Tsunami Di Bumi Langka Damai
Tsunami Aceh yang bertepatan Pilgub kali ini sarat makna dan hikmah. Pasti ada maksud Allah di balik ketidakdamaian Aceh selama ini
Warga Lingke ini diduga tewas akibat serangan jantung, menyusul gempa beruntun berskala rata-rata 8,5 Richter yang mengguncang Aceh.
Versi US Geological Survey kekuatan gempa 8,9 SR. Warga Aceh dicekam kepanikan dan berhamburan keluar rumah. Serambi Mekkah-nya Indonesia, kembali diguncang bencana.
Kendati presiden belum mendapat laporan korban jiwa dan material, 14 gempa sejak pukul 15.38 WIB itu telah memantik tsunami.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pusat mengumumkan tsunami kecil di tiga titik. Tinggi gelombang tsunami di Sabang 20 cm, Meulaboh 80 cm dan Nias 60 cm.
Tsunami kecil dibanding episode 26 Desember 2004. Kala itu tinggi gelombang mencapai 30 meter. Namun, terlalu dini menyederhanakan musibah dari Allah ini.
Umumnya, korban tewas tak cepat diketahui. Pengalaman tsunami Aceh 2004, korban tewas 229. 866 orang baru terungkap setelah beberapa hari.
Bencana terdahsyat setelah gempa Chili 1960 itu, lokasi episentrum gempanya di pantai barat Sumatera, utara Pulau Simeulue. Pusat gempa berkekuatan 8,9 SR di kedalaman 30 km, bawah permukaan laut.
Hampir sama, pusat gempa kali ini di laut dengan kedalaman 10 km. Titik gempa di Simeuleu memicu getaran kuat di Aceh, Sumut dan beberapa daerah lain, termasuk Thailand diterjang tsunami kecil.
Kendati gempa baru merontokkan tembok LP Aceh dan BMKG mengakhiri peringatan tsunami pukul 19.45, pusat tsunami Pasifik tetap mengeluarkan peringatan tsunami 28 negara.
Mari berdoa, mohon pertolongan Allah agar saudara-saudara kita selamat dari tragedi memilukan ala tsunami 2004. Dampak bencana dahsyat itu, hingga kini belum sirna, lahir maupun batin.
Kerusuhan Pilgub
Warga Aceh yang trauma mengungsi, berdiam di masjid-masjid. Isyarat bagi kita, kembali ke Allah. Semua kehidupan kita wajib dikembalikan ke hukum Ilahi.
Masjid adalah rumah Allah. Faktanya, tak ada benteng di dunia mampu melindungi jiwa kita, kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Di balik musibah apapun, senantiasa mengandung hikmah.
Sepatutnya dijadikan titik balik memperbaiki kesadaran religi kita, makna berkemanusiaan, maupun sadar arti penting lingkungan semesta anugerah Allah.
Musibah yang mengguncang Aceh, tak terhitung banyaknya. Demikian pula daerah lain di Tanah Air. Kenaifan besar, jika kita menganggap "hanya" peristiwa alam.
Tanpa kehendak Allah, gempa, tsunami dan bencana lainnya, tak mungkin terjadi sendiri. Mari menelisik batin, manakala berada dalam pesawat di angkasa.
Bentang cakrawala angkasa tanpa batas disertai gunungan awan di bawah, menunjuk adanya Dzat Maha Tinggi, yang sama sekali bukan tandingan kehebatan manusia manapun di dunia.
Gempa dan tsunami Aceh yang bertepatan pemilihan gubernur kali ini, sarat makna dan hikmah. Pasti ada maksud Allah di balik kehidupan selama ini.
Bertahun-tahun Aceh sarat konflik, drama politik yang memantik berbagai tragedi kemanusiaan. Tiadanya kedamaian bak menenggelamkan peradaban. Saling mencintai sesama, menyayangi lingkungan alam ciptaan Allah, begitu menipis.
Yang mengusik nurani, sesaat sebelum gempa Aceh kemarin, meletus kerusuhan massa di Kabupaten Gayo Lues. Massa membakar tiga kantor kecamatan dan kantor Komisi Independen Pemilihan, setelah kisruh penghitungan suara.
Tak kalah menggelitik, keresahan etnis akibat penembakan sipil yang menewaskan sejumlah buruh asal Jawa, Januari lalu. Mereka tewas tanpa mengerti kesalahannya.
Ironis bantuan tanpa pamrih etnis apapun dan dari manapun yang berduyun-duyun meringankan derita Aceh 2004 silam. Sampai kapan Aceh menjauhi kedamaian? Jangan sia-siakan lagi hikmah di balik bencana dari Allah kali ini. (*)