib memahami sikap dan perbuatannya. Tak boleh bicara, tetapi tak memahami makna kata-katanya.
Jangan pula berbuat sesuatu tanpa memahami perbuatannya, termasuk manfaat dan mudharat-nya. Kita pun tak boleh asal ikut budaya populer saat ini, jika tak memahami maknanya.
Alasan anak band gemar dan beken mengacungkan jari tengah, bukan berarti Foke maupun pemimpin lainnya mengikuti begitu saja.
Jika kita mencintai bangsa, tak boleh ambisi pribadi mengalahkan keutamaan visi bangsa. Tujuan menjaring suara sebanyak-banyaknya dari kaum muda saat pemilihan gubernur Jakarta bagi Foke, naif diraih melalui acungan jari tengah.
Tak mengerti arti atau guyonan, bukan alasan bijak dan bajik. Lazimnya, kita tetap tawadhu mengamalkan nilai-nilai religi, norma budaya dan norma sosial masyarakat tercinta.
Salah substansial dalam memilih kultur kepemimpinan, hanya memantik "api" kehancuran peradaban masyarakat. Ibarat guru kencing berdiri, maka murid akan kencing sambil berlari.
Cukup Foke keseleo. Pemimpin dan calon-calon kepala daerah di Tanah Air, termasuk di Kalbar, patut memetik hikmah. Jangan sampai mengulangi cara serupa, atau menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan di dunia. (*)