KAMMI Pontianak Turut Komentari Terkait PEMIRAMA di IKIP PGRI Pontianak

Almu Bakrin, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) komisariat IKIP PGRI Pontianak ikut menyampaikan komentarnya

KAMMI Pontianak Turut Komentari Terkait PEMIRAMA di IKIP PGRI Pontianak
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Almu Bakrin, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) komisariat IKIP PGRI Pontianak. 

KAMMI Pontianak Turut Komentari Terkait PEMIRAMA di IKIP PGRI Pontianak

PONTIANAK - Almu Bakrin, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) komisariat IKIP PGRI Pontianak ikut menyampaikan komentarnya terkait PEMIRAMA di kampus IKIP PGRI Pontianak, Selasa (17/4/2019).

Ia menyampaikan bahwa telah terjadi usaha pemberangusan dalam berdemokrasi di kampus IKIP. Hal ini tentu merugikan dan kurang mendidik para civitas akademika, khususnya para mahasiswa, lantaran kita hidup di Negara yang menganut sistem Demokrasi.

"Menurut saya, apa yang telah terjadi di kampus (IKIP) saat ini adalah salah satu bentuk usaha pemberangusan berdemokrasi. Bahkan saya yakin ini mulai dirasakan beberapa tahun ke belakang. Mulai dari kebijakan DPM yang meminta rekomendasi 3 HMPS untuk kemudian bisa mencalonkan diri, hingga aklamasi yang telah terjadi sebanyak dua kali dalam 3 tahun terakhir ini",ujarnya.

Baca: Atbah Sebut Siapapun Pemenangnya Adalah Yang Terbaik

Baca: Hanya Hari ini, Diskon 17 Persen Spesial Pemilu Untuk Buku Terbitan Gramedia

Baca: Hari H Pencoblosan Website KPU RI Down

Aklamasi yang telah terjadi pada momen PEMIRAMA di kampus IKIP PGRI Pontianak memang sangat disayangkan.

Di dalam Negara Demokrasi, aklamasi adalah sesuatu yang sangat genuine dengan sistem ini, karena demokrasi adalah kompetisi.

"Saya sebagai aktivis juga sangat menyayangkan terjadinya aklamasi kembali pada tahun ini. Kita tentu tidak boleh membiarkan ini terjadi terus, salah satu poin penting demokrasi adalah pergantian kepemimpinan, yang diperoleh melalui kompetisi, detailnya malah itu kompetisi ideologis. Jadi kalau ini dibiarkan, bisa-bisa para mahasiswa IKIP gagal paham tentang demokrasi. Kan kacau kalau begitu adanya," imbuhnya.

Ia juga menambahkan bahwa ia sedikit menyimpan kecurigaan terkait adanya oknum-oknum yang memang sengaja berusaha untuk memberangus sistem demokrasi di kampus ini.

"Saya cukup curiga dengan kejadian-kejadian seperti ini. Barangkali di sana ada oknum-oknum yang sengaja berusaha untuk memberangus demokrasi di kampus IKIP. Saya agak khawatir dengan hal itu, lantaran saya lihat ada kecenderungan yang sengaja dibangun untuk hal itu. Saya tidak tahu pasti, namun saya merasakan," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Almu ini juga menyampaikan bahwa ORAMAWA agar dapat memulihkan sistem demokrasi di kampus IKIP.

"Kampus adalah miniatur Negara, maka sistemnya harus bermahdzab kepada negara tersebut, maka ya saya rasa ORMAWA perlu untuk memulihkan sistem berdemokrasi di kampus ini (IKIP). Kalau perlu ya bikin revolusilah," tutup Almu dalam kesempatan kali ini.

Penulis: Anggita Putri
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved