Prostitusi Online di Sintang Terungkap, Tarif Rp 1 Juta Sekali Kencan, Ini Cara Memesannya

Penangkapan terhadap F sendiri dilakukan pada 14 Mei 2019 di salah satu hotel di Jalan YC Oevang Oeray Sintang.

Prostitusi Online di Sintang Terungkap, Tarif Rp 1 Juta Sekali Kencan, Ini Cara Memesannya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ WAHIDIN
 Tersangka kasus Prostitusi Online berinisial F (27) saat dihadirkan dalam Press Release Pengungkapan Kasus Penyalahgunaan Narkoba dan Prostitusi Online yang dilaksanakan di Halaman Mapolres Sintang, Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kamis (16/5/2019) pagi. 

Prostitusi Online di Sintang Terungkap, Tarif Rp 1 Juta Sekali Kencan, Ini Cara Memesannya

SINTANG- Kapolres Sintang AKBP Adhe Hariadi memimpin Press Release Pengungkapan Kasus Penyalahgunaan Narkoba dan Prostitusi Online yang dilaksanakan di Halaman Mapolres Sintang, Kamis (16/5/2019) pagi. 

Pada kasus Prostitusi Online, tersangka mucikari berinisial F (27) juga ikut dihadirkan beserta barang bukti berupa handphone, uang tunai dengan total Rp. 700 ribu, celana dalam, celana pendek dan bra wanita. 

Kapolres menyampaikan bahwa penangkapan terhadap F (27) berdasarkan laporan dari masyarakat bahwa adanya dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau prostitusi online yang dilakukan oleh tersangka. 

Baca: Jembatan Lintas Kabupaten Nyaris Ambruk, Masyarakat Desa Pasir Wan Salim Was-was

Baca: Warga Delta Pawan Ditemukan Tewas Bersimbah Darah, Ini Kesaksian Keponakan Korban

"Kemarin ada laporan dari masyarakat bahwa ada terjadi perdagangan orang khususnya wanita yang kita kategorikan prostitusi yang bersifat online karena dia bisa dipesan via handphone," terang Kapolres Sintang. 

Penangkapan terhadap F sendiri dilakukan pada 14 Mei 2019 di salah satu hotel di Jalan YC Oevang Oeray Sintang. F ditangkap beserta wanita yang diduga akan dijadikan sebagai pemberi jasa layanan. 

"Saat penangkapan, ada korban, kemudian ada uang yang kita sita. Karena sebelumnya sudah kita pancing dia untuk datang bawa cewek (korban-red) ini. Kalau tidak begitu, untuk menangkapnya susah," ujar Kapolres. 

Lanjut Kapolres bahwa untuk memancing tersangka bertransaksi memang cukup susah.

Sebab memang tersangka biasanya tidak mau menerima pesanan dari orang atau nomor yang sebelumnya tidak dia kenal. 

"Untungnya saat itu dia mau dihubungi karena biasanya dia kalau tidak kenal tidak mau. Mungkin karena kebutuhan uang dan kebetulan ada cewek yang butuh uang, jadi begitu dipesan langsung bisa menghadirkan," katanya. 

Menurut Kapolres bahwa tersangka mucikari berinisial F tersebut memasang tarif layanan Rp. 1 juta untuk sekali kencan. Setelah diintrogasi, ternyata ada pembagian uang antara mucikari dan wanita pemberi layanan. 

"Pembagiannya, untuk mucikari Rp. 300-400 ribu dan untuk sisanya untuk si cewek ini. Jadi pesannya lewat WhatsApp (WA). Nanti si mucikari ini nunjukan foto-foto di cewek, setelah itu baru deal harga dan tempat," katanya. 

Namun dari pengungkapan kasus prostitusi online yang melibatkan F, polisi memastikan tidak ada wanita atau korban yang masih di bawah umur. Pihaknya pun masih melakukan pengembangan terhadap kasus ini. 

"Jadi baru sebatas pesan lewat WA, deal dan bayar cash di tempat. Belum ada yang menggunakan media sosial. Korban yang dijual ini pun setelah kita cek data-data di dalam handphone, tidak ada yang di bawa umur," tutupnya. 

Penulis: Wahidin
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved