Breaking News

Style Blitz Tribun

Berburu Album Jazz di Kuching

Meski demikian, Hamdani baru mendengarkan banyak lagu jazz saat ia duduk di kelas 2 SMA.

Editor: Jamadin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Sejak masih duduk di bangku SMP, Hamdani Hamzah (49), Staf Kontrol Intern Cabang (KIC) di Bank Kalbar cabang Flamboyan, sudah kenal pada musik jazz. Menurutnya, musik jazz masuk ke Kalbar, khususnya Pontianak, sekitar 1979- an ketika itu.

Meski demikian, Hamdani baru mendengarkan banyak lagu jazz saat ia duduk di kelas 2 SMA.

"Alunan musik jazz lebih mengena di hati saya di bandingkan jenis musik lainnya," kata Hamdani, saat ditemui Tribunpontianak.co.id,  di kediamannya di kawasan Teluk Mulus, Jumat (9/3/2012).

Koleksi album jazz pertamanya, adalah kelompok musisi jazz seperti Shakak, dan Aljaro. Grup musik  ia cukup terkenal pada awal tahun 80-an. Karena terlanjut cinta, Hamdani pun mengoleksi berbagai kelompok musisi beraliran jazz. Koleksinya kini sudah mencapai 700-800 album. Sebagian besar di antaranya masih berupa pita kaset.

Untuk mendapatkannya, pria pecinta musik jazz jenis Instrumental ini, harus berburu koleksi lag- lagu Jazz di pasar-pasar loak di Pontianak. Itu ia lakukan pada akhir tahun 80-an. Tak hanya itu, Hamdani juga sampai harus ke Jakarta. Di sana ia berburu kaset-kaset jazz di daerah Mangga Dua dan Blok M. Di sana barang-barang koleksi musik jazz memang cukup banyak, karena diimport langsung dari luar.

Tidah berhenti di situ saja. Demi mendapatkan album-album favoritnya, Hamdani kadang harus memesan via internet. Bahkan beberapa koleksinya ia dapatkan di Kuching, Malaysia. "Karena hargannya jauh lebih murah dibanding di Jakarta," ujarnya.

Belasan bahkan puluhan juta telah ia habisk untuk memiliki koleksi album berirama jazz. Tak hanya musisi luar negeri, karya musisi Indonesia juga banyak ia koleksi. Di antaranya Spirit Band dari Dewa Bujana, Black Fantasi, Baskan Band, Tohpati dan Balawan (Etnik Jazz). "Mungkin itu beberapa koleksi yang saya miliki," tuturnya.

Ke semua koleksi yang ia miliki, harganya berkisar antara Rp 2.500 sampai dengan Rp 20 ribuan. "Itu harga pada tahun 80-an," katanya.

Dengan bergesernya era pita kaset ke keping cakram seperti CD atau DVD, harganya pun berbeda. "Ada yang saya beli Rp 50 ribu, ada juga yang sampai Rp 119 ribu. Tetapi harga itu saya dapat di Jakarta. Karena di Pontianak sangat susah untuk mencari koleksi musik jazz," tuturnya.

Tak jauh berbeda dengan Ran Cancer (50), Staf Umum di Fakultas Ekonomi Untan. Sejak 1980- an ia sudah menggemari jenis musik yang satu ini. Namun baru sejak awal 90-an ia mulai mengoleksi pita kaset berirama jazz. "Ada puluhan album yang pernah ia beli. Tapi banyak yang minjam dan tidak dikembalikan lagi," ujarnya.

Untuk mengkoleksi album jazz, Ran pun harus ke Jakarta. "Harganya ketika itu sekitar Rp 5.000 sampai Rp 20 ribuan. Itu harga tahun 80-an lho, kalau nilai rupiah sekarang, sekitar jutaan, bahkan belasan juta," katanya.

Untuk kenikmatannya mengoleksi dan bermain musik jazz, sendiri, Ran mengaku kehabisan kata-kata. "Tidak bisa dibilang dengan kata-kata, apa lagi sudah mencapai soul-nya. Yang pasti ketenangan dan  kepuasan batin yang dirasakan," tuturnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved