Ke Kuching Bersama MASwings (2-Selesai)
Kucing Pun Jadi Objek Wisata
Agustinus mencontohkan, burung enggang yang diawetkan merupakan burung kebanggaan Kalbar dan saat ini sudah semakin punah
ROMBONGAN dari Kalbar berkunjung selama dua malam tiga hari ke Kuching atas undangan MASwings. Tak hanya Kampung Budaya Sarawak yang dijadikan objek wisata. Museum pun ternyata bisa dikelola menjadi objek wisata yang menarik.
Dua museum yang dikunjungi Tribun bersama dengan delegasi dari Kalbar dan Brunei Darussalam adalah Dewan Bandaraya Kuching Utama dan Pusat Hidupan Liar Semenggoh.
Delegasi Kalbar, yang berjumlah 26 orang, begitu tiba di Bandara Internasional Kuching langsung dijemput dan menuju ke Dewan Bandaraya Kuching Utama.
Perjalanan yang membutuhkan sekitar 45 menit dari Bandara yang berada di Kuching Selatan menuju Dewan Bandaraya yang lokasinya di Kuching Utara bukanlah perjalanan yang melelahkan karena kondisi jalan yang mulus.
Antara Kuching Selatan dan Kuching Utara dibatasi Jembatan Satok atau Jembatan Tun Abdul Rahman Yakoub yang melintasi Sungai Kuching.
Setibanya di halaman Gedung Dewan Bandaraya, kami dapat melihat indahnya Kota Kuching karena lokasinya yang berada di bawah kaki gunung, serta pemandangan yang indah dan bersih di sekelilingnya.
Sementara di dalam gedung yang dijadikan museum terdapat berbagai jenis binatang kucing yang telah diawetkan ataupun patung dan aksesorisnya yang merupakan ikon negara bagian Sarawak tersebut.
Delegasi Kalbar yang melancong tentu tidak mau menyia- nyiakan objek yang menarik ini. Jepret sana jepret sini. Ada yang ambil latar belakang gedungnya, replika kucing, atau pemandangan indah Kota Kuching.
Meski begitu, pengunjung tidak bebas berfoto di dalam museum atau dalam Gedung Dewan Bandaraya. Setiap yang mau berfoto dikenakan biaya, tergantung kamera yang digunakan dan paling murah tiga ringgit Malaysia atau sekitar Rp 10 ribu.
Hari kedua, delegasi Kalbar juga dibawa mengunjungi museum, tapi museum kali ini berbeda, yakni Pusat Hudupan Liar Semenggoh. Di museum ini kita bisa melihat berbagai jenis binatang yang ada di hutan Sarawak. Tentunya bukan binatang yang masih hidup, melainkan binatang asli yang telah diawetkan.
Di antaranya, terdapat bermacam jenis ular, burung, ikan, kura-kura, dan pinyuh, serta orangutan yang tingginya hampir 2 meter beserta dengan anak-anaknya. Tak kalah unik dan menarik adalah tengkolak paus raksasa.
Setiap binatang yang diawetkan diberikan keterangan singkat tentang spesiesnya, sehingga yang berkunjung bisa mengetahui dan mendapat pengetahuan.
Kabid Perhubungan Udara dan Pengembangan Sistem Dishubkominfo Kalbar, Agustinus Edi Sukarno, yang juga diundang MASwings, mengapresiasi kreativitas masyarakat Sarawak.
"Mereka sangat kreatif, dibandingkan dengan kita masyarakat Kalbar kita ketinggalan. Kelihatannya sederhana objek yang ada di museum ini, tapi daya tarik dan nilainya luar biasa. Nilainya akan semakin bertambah jika semakin lama usianya, karena binatang seperti ini akan punah atau berkurang di alam bebas sana sesuai perkembangan zaman," ujarnya.
Agustinus mencontohkan, burung enggang yang diawetkan merupakan burung kebanggaan Kalbar dan saat ini sudah semakin punah. Sekitar 10 sampai 20 tahun mendatang kemungkinan generasi muda tidak bisa menemukan burung enggang lagi.
Delegasi lainnya, Aning, mengatakan, seharusnya pemerintah Pontianak bisa mengembangkan ikon Pontianak, yaitu Tugu Khatulistiwa seperti di Kuching. Pemerintah harus proaktif berkreasi untuk mengemas Tugu Khatulistiwa agar benar-benar memiliki nilai jual.
"Terutama pada saat memperingati titik kulminasi yang setahun dua kali, bagaimana caranya agar memiliki nilai jual yang lebih dari tahun sebelumnya," tuturnya. (steven greatness/Tribun Pontianak cetak)