Masyarakat di Desa Sepotong Inginkan Hutan Mereka Dijadikan Hutan Desa
Kami dari Yayasan Palung mengadakan ekspedisi pendidikan lingkungan di dua desa yaitu desa Sepotong dan desa Kepari
Penulis: Nur Imam Satria | Editor: Madrosid
Masyarakat di Desa Sepotong Inginkan Hutan Mereka Dijadikan Hutan Desa
Citizen Reporter Media Relation Yayasan Palung - Petrus Kanisius
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Keinginan masyarakat di Desa Sepotong, Kecamatan Sungai Laur untuk menjadikan hutan mereka dijadikan hutan desa tercetus.
Kami dari Yayasan Palung mengadakan ekspedisi pendidikan lingkungan di dua desa yaitu desa Sepotong dan desa Kepari pada tanggal 19-23 Maret 2019, kemarin.
Saat diskusi dengan masyarakat, perwakilan dari pemerintah desa di Desa Sepotong sangat tertarik dan berharap apabila hutan di desa mereka dijadikan hutan desa.
Keinginan mereka tersebut bermula ketika kami menjelasan beberapa kegiatan dan program yang dilakukan oleh Yayasan Palung sekaligus ketika kami menyampaikan sosialisasi satwa dilindungi.
Penjabaran dari beberapa program kegiatan Yayasan Palung diantaranya adalah pendampingan hutan desa di 5 desa yang ada di Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara tersebut menjadi ketertarikan tersendiri bagi masyarakat di Desa Sepotong juga untuk menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa.
Baca: Hasil Final India Open 2019 - Praveen/Melati Gagal Sumbang Gelar Juara
Baca: APK harus Sesuai Aturan, Rizki: Perhatikan Etika, Estetika, Keindahan dan Kebersihan Kota
Baca: Kalbar 24 Jam - Ayah Kandung Hamili Putrinya, 4 Kabupaten Belum WTP, hingga 87 Mobil Penggelapan
Beberapa hal terkait keinginan mereka menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa diantaranya seperti, Ada sebagian besar luasan hutan di sekitar mereka (hutan yang ada di sekitar masyarakat) adalah beberapa diantaranya sudah padang ilalang yang sangat rentan terhadap kebakaran dan pernah terbakar pada beberapa tahun lalu, mereka berharap semoga dengan adanya hutan desa, wilayah tersebut bisa ditanam kembali.
Selain itu, di hutan tersebut merupakan wilayah yang menjadi sumber air bersih bagi warga. Hal lainnya yang tak kalah pentingnya di sekitaran hutan milik masyarakat, dalam hal ini hutan milik desa terdapat tanam tumbuh hasil hutan bukan kayu satu diantaranya tanaman obat dan beberapa diantaranya tanaman asli.
Selaku Sekdes Desa Sepotong, Leri Valentino mengatakan, harapan masyarakat yang berkeinginan untuk menjadikan hutan mereka menjadi hutan desa tak lain sebagai upaya menyelamatkan hutan yang masih tersisa dan menjadi harapan satu-satunya di desa Sepotong.
Beberapa hutan memang masih ada, tetapi sesuatu yang ditakutkan adalah hutan tidak tersisa. Leri menambahkan, jika nanti hutan mereka bisa dijadikan hutan desa maka hutan mereka otomatis terjaga dan masyarakat bisa mengolah hasil hutan bukan kayunya seperti jenis rotan dan tanaman obat.
Pino, Perangkat Desa Sepotong, tanam tumbuh seperti tanaman obat, tanaman bumbu dan tanaman asli cukup banyak di wilayah kami. Keinginan kami ingin menjadikan tanaman tersebut sebagai ikon dan menjadi potensi yang mungkin bisa dijual.
"Besar harapan kami agar Yayasan Palung mendampingi desa kami," ujar Sekdes.
Tidak hanya hutan di wilayah itu yang menjadi potensi, kearifan lokal berupa adat istiadat juga masih terjaga di sana. Mereka (masyarakat di sana) masih menjalankan adat tradisi nenek moyang misalnya seperti tradisi gotong royong saat panen dan adat tradisi ketika sanak saudara ada yang meninggal dunia.
Khusus adat orang meninggal, kebetulan saat kami melakukan ekspedisi di ada salah satu keluarga yang meninggal dunia di desa tersebut. Secara adat tradisi masyarakat di sana apabila ada masyarakat kampung yang meninggal maka di desa tersebut wajib untuk berkabung (berbelasungkawa) dan tidak melakukan aktivitas lain seperti ke ladang atau kegiatan lainnya.