Dokter Bukan Tuhan
Untuk menjadi seorang dokter, ia harus rela kehilangan waktu bareng teman-teman sebayanya. Ia giat belajar agar lulus sesuai target yang diinginkan
Penulis: Mirna | Editor: admin
dr Maria Ulfa MM
Tribunpontianak.co.id - Menjadi seorang dokter adalah beban moral bagi Maria Ulfa dalam menjalankan profesinya. Salah sedikit mengobati orang lain dapat berakibat fatal, menurutnya.
"Saya selalu memperlakukan pasien seperti diri saya sendiri. Sehingga jika ada yang datang untuk berobat kepada saya, senantiasa dengan seksama memeriksa dan mengobati mereka. Masalahnya, apa yang saya lakukan tanggung jawabnya kepada Tuhan," tutur Maul panggilan akrabnya kepada Tribunpontianak, Selasa (7/6).
Menurutnya, terkadang pasien selalu menuntut harus sembuh setelah berobat. "Dokter juga manusia bukan Tuhan. Mengenai sembuh atau tidak semuanya bergantung pada Tuhan. Tentunya saya selalu berusaha melayani dan mengobati dengan ilmu kedokteran yang saya miliki," terangnya.
Berbagai macam karakter pasien sudah pernah ia hadapi. Ada yang cerewet, terkadang suka membuat jadwal sendiri saat ingin berobat, bahkan ada juga yang merayu meminta nomor kontak pribadi dokter cantik ini.
"Saya sih sudah terbiasa dengan hal itu. Dinikmati saja. Kalau kita jalankan dengan senang, semuanya tidak akan menjadi beban. Susahpun tidak terasa," ucapnya.
Kini Maul lebih memilih bekerja sendiri dengan membuka praktik di dekat rumahnya Jalan Tabrani Ahmad, Kompleks Griya Permai, ketimbang bekerja di rumah sakit.
"Saya orangnya masih idealis. Masih enggak mau terikat. Lebih enak kerja sendiri, kita bisa mengatur waktu," tuturnya.
Kebanyakan pasien yang datang ke tempat praktiknya adalah mereka yang bermasalah pada kecantikan. "Siapapun yang berobat, saya selalu welcome. Tapi kebanyakan yang datang, mereka bermasalah pada sekitar wajah. Karena saya juga menerima treatment kecantikan kulit," ujarnya.
Maul berharap, ia tidak hanya membuat sembuh pasien yang datang, tapi juga ingin menciptakan masyarakat Indonesia sehat, khususnya Kota Pontianak. Olehkarena itu, dalam menjalani pekerjaannya ini, ia berusaha total.
Pilihan menjadi dokter adalah panggilan dari jiwanya. "Saya dulu suka melihat dokter memakai pakaian putih-putih. Apalagi pekerjaannya menolong dan mengobati orang. Saya sangat senang dengan profesi seperti ini, makanya saya memilih melanjutkan studi kuliah kedokteran," ucapnya.