Breaking News:

Citizen Reporter

Sampaikan Syukur Dengan Ritual Adat

Seluruh masyarakat secara secara kompak untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk kegiatan

Sampaikan Syukur Dengan Ritual Adat
ISTIMEWA
Ketua adat melakukan ritual dalam kegiatan adat nyapat Taun’t (Nyelepit Taun’t), di Desa Laman Satong. Kegiatan tahunan ini dilakukan selama dua hari dari 4-5 Juni 2011.
Oleh : Petrus Kanisius Pit
Aktivis Yayasan Palung

Pada tanggal 4-5 Juni 2011, di Desa laman Satong, kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) diadakan  Kegiatan adat nyapat Taun’t  (Nyelepit Taun’t) oleh masyarakat setempat.


Kegiatan ini  merupakan rangkaian kegiatan rutin masyarakat yang  dilakukan pada saat memulai dan mengakhiri masa panen.


Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat  sebagai ungkapan syukur atas panen yang mereka peroleh dan rencana untuk berladang pada tahun berikutnya.


Seluruh masyarakat secara secara kompak untuk menyiapkan berbagai keperluan untuk kegiatan. Seperti misalnya setiap  kepala keluarga atau rumah menyiapkan lemang (beras ketan yang di masak dalam buluh/ bambu) yang nantinya di bawa ke rumah adat. Segala keperluan adat di siapkan secara bersama-sama oleh masyarakat.


Kegiatan Nyapat Taun’t ini di gelar oleh masyarakat di rumah adat Laman Satong di Dusun Manjau di mulai pukul 07.00-23.00 wib, selanjutnya dilanjutkan pada keesokan harinya. Pada malam harinya masyarakat berkumpul di rumah adat untuk menerangkan adat-adat nyelepit taun’t.


Kegiatan ini dimulai  dengan ditandai oleh berkumpulnya para demong adat, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat untuk berkumpul dan makan bersama, selanjutnya para demong adat   menerangkan adat nyapat taun’t sersebut dan menjelaskan maksud diadakan kegiatan ini.


Seperti terlihat dalam acara ini, berbagai  kegiatan seperti adat seperti minum tuak di dalam tempayan, tuak dimasukkan kedalam tempayanyang sudah disiapkan.


Tempayan tersebut diberi pipa dari bambu sebagai sedotan minuman di dalam tempayan tersaebut. Berbagai sesajian di siapkan untuk sang Duata berupa beras ketan dan beras bisa yang dimasak, lemang (beras ketan/pulut) yang dimasak di bambu dan sesajian lainnya seperti Kapur sirih, pinang dan rokok.


Menurut Yohanes Terang, satu tokoh masyarakat Manjau menjelaskan kegiatan tersebut rutin dilakukan sebagai ungkapan syukur atas panen tahun lalu dan rencana untuk berladang selanjutnya.


Kegiatan ini juga sebagai bentuk peduli masyarakat pada Sang  Duata (Pencipta/ Tuhan), terhadap adat dan tradisi serta peduli dengan lingkungan sekitar . lebih lanjut beliau menegaskan, kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur untuk selalu dilaksanakan.  

Sebagai undangan dalam kegiatan ini Yayasan Palung berkesempatan untuk merekam dan mendokumentasikan kegiatan berdasarkan permintaan masyarakat.


Untuk meramaikan acara Yayasan Palung diberi kesempatan untuk memutar film  lingkungan di Manjau pada tanggal 30-31 Mei 2011. Pemutaran film dilakukan oleh Bedu Nugroho dan Tito Indrawan (Manager PPS Hukum Yayasan Palung).


Selanjutnya pada tanggal 4-5 Juni 2011 kembali dilaksanakan pemutaran film lingkungan dan film hiburan, dari Yayasan Palung yang hadir dalam acara adat Agus Lebam, Petrus Kanisius, F. Wendy Tamariska dan Relawan Bentangor Yayasan Palung ( Reno dan Andi RebonK).


 Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh tokoh masyarakat Manjau, tamu undangan dan pejabat pemerintah. Acara ini berakhir sore Minggu dengan ditandai dengan menari bersama dengan diiringi musik dan tabuhan  gendang dan gamalan sebagai penutup rangkaian acara.
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved