Daniel Johan: Indonesia Jangan Mau Didikte Eropa Terkait Harga Sawit

Apalagi harga sawit juga jauh lebih ekonomis, sawit itu 568.12 dollar per ton jauh dibanding kedelai 773 usd

Daniel Johan: Indonesia Jangan Mau Didikte Eropa Terkait Harga Sawit
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Daniel Johan 

Daniel Johan: Indonesia Jangan Mau Didikte Eropa Terkait Harga Sawit

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan menilai para petani dan pelaku usaha sawit di Indonesia tidak perlu kuatir dengan kebijakan Komisi Eropa yang mencabut subsidi sawit untuk BBM. 

Menurutnya, posisi Indonesia sangat kuat karena sebagai produsen terbesar dunia dan menguasai pasar 52 persen cpo dan turunannya dengan produksi 47,6 juta ton (2018) dan ekport mencapai 32 juta ton. 

Ia pun mengungkapkan, sebagai komoditas strategis nasional, sawit telah menyumbang devisa terbesar dalam perekonomian nasional. Negara pasti akan melakukan yang terbaik untuk melindungi komoditi strategis ini. 

"Komisi IV akan mendukung penuh tindakan Menko Darmin, kita sudah tidak bisa dipermainkan terus, kita harus berdaulat dalam mengatur negara ini. Kita dorong pemerintah melakukan tindakan tegas untuk mencari keadilan di dunia internasional, baik melalui arbitrase sampai ke forum WTO. Ini bukan lagi sekedar masalah ekonomi, apalagi eksport ke Eropa kecil nilainya. Tapi ini masalah harga diri sebagai bangsa. Dan saya juga mendorong agar pemerintah bersama pelaku usaha untuk mengembangkan pasar baru melalui G to G ke pasar baru seperti Afsel dan Tunisia," tuturnya, Minggu (31/03/2019).

"Jadi bila Eropa keras kepala, go to hell Eropa, saya sudah diperintah Cak Imin sebagai pimpinan komisi IV untuk mendukung penuh langkah pemerintah dalam melindungi komoditi strategis nasional ini, terutama menyangkut banyak multiplier effect," timpalnya.

Posisi Indonesia, menurutnya kuat karena dalam mandatori atas B20 hingga B100, dunia termasuk Eropa tidak punya pilihan, sawit merupakan produk paling ekonomis, produktif, dan tidak merusak lingkungan semassif produk nabati lain. 

Baca: Jadi Juri Lomba Baca Puisi di HUT ke-32 Himbasi FKIP Untan Ini Ungkapan Ilham Setia

Baca: Raih 17 Piala, Pramuka Pondok Pesantren Khulafaur Rasyidin Juara Umum GCSC III 

"Andai pun Eropa tetap berkeras kepala, pemerintah sedang mempersiapkan kebijakan B20 menuju B100 yang membutuhkan 60 juta ton cpo per tahun, sehingga kita fokus saja ke pasar dalam negeri sendiri. Jadi tidak perlu khawatir dengan regulasi Eropa, negara-negara importir seperti Tiongkok, Bangladesh, India masih membutuhkan CPO dan produk turunannya," paparnya.

Eropa, kata Wasekjend DPP PKB ini, tidak perlu mendikte soal lingkungan, Indonesia lebih paham dan lebih baik dalam mengatasi masalah lingkungan. 

"Sawit dunia itu hanya menggunakan 6 persen lahan dunia seluas 16 juta ha, sementara kedelai menghabisi 94 persen lahan dunia seluas 277,2 juta ha. Ke mana koar-koar Eropa atas kerusakan lingkungan dari produk nabati yang lain?," kata Daniel.

Lebih lanjut, dikatakannya sawit juga sangat produktif dan efisien dalam penggunaan lahan, 1 ha sawit mengasilkan cpo 4,27 ton sedangkan 1 ha kedelai hanya mengasilkan 0,45 ton minyak kedelai. 

"Apalagi harga sawit juga jauh lebih ekonomis, sawit itu 568.12 dollar per ton jauh dibanding kedelai 773 usd," jelasnya.

"Indonesia akan menjadi jawaban bagi dunia dalam mengatasi lingkungan dan energi terbarukan. Dunia dan Eropa belum ada pilihan yang lebih baik sehingga Indonesia tidak perlu kuatir, ini hanya perang dagang dan upaya Eropa menguasai dan menentukan harga. Kita sebagai produsen terbesar yang harus menentukan, bukan malah diatur-atur," katanya.
 

Penulis: Ridho Panji Pradana
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved