TRIBUN WIKI

Penting untuk Dipahami Empat Faktor Pemicu Baby Blues

Sebagian besar (hampir 80%) ibu di Amerika Serikat yang baru melahirkan mengalami baby blues syndrome.

Penting untuk Dipahami Empat Faktor Pemicu Baby Blues
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi melahirkan 

Penting untuk Dipahami Empat Faktor Pemicu Baby Blues

PONTIANAK - Pasca melahirkan, banyak ibu yang merasa terkena (postpartum depression), dalam istilah populer dikenal sebagai baby blues syndrome adalah kondisi yang menggambarkan serangan panik secara mendadak, berkeringat dingin, sesak napas, kelelahan dan sulit tidur, sulit berkonsentrasi, mati rasa, gelisah, tegang, bingung dan putus asa

Ekstremnya, penderita melukai bayinya sendiri, kabur dan bunuh diri.

Dari berbagai data yang dikumpulkan di Amerika Serikat, dilaporkan sebagian besar (hampir 80%) ibu yang baru melahirkan mengalami baby blues syndrome. 

Baca: Sering Merasa Lelah Berlebihan? Kamu Mungkin Terkena Chronic Fatigue Syndrome, Ini Gejalanya

Sedangkan seberapa banyak angka kejadiannya di Indonesia, tidak ada datanya. 

Hal ini perlu diwaspadai, karena besarnya pengaruh baby sindrome tersebut. Dan berikut ini beberapa penyebabnya: 

1. Hormonal

Usai melahirkan, di dalam tubuh si ibu terjadi perubahan susunan hormon, termasuk hormon estrogen yang berperan mengatur suasana hati dan kesadaran.

Jumlah hormon kortisol (hormon pemicu stres, yang menaikkan kadar gula darah dan menjaga tekanan darah) turun secara drastis hingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi. 
Di saat yang sama, hormon laktogen dan prolaktin, yang merangsang payudara untuk memproduksi air susu ibu (ASl), yang dihasilkan, kelenjar bawah otak, sedang meningkat pula.

Masalahnya, bila kondisi hormon-hormon ini bertemu dengan tingkat hormon progesteron dan estradiol yang rendah, akan menimbulkan keIetihan fisik yang memicu terjadinya depresi. 

Baca: Karolin Imbau Ibu-ibu di Sanggau Bersalin Dengan Bidan

2. Psikologis 

Pada masa kehamilan, seluruh perhatian keluarga-terutama suami, tercurah pada istri.

Ketika anak lahir otomatis pusat perhatian berpindah, sehingga istri akan merasa diabaikan, terlebih suami sedang asyik dengan peran barunya sebagai ayah.

Dalam keadaan kelelahan dan kesakitan pasca melahirkan, hal ini akan mudah memicu depresi. Atau, perasaan kecewa terhadap anak yang dilahirkan (dari segi jenis kelamin, penampilan, atau faktor fisik Iainnya) karena tidak sesuai dengan yang diharapkan, juga bisa memicu baby blues. 

3. Fisik 

Aktivitas sepanjang hari mengasuh bayi, menyusui, memandikan, mengganti popok dan menimang, tak jarang sampai larut malam, sangatlah menguras tenaga.

Halaman
12
Penulis: Maudy Asri Gita Utami
Editor: Dian Lestari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved