Style Blitz Tribun
Guci Bisa Hilangkan Stres
Di mata Zanzibar, guci memiliki keindahan sendiri dan bisa menjadi penghibur hati
Hj Uray Zanzibar satu di antara kaum ibu di Kota Pontianak yang tertarik mengoleksi guci. Di mata Zanzibar, guci memiliki keindahan sendiri dan bisa menjadi penghibur hati. Karena itulah, setiap sudut rumahnya dihiasi dengan guci-guci yang indah nan menawan mulai ukuran kecil hingga besar bahkan melebihi tinggi orang dewasa. Kebanyakan guci yang ia miliki berasal dari luar negeri. Beberpa di antaranya guci buatan Indonesia, hanya saja ukurannya lebih kecil, seperti guci bertuliskan kalimah.
Wanita kelahiran 19 Juli 1945 ini mulai tertarik mengoleksi guci semenjak 20 tahun silam. Guci berbahan keramik menjadi pilihan utama baginya. Ketertarikannya berawal dari pengaruh situasi pada masa itu dimana semua orang sedang marak-maraknya berburu guci beragam bentuk.
"Saya melihat guci itu sangat bagus, unik, warnanya cantik dan modelnya juga lucu-lucu. Sekalipun hobi, tidak semua guci langsung saya beli, tergantung cocok atau tidaknya dengan selera," kata Zanzibar pada Tribun, Minggu (25/3/2012).
Zanzibar memiliki teman penjual guci yang mendatangkan langsung barang dari luar negeri termasuk Singapura dan China. Dari temannya inilah ia mendapatkan beragam guci untuk memperkaya koleksinya. Ia membeli guci tersebut di Kalbar, dengan pertimbangan menghindari resiko.
"Kita beli mahal-mahal taunya pecah atau sumbing, itu akan percuma. Kalau beli di sini kita bisa lihat masih utuh atau tidak meskipun harganya lebih mahal," kata pensiunan Polwan ini.
Setiap kali ada guci terbaru, Zanzibar tidak berpikir dua kali untuk membelinya dengan syarat sesuai selera. Harganya pun bervariasi yakni dari Rp 800 ribu hingga 4,3 juta pada tahun 1992.
Dalam beberapa tahun terakhir, Zanzibar mulai jarang membeli guci, karena koleksinya sudah memenuhi setiap sudut rumahnya. Saat ini Zanzibar memiliki sekitar 20 buah guci ukuran besar.
"Setiap kali ke luar negeri, saya menyempatkan diri mengunjungi tempat penjualan guci. Jika dibandingkan dengan koleksi saya, sungguh jauh berbeda. Memang ada model serupa, akan tetapi dari segi warna tidak alami. Guci sekarang ini terlalu cerah dan coraknya juga terkesan seperti cetakan mesin, bukan ukiran tangan," kata istri Drs H Ilham Sanusi ini.
Dari sekian banyak koleksinya, terdapat satu guci paling disayang, yakni guci berukuran besar yang ditempatkan di ruang utama. Warna maupun motifnya begitu menarik dan natural. Guci buatan Singapura ini dibeli Rp 4,3 juta pada tahun 1992 silam.
"Saya paling suka guci warna biru ini. Selain warnanya yang memikat, bentuk dan coraknya juga bagus. Saya pernah cari ke beberapa tempat di Indonesia tapi belum pernah menemukan guci serupa," katanya.
Ia mengatakan kualitas guci saat ini tidak sama dengan guci terdahulu. Akan tetapi jika menemukan guci yang kualitasnya bagus dan sesuai dengan selera ia masih berkeinginan membeli.
"Senang sekali rasanya melihat guci unik dengan kombinasi warna serta corak bagus. Ini bisa membantu menghilangkan stres," katannya.
Koleksi guci itu ternyata memikat hati teman sang suami, seorang pengusaha dari Jakarta. Si pengusaha itu menyampaikan ketertarikannya membeli rumah Zanzibar sekaligus guci di dalamnya
"Aduh di rumah ibu banyak guci yang bagus-bagus, kalau mau jual rumah tawari saya ya," kata Zanzibar menirukan ucapan teman suaminya itu.