Korban Layangan Bertambah

BPJS Kesehatan Tak Bisa Tanggung Pengobatan Riski Si Korban Layangan di Pontianak, Ini Alasannya

Ibu korban mengatakan bahwa menurut dokter korban memerlukan berkali - kali operasi untuk memulihkan luka bakarnya.

BPJS Kesehatan Tak Bisa Tanggung Pengobatan Riski Si Korban Layangan di Pontianak, Ini Alasannya
istimewa
Linda (ibu) saat temani anaknya Riski didalam ruang perawatan. 

BPJS Kesehatan Tak Bisa Tanggung Pengobatan Riski Si Korban Layangan di Pontianak, Ini Alasannya

PONTIANAK - Seorang anak berusia 12 tahun warga desa Wajok Hulu, Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah, bernama riski menjadi korban tali layanhkgn yang terbuat dari kAwat yang menyangkut di Tower listrik Sutet di kawasan pemakaman masyarakat Tionghoa dekat rumah tinggalnya.

Menurut ibu korban kejadian ini terjadi pada Rabu (15/5/2019) sore, akibat dari sengatan listrik tersebut korban bernama Riski harus mengalami luka bakar yang sangat serius hingga 58%.

Bahkan menurut diagnosa dokter, luka bakar juga terdapat di bagian tenggorokan Riski yang mencapai 25%.

Korban sendiri sudah di tangani si RSUD Soedarso melalui jalur pasien umum, dan sampai saat ini korban telah menjalani satu kali operasi, yang mana ibu korban mengatakan bahwa menurut dokter korban memerlukan berkali - kali operasi untuk memulihkan luka bakarnya.

Baca: Bocah 12 Tahun Ini Alami Luka Bakar Korban Capai 58% Karena Layangan, Pengobatan Tak Ditanggung BPJS

Baca: BREAKING NEWS - Korban Layangan Kembali Bertambah, Remaja 12 Tahun Luka Bakar Setengah Badan

Dari informasi yang beredar, saat ini biaya pengobatan korban melalui jalur umum, dan bukan BPJS, karena terkait kasus yang menimpa Riski, sesuai peraturan yang ada bpjs tidak dapat menanggung biaya pengobatan kasus tersebut.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pontianak Gerry Adhikusuma mengatakan bahwa berdasarkan informasi di lapangan didapat bahwa korban mengalami luka bakar akibat benang layangan yang dimainkan oleh yang bersangkutan terkena kabel listrik di sekitar jalan yayasan kabupaten Mempawah.

"Berdasarkan surat rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) diketahui terkena sengatan listrik karena bermain layangan,"ungkapnya.

Selanjutnya hal ini dikuatkan Berdasarkan surat keterangan kronologis kejadian yang ditandatangani bermaterai oleh keluarga disampaikan yang bersangkutan terkena listrik karena bermain layang layang di area rawan listrik jalan yayasan kabupaten mempawah.

Baca: PLN Ajak Peran Media Perluas Imbauan Stop Main Layangan Kawat

Baca: Forum Komunikasi Mahasiswa Dorong Pemkot Singkawang Beri Efek Jera Bagi Oknum Pemain Layangan

Ia menjelaskan bahwa Berdasarkan Perpres 82 tahun 2018 pasal 52 tentang manfaat yang tidak dijamin point 1 huruf J yakni hobi yang membahayakan diri sendiri, sehingga dengan mengacu kepada regulasi tersebut JKN tidak dapat menanggung pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang bersangkutan.

Iapun memberi contoh regulasi yang melarang permainan layang layang di area rawan listrik speeti pada Perda Pemkot Pontianak Nomor 15 tahun 2005 juncto Perda Pemkot Pontianak Nomor 3 Tahun 2004 tentang Ketertiban Umum pasal 22.

Maka Berdasarkan ketentuan diatas dikategorikan dalam manfaat yang tidak dijamin oleh karena hobi yang membahayakan diri sendiri yang sudah disampaikan secara preventif larangannya melalui contoh Perda Pemkot diatas.

"Kami sangat prihatin atas kejadian ini, namun berdasarkan ketentuan diatas kami tidak dapat menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut," katanya.

Penulis: Ferryanto
Editor: Ishak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved