Kapolda Kalbar Ancam Provokator

Kota Pontianak yang kembali damai, terusik video rekayasa bentrokan antar-kelompok yang diduga ulah provokator.

Tayang:

"Yang jelas bukan FPI dan tidak ada pakaian putih dipakai saat itu (15 Maret). Kami meminta situs tersebut segera diblokir, itu bisa membuat orang terprovokasi. Membangun opini untuk mengadu-domba. Jangan sampai kedamaian masyarakat Kalbar terganggu," kata Afly Herlambang.

FPI mencermati dari peristiwa yang terjadi sudah berbau tunggangan politik. FPI sejak awal sudah berkomitmen menjaga stabilitas keamanan di Kalbar. "Kita komitmen bagaimana Kalbar ini bisa aman dan bisa terbangun. Kita sudah capek diusik-usik. Padahal selama ini kami tak pernah memiliki catatan hitam," tegas Afly.

"FPI selama ini untuk mempersatu umat, bukan memecah belah umat. FPI selama itu tak pernah membakar kantor, melakukan tindak kriminal. Tolonglah hargai kami. Kepala media juga diharapkan selalu kroscek sebelum memberitakan sesuatu," harapnya.

Pererat Silaturahim
Tokoh Kalbar, H Uti Konsen berharap Kalbar aman dan nyaman serta segenap warga hidup rukun. Kendati di Pontianak sempat terjadi kesalahpahaman, di Ketapang tetap aman dan damai.
H Uti pun menyarakan segenap umat Islam meneladani Nabi.

Mengamalkan empat konsep dasar. "Sampaikan salam, pererat tali silaturahim, beri makanan, salat waktu malam, maka dipastikan masuk surga," kata H Uti Konsen.

"Cukup lakukan empat hal itu, salam, tali silaturahim, beri makanan, dan salat diwaktu malam. Saya sampaikan ini kepada Kapolda, dan Insya Allah masyarakat Kalbar, termasuk Ketapang ini hidup aman dan damai. Tak terpengaruh aksi-aksi apapun," tuturnya.

Menurut H Uti Konsen, silaturahim bukan hanya terhadap sesama umat Islam, tetapi semuanya. Seperti yang dilakukan Nabi Muhammad saat hijrah saat bertemu nonmuslim.

"Ketika ada demo, coba pemerintah menampungnya dan beri makan dan minum, lalu dengar dan tampung aspirasinya. Saya yakin pasti sudah lupa mau demo lagi. Contoh lainnya, semut suka dengan gula, tapi tidak pernah sakit gula. Karena semut setiap ketemu itu bersalaman," jelas H Uti Konsen.

"Nabi telah mengajarkan kepada kita. Jangan menyiksa binatang, dan melukai tumbuhan. Kalaupun memotong harus dengan pisau yang tajam. Apalagi dengan sesama manusia, kita harus saling menghargai dan tolong menolong," tandasnya.

"Contoh ketika ada kecelakaan. Apakah kita tanya dulu, agamamu apa, bru kita tolong, kan tidak! Berarti kita itu sebenarnya sudah ada empat hal dasar tersebut. Kembangkanlah budaya itu, pasti kita bisa hidup aman dan damai," tandas H Uti Konsen.

Dampak Negatif
Hingga kemarin, aparat Kepolisian masih menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di jalanan Pontianak. Meski kedamaian telah tercipta kembali, menurut Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Mukson Munandar, perlu pemeliharaan.

"Aktivitas masyarakat sudah berjalan lancar dan sangat kondusif. Namun demikian kita tetap waspada. Pasukan tetap berada di lapangan, untuk mengantisipasi. Karena kebetulan juga bertepatan malam Minggu, ada aksi kebut-kebutan dan sebagainya," kata AKBP Mukson.

Sebagai bentuk antisipasi, seluruh jajaran Kepolisian, Sabtu kemarin tetap berdinas dan melakukan apel bersama di Mapolda Kalbar. Kabid Humas berharap keamanan yang sudah kembali tercipta ditingkatkan terus.

Mengenai tiga orang korban luka di Jalan Veteran, AKBP Mukson meminta segera membuat laporan polisi. "Silakan kepada tiga korban membuat laporan polisi. Silakan lapor Polresta Pontianak untuk diambil keterangannya dan dilakukan penyelidikan," imbaunya.

Anggota DPR RI, Karolin Margaret Natasha pun mengimbau masyarakat agar tak mempercayai isu-isu yang bermunculan. "Karena saya tahu memang banyak isu berkembang di masyarakat yang tak sesuai kenyataan. Tetap jaga ketenangan dan ketenteraman masyarakat," tegas Karolin.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved