Dunia Games

Kontroversi Game PUBG! Fatwa MUI, Pendapat Psikologi Forensik, Gamers: Daripada Narkoba & Balap Liar

Santer terdengar kabar Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkaji fatwa terkait game Player Unknown's Battlegrounds (PUBG).

Kontroversi Game PUBG! Fatwa MUI, Pendapat Psikologi Forensik, Gamers: Daripada Narkoba & Balap Liar
NET
Kontroversi Game PUBG! Fatwa MUI, Pendapat Psikologi Forensik, Gamers: Daripada Narkoba & Balap Liar 

Kenapa di India? Karena Pemerintah India mengecam permainan PUBG mobile yang membuat pemainnya menjadi kecanduan.

Para pemain melaporkan bahwa mereka mendapatkan pesan peringatan terkait waktu bermain ketika melakukan proses login pada akun masing-masing.

Pesan tersebut akan muncul ketika pemain telah bermain PUBG Mobile selama enam jam, di hari yang sama.

Jika pemain sudah melewati batas waktu tersebut, maka ia baru bisa kembali melakukan login di hari berikutnya.

Menurut pihak Tencent, fitur ini memang sengaja dibuat agar PUBG Mobile tetap dapat dimainkan secara sehat dan bertanggung jawab.

Tencent pun mengakui bahwa fitur ini dirilis karena adanya wacana pemblokiran PUBG Mobile di India.

"Kami memperkenalkan sistem gameplay yang sehat di India untuk mempromosikan game yang seimbang dan bertanggung jawab, termasuk membatasi waktu bermain untuk pemain di bawah umur," ungkap Tencent melalui keterangan resminya.

Tencent menyatakan, kami terkejut mengetahui bahwa pihak berwenang setempat di beberapa kota di India telah memutuskan untuk memberlakukan larangan bermain game ini.

Dikutip KompasTekno dari XDA Developers, Senin (25/3/2019), Tencent menyatakan akan berupaya untuk melakukan dialog dengan pemerintah setempat agar wacana pelarangan PUBG Mobile dibatalkan.

Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah mengkaji usulan masyarkat terkait fatwa game PUBG.

Sejumlah masyarakat menilai ada unsur radikalisme yang dimainkan dalam game ini.

Game PUBG menuai kontroversi setelah masyarakat menilai permainan tersebut dapat memicu radikalisme karena mempraktikkan peperangan dan pembunuhan.

Permainan ber-genre battle royale itu disebut mirip dengan aksi pelaku penembakan di masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Bermain curang

Sementara itu, penggemar PUBG yang kerap bermain curang harus waspada.

Pemain curang saat bermain PUBG bisa "ditangkap" oleh PUBG Corp.

PUBG Corp memasang teknologi baru untuk menangkap pemain PUBG curang.

Pembuat PUBG memasang teknologi terbaru, yakni teknologi machine learning.

Pemasangan alat baru di game PUBG ini untuk mengetahui pemain yang kerap curang atau melakukan nge-cheat.

Divisi anti-cheat di PUBG Corp mengunggah sebuah update di steam.

Unggahan oleh divisi anti cheat itu memberikan informasi sepak terjang mereka selama beberapa bulan terakhir menangkal program cheat dipakai oleh tukang curang.

Selain memakai program anti curang dari third party, seperti BattlEye dan Uncheater, tim terkait di PUBG Corp juga memakai machine learning untuk mempelajari kebiasaan main penggunanya.

"Kami memahami bahwa satu orang yang bertindak curang bisa berdampak amat besar pada kegembiraan sedemikian banyak orang (dalam memainkan PUBG)," kata PUBG Corp seperti dikutip PCGamer.com.

Sehingga PUBG Corp perlu menjaga level keamanan lebih tinggi dibandingkan game lain.

Machine learning itu akan memantau sesuatu yang aneh dan berada di luar kecenderungan yang mengindikasikan adanya aktivitas kecurangan.

PUBG juga menggandeng perusahaan-perusahaan lain untuk meningkatkan aspek keamanan.

Sementara itu, menurut laporan yang diterbitkan firma riset Sensor Tower, pendapatan PUBG Mobile mencapai angka 32,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 46 miliar dalam kurun waktu satu bulan selama November lalu.

Angka tersebut menjadi jumlah pendapatan tertinggi sejak pertama kali game ini dirilis.

Dengan kata lain, para pemain PUBG Mobile menghabiskan total 1,1 juta dollar AS setiap harinya selama satu bulan.

Angka pendapatan ini meningkat sebesar 44 persen dari bulan Oktober.

Sebelumnya, pendapatan tertinggi yang pernah dicapai oleh PUBG Mobile dalam waktu satu bulan adalah sebesar 25,7 juta dollar AS pada bulan Agustus 2018.

Game PUBG Mobile sejatinya gratis untuk dimainkan.

Akan tetapi di dalamnya pemain bisa membeli aneka item yang bersifat kosmetik, seperti baju, sepatu, topi, dan berbagai aksesori penampilan lainnya untuk membedakan diri dari pemain lain seperti dikutip Digit.in.

Game online PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) disebut-sebut menjadi inspirasi pelaku teror dalam penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan sedikitnya 43 orang.

Karenanya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat mempertimbangkan mengeluarkan fatwa haram untuk game tersebut.

Tanggapan Pakar Psikologi Forensik

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, mengaku kurang setuju jika game online tembak-tembakan itu dinyatakan haram.

Namun ia mengaku setuju adanya pembatasan usia bagi para pemainnya yang diatur secara ketat.

"Sebab memang terlalu berisiko jika dibiarkan bebas. Fatwa haram? Saya lebih setuju haram bagi anak bangsa usia tertentu. Jadi, lebih pada pengendalian atau pembatasan secara ketat," katanya kepada Warta Kota, Minggu (24/3/2019).

Ia menjelaskan bahwa dalam psikologi memang ada Teori Belajar Sosial.

"Yang intinya, bahwa orang dapat memunculkan atau mengubah perilaku berdasarkan apa yang dia lihat dan saksikan," kata Reza.

Tapi realitasnya, tambah Reza, tidak serta-merta atau tidak semua orang yang menonton aksi teror di Selandia Baru yang oleh pelaku ditayangkan live di media sosial, melakukan perbuatan serupa.

"Itu artinya, ada faktor individual yang menjadi penentu apakah stimulasi dari game atau TV akan diduplikasi atau tidak," kata Reza.

Salah satu faktor itu katanya adalah suggestibility. "Yakni kerentanan seseorang untuk menerima sugesti atau pengaruh," ujar Reza.

Ia menjelaskan bahwa secara klasik ada tiga kelompok manusia yang secara umum kerap dianggap punya suggestibility atau rentan saat menerima sugesti atau pengaruh.

"Yaitu orang dengan kecerdasan atau pendidikan rendah, anak-anak, dan perempuan," paparnya.

Dalam kasus game online PUBG, kata Reza, stimulus tidak hanya berupa objek yang ditonton. Tapi juga objek yang berinteraksi dengan pemirsa.

"Karena stimulasi berlangsung multi inderawi, maka masuk akal kalau ada kekhawatiran bahwa peniruan semakin potensial," kata Reza.

Faktor lainnya tambah Reza tendensi kekerasan yang sudah ada pada diri individu.

"Ketika tendensi itu ada, maka terstimulasi sedikit saja bisa akan melipatgandakan kemungkinan munculnya perilaku kekerasan oleh yang bersangkutan," kata Reza.

Karena alasan itu, menurut Reza, dibanding fatwa haram atas PUBG ia lebih setuju pembatasan dan pengendalian PUBG secara ketat. "Jadi, haram bagi anak usia tertentu," kata Reza.

Penulis: Rizky Zulham
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved