Polda: Positif Keracunan

Pemakaman sempat tertunda karena ada kabar yang beredar bahwa siapapun yang menyentuk jenazah akan ikut meningga

Tayang:
Editor: Jamadin
zoom-inlihat foto Polda: Positif Keracunan
Humas Polda Kalbar, Mukson
TRIBUNPONTIANAK.CO. ID, LANDAK- Kasus kematian enam warga Dusun Sebadok, Kabupaten Landak, masih dalam penyelidikan. Bupati Landak, Adrianus Asia Sidot, menegaskan, keenam warganya meninggal bukan karena wabah penyakit atau roh jahat, tetapi karena keracunan.

"Hasil autopsi sementara, diduga kuat mereka meninggal dunia karena keracunan. Sampel organ sudah dikirim ke Jakarta untuk memastikan penyebab dan jenis racun," kata Adrianus yang dihubungi Tribun melalui telepon selulernya, Senin (13/2/2012).

Sebagaimana berita Tribun sebelumnya, sekitar 500 warga Dusun Sebadok beramai-ramai mengungsi menyusul kematian enam warga dusun. Mereka khawatir ada wabah ganas ataupun roh jahat yang sedang menyerang desa mereka.

 Enam warga yang meninggal secara berurutan pada Sabtu (11/2) siang hingga malam adalah Ego (3), Marina (23, ibu Ego), Ebok (20), Daman (35), Atis (32), dan David Budai (63). atu korban lainnya yang masih sakit adalah Sario (38).

Warga mengungsi ke berbagai tempat, termasuk ke Ngabang, ibu kota Landak. Hingga Senin kemarin, sebagian besar masih  bertahan di tempat pengungsian masing-masing. Mereka meminta jaminan dari pemerintah bahwa desa mereka sudah benar-benar aman.

Bupati menuturkan, jenazah warga yang meninggal sudah dikebumikan oleh tim dari kabupaten. Pemakaman sempat tertunda karena ada kabar yang beredar bahwa siapapun yang menyentuk jenazah akan ikut meninggal.

Adrianus menuturkan, dari sekitar 28 warga yang tetap bertahan di Dusun Sebadok untuk menunggui jenazah, tidak ada satu pun yang mengalami gejala seperti yang dialami para korban.

"Warga yang memilih menetap untuk menunggui jenazah sehat wal afiat. Jadi, tidak benar kalau ada virus atau hal-hal lain yang menjadi penyebab meninggalnya keenam warga itu," tegasnya.

"Segeralah pulang. Tidak ada virus, tidak ada wabah yang perlu ditakutkan. Segeralah pulang. Yang tinggal di desa saja buktinya masih sehat wal afiat," imbaunya.

Kepala Bidang Humas Polda Kalbar, AKBP Mukson Munandar, yang dihubungi terpisah, mengatakan, jajaran kepolisian bersama tokoh masyarakat dan Pemkab Landak berusaha meyakinkan warga bahwa musibah itu tidak ada hubungannya dengan perbuatan makhluk halus, melainkan diduga kuat karena keracunan makanan.

Mukson menjelaskan, tim forensik yang terdiri dari Mabes Polri, dan Kedokteran dan Kesehatan Polda Kalbar yang  dipimpin dr Risnawan, sudah mengambil sampel, makanan, tempat yang digunakan untuk masak, dan melakukan autopsi terhadap satu korban karacunan.

Menurut Mukson, tim sudah kembali ke Pontianak. Dalam waktu seminggu paling lama, hasil lengkap autopsi sudah bisa diketahui. Untuk saat ini, belum bisa dipastikan jenis racun yang menyebabkan kematian korban.

"Positif keracunan, tidak ada penyebab lainnya. Ini dilihat dari gejala mulut berbuih dan kejang-kejang. Dan, juga sudah dilakukan pengambilan keterangan dari warga masyarakat sekitar," ujar Mukson.

"Masyarakat tidak perlu resah dan cemas. Kematian enam warga itu akibat keracunan yang bersumber dari makanan yang mereka makan. Silakan pulang kembali ke rumah masing-masing," katanya.

Hal yang sama diutarakan Kapolres Landak, AKBP Hotman Victor Sihombing. Dia mengatakan, pihaknya sedang melakukan penyelidikan terkait meninggalnya enam orang warga. Ia belum bisa memberikan keterangan terkait penyebab meninggalnya enam warga tersebut.

Namun, berdasarkan informasi dari tim dokter forensik dari RSUD Ngabang, diduga penyebabnya adalah karena keracunan makanan. "Kami masih menunggu hasil yang pasti dari tim dokter forensik terkait penyebabnya," ujar Hotman.

Gejala Keracunan
Kepala Dinas Kesehatan Landak, drq Magdalena Nurainy Sitinjak, yang dikonfirmasi Tribun, Senin, menyatakan, tim terkait sudah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah sampel.

"Ini diduga kuat karena racun. Ini juga sesuai dengan gejala  sebelum korban meninggal, yakni ada buih, kejang-kejang, dan badan membiru. Namun, untuk kepastian penyebabnya, masih menunggu hasil penyelidikan pihak kepolisian," ujarnya.

Ia juga membantah bahwa penyebab kematian adalah virus atau pun wabah. Hal itu terbukti dengan masih sehatnya warga dari keluarga korban yang tidak mengungsi. Ia pun telah menerangkan keadaan itu kepada warga, namun belum ditanggapi dengan baik.

Nurainy mengatakan ia bersama tim dari Diskes Kalbar telah mengunjung langsung ke rumah korban yang ada di Dusun Sebadok pada Senin siang.

"Saya berkunjung langsung ke lima rumah korban, dan kemudian saya ke tempat pengungsian yang ada di gedung SMPN 2 Kuala Behe," ujarnya.

"Saya sudah sampaikan kepada warga di tempat pengungsian. Saya katakan, kami sudah ke dusun, dan kami pun sehat-sehat saja," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan warga selama di pengungsian, Nurainy mengatakan telah mengirimkan sejumlah kebutuhan, termasuk obat-obatan. Ia tetap mengimbau agar warga segera kembali ke dusunnya.

Sementara itu, F Mitan yang menjabat Ketua RT 05/03 Dusun Sebadok, mengatakan, setelah ada kunjungan dari Dinas Kesehatan, desa sudah bisa dikatakan 75 persen aman.
Mengenai korban sakit, Sario (38), rencananya mau dibawa ke RSUD Landak oleh tim dari dinas kesehatan. Kondisi Sario hanya bisa baring, tidak bisa ngomong karena sakit. Pada Minggu (12/2) lalu, Sario juga mengalami kejang-kejang.

"Waktu itu keadaan di kampung sedang panik. Sario sempat kejang-kejang, sama yang yang diderita oleh warga yang  meninggal. Sekarang sudah tidak kejang-kejang lagi, tapi perlu pemeriksaan lanjutan. Kasihan, dia ada enam anak dan dua istri," ungkap Mitan.

Hari Ini Pulang
Sekretarus Desa Termahar, Sanan, yang dihubungi Tribun,  mengungkapkan, direncanakan pada Selasa (14/2/2012) ini warga akan kembali pulang ke rumah masing-masing.

"Mereka sudah mau pulang. Kasihan juga mereka hidup di sini dengan seadanya. Anak-anak juga sudah waktunya sekolah," ujar Sanan.

Untuk kepulangan warga ke dusun, ujar Sanan, akan menggunakan truk milik perusahaan sawit. "Saya sudah ke dusun bersama Kepala Dusun dan Ketua RT untuk melakukan pengecekan di kampung, sambil mendampingi tim dari Dinas Kesehatan," paparnya.

Selain itu, menurut Sanan, Dewan Adat memutuskan, cukup satu jenazah yang akan diperiksa oleh aparat kepolisian. "Warga bukannya tidak setuju, tapi itu sudah keputusan adat. Proses pemakaman juga sudah di lakukan secara adat hari Minggu lalu," ujar sang Sekdes.

Sanan menceritakan, warga mengungsi pada Sabtu malam hingga Minggu siang. Ada yang berjalan kaki, sebagian ada yang diangkut dengan kendaraan roda empat milik perusahaan sawit.
"Hingga saat ini warga masih ada yang trauma. Makanya, mereka baru ingin kembali kerumah jika keadaan aman atau ada kepastian dari pemerintah," ucapnya.

Sanan juga mengharapkan pemerintah memberikan bantuan pengobatan atau pemeriksaan terhadap kesehatan warga, karena dari Sabtu hingga Minggu lalu cuaca tidak menentu, sebentar  hujan, sebentar panas.

"Mereka tidak membawa bekal selimut ataupun lain, karena yang ada di pikiran cuma keselamatan jiwa mereka dan keluarga. Tapi, syukur pemerintah dan tokoh masyarakat sudah ada yang membantu beras dan alat masa. Bantuan dari Pak Bupati tiba Minggu malam," ungkapnya.

Sekdes mengatakan, jumlah  beras cukup untuk makan, tapi lauk-pauk menipis. "Kebanyakan tidak membawa uang, semua tersimpan di rumah," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved