Khanduri Laot Festival, Kekayaan Intelektual Komunal Pertama dari Kota Sabang

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) Freddy Harris menyerahkan Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal

Khanduri Laot Festival, Kekayaan Intelektual Komunal Pertama dari Kota Sabang
HUMAS DJKI
(Dirjen KI) Freddy Harris menyerahkan Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) - Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) Khanduri Laot Festival kepada Walikota Sabang, Nazzarrudin.‎ 

Citizen Reporter
Alva Haqqani
Staf Humas DJKI Kemenkumham RI

Khanduri Laot Festival, Kekayaan Intelektual Komunal Pertama dari Kota Sabang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) Freddy Harris menyerahkan Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) - Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) Khanduri Laot Festival kepada Walikota Sabang, Nazzarrudin.

Penyerahan ini dilakukan saat pembukaan lomba masak kuah belangau yang merupakan rangakaian Festival Khanduri Laot 2019 di depan Kantor Walikota Sabang, Jl. Diponegoro, Kota Sabang Pada Minggu (31/3/2019) lalu

Freddy Harris menyatakan bahwa Sabang memiliki potensi kekayaan intelektual yang berlimpah, diantaranya keragaman tradisi serta potensi indikasi geografis (IG). Salah satu potensi IG tersebut adalah Salak Sabang.

"Pemerintah Kota diharapkan mampu menginventarisasi potensi indikasi geografis, kemudian mendaftarkannya di DJKI. Dengan dilindungi sebagai indikasi geografis, daerah lain tidak bisa menirunya dan akan mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat," ujar Freddy Harris.

Baca: Bupati Karolin: Pemanfaatan Dana Desa Harus Tepat Sasaran

Baca: M Berkah Gamulya: Mahasiswa Sangat Dibutuhkan Dalam Program Pencegahan dan Penindakan Korupsi

Baca: Apresiasi KPU, Rizki: Harap Bimtek Terealisasi Hingga Lini Paling Bawah

Baca: SAPMA PP Kalbar Pasang Diri Menjadi Pelopor Kebersihan di Kawasan Waterfront Pontianak

Khanduri laot merupakan tradisi turun temurun yang bisa menjadi alat untuk mempererat harmonisasi antar anggota masyarakat dan sarana sosialisasi peraturan laut yang telah dilestarikan oleh para leluhur Aceh.

Tradisi ini juga semakin mengukuhkan kembali keberadaan lembaga adat seperti panglima laot yang telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Salah satu prosesi khanduri laot adalah Adat Melaot yang diawali dengan anak buah kapal di-pesijeuek, kemudian mereka berdoa bersama. Usai pemangku adat naik ke darat, kapal mulai berlayar.

Ketika berada di laut, para nelayan menebar pukat dari atas kapal. Selama mencari ikan, para nelayan tidak boleh saling sikut.

Pada kesempatan yang sama, diserahkan pula beberapa surat pencatatan ciptaan, yaitu Buku Katalog Kerajinan yang Terbuat dari Batang Kelapa di Kota Sabang; Lagu Sabang Kota Pariwisata; dan Motif Bordir Bunga Kelapa.

Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Fathlurachman; Direktur Teknologi Informasi KI, Sarno Wijaya; dan Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Aceh, Agus Toyib beserta jajarannya.

Penulis: Hadi Sudirmansyah
Editor: madrosid
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved