Solusi Sehat
Cara Baru Lawan Kanker Dengan Imun Tubuh
Vaksin eskperimental ini mampu mengecilkan tumor, dan nantinya bisa dikembangkan sebagai bentuk pengobatan kanker masa depan.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Sekarang ini pengobatan kanker mengandalkan imun tubuh pasien. Para ilmuwan Inggris dan Amerika telah mengembangkannya.
Para ilmuwan Inggris dan Amerika Serikat telah mencoba menggunakan perpustakaan DNA yang diambil dari organ tempat tumor berkembang. Protein yang diambil dimanfaatkan untuk merespons kekebalan tubuh, sekaligus membuat vaksin untuk dirancang sebagai obat kanker.
Dalam penelitoan yang diterbitkan jurnal Nature Medicine, Minggu (19/06/2011), para peneliti menggunakan tes pada tikus untuk pengobatan kanker prostat.
Vaksin eskperimental ini mampu mengecilkan tumor, dan nantinya bisa dikembangkan sebagai bentuk pengobatan kanker masa depan.
Alan Melcher dari Leeds University yang memimpin penelitian menjelaskan metode tersebut bisa dipakai untuk melawan kanker kulit atau kanker payudara.
Namun pada penelitian itu masih dalam tahap awal, dan perlu beberapa tahun kemudian untuk diujikan pada manusia.
Namun perusahaan farmasi Bristol-Myers Squibb telah merancang pengobatan imunoterapi. Obat yang disebut ipilimumab atau Yervoy ini sudah disetujui Food and Drug Administration pada Maret lalu, sebagai obat pertama untuk membantu pasien melanoma tingkat lanjut, agar hidup bisa lebih lama.
Dan April lalu FDA menyetujui Provenge Dendreon Corp, sebuah vaksin terapi yang dirancang untuk merangsang sistem kekebalan tubuh, untuk melawan kanker prostat.
Pembuatan vaksin yang berdasarkan imun tubuh memang tidak mudah. Banyak ilmuwan yang gagal karenanya. Namun para ilmuwan Inggris dan Amerika ini mulai menemukan pendekatan, dengan memakai perpustakaan DNA untuk dilakukan rekayasa genetika, termasuk fragmen beberapa gen untuk memproduksi antigen yang cukup banyak.
Dengan metode ini maka vaksin yang dimasukkan bisa memiliki banyak rute untuk membunuh tumor lewat rentang DNA yang ada.
Melcher lebih lanjut mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam imunologi adalah pengembangan antigen yang dapat menargetkan tumor, tanpa menyebabkan kerusakan di tempat lain.
Para ilmuwan Inggris dan Amerika Serikat telah mencoba menggunakan perpustakaan DNA yang diambil dari organ tempat tumor berkembang. Protein yang diambil dimanfaatkan untuk merespons kekebalan tubuh, sekaligus membuat vaksin untuk dirancang sebagai obat kanker.
Dalam penelitoan yang diterbitkan jurnal Nature Medicine, Minggu (19/06/2011), para peneliti menggunakan tes pada tikus untuk pengobatan kanker prostat.
Vaksin eskperimental ini mampu mengecilkan tumor, dan nantinya bisa dikembangkan sebagai bentuk pengobatan kanker masa depan.
Alan Melcher dari Leeds University yang memimpin penelitian menjelaskan metode tersebut bisa dipakai untuk melawan kanker kulit atau kanker payudara.
Namun pada penelitian itu masih dalam tahap awal, dan perlu beberapa tahun kemudian untuk diujikan pada manusia.
Namun perusahaan farmasi Bristol-Myers Squibb telah merancang pengobatan imunoterapi. Obat yang disebut ipilimumab atau Yervoy ini sudah disetujui Food and Drug Administration pada Maret lalu, sebagai obat pertama untuk membantu pasien melanoma tingkat lanjut, agar hidup bisa lebih lama.
Dan April lalu FDA menyetujui Provenge Dendreon Corp, sebuah vaksin terapi yang dirancang untuk merangsang sistem kekebalan tubuh, untuk melawan kanker prostat.
Pembuatan vaksin yang berdasarkan imun tubuh memang tidak mudah. Banyak ilmuwan yang gagal karenanya. Namun para ilmuwan Inggris dan Amerika ini mulai menemukan pendekatan, dengan memakai perpustakaan DNA untuk dilakukan rekayasa genetika, termasuk fragmen beberapa gen untuk memproduksi antigen yang cukup banyak.
Dengan metode ini maka vaksin yang dimasukkan bisa memiliki banyak rute untuk membunuh tumor lewat rentang DNA yang ada.
Melcher lebih lanjut mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam imunologi adalah pengembangan antigen yang dapat menargetkan tumor, tanpa menyebabkan kerusakan di tempat lain.