Sanggar AOAM, Wadah Kreasi Seni Anak Muda Ketapang

Sanggar AOAM mempersembahkan sebuah pertunjukan teater yang akan digelar pada 30 dan 31 Maret nanti

Sanggar AOAM, Wadah Kreasi Seni Anak Muda Ketapang
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Sanggar AOAM 

Sanggar AOAM, Wadah Kreasi Seni Anak Muda Ketapang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Salah satu sanggar seni di Kota Ketapang, Sanggar AOAM mempersembahkan sebuah pertunjukan teater yang akan digelar pada 30 dan 31 Maret nanti.

Sanggar AOAM, memang menjadi salah satu wadah yang menampung berbagai bakat seni yang dimiliki oleh para pemuda di Kota Ketapang.

Seperti pantomime, teater, tari, musik yang melibatkan banyak anak muda berbakat, tak kurang dari 50 orang.

Ada sejak 2010, digagas oleh seorang putra daerah bernama Kus Harianto.

Baca: Panitia STQ Nasional Akan Suguhkan Pelaksanaan STQ yang Meriah & Unik

Baca: Tingkah Aneh Teroris Brenton Tarrant Jalani Sidang Perdana, Tunjukkan Jari Tangan hingga Nyengir

Baca: Jembatan Sambas - Subah Ambruk, Akses Warga Terganggu

Seperti kali ini, dengan melibatkan Duta Remaja Kalbar 2019, Dita Octaria Mauludea sebagai pemeran utama, bertujuan untuk mengajak para remaja berkreasi dalam kegiatan positif melalui kesenian.

Berjudul Barabah, pertunjukan teater itu mengangkat karya Motinggo Busye setebal 42 halaman yang sekaligus menjadi pentas tunggal ke 6 digelar oleh Sanggar AOAM.

Berkisah tentang kehidupan seorang istri bernama Barabah yang bersuamikan Banio, seorang mantan jagoan dan pernah kawin cerai sebanyak 12 kali.

Kehidupan tenang Barabah yang sangat takut kehilangan suaminya ini terganggu dengan kemunculan seorang gadis cantik bernama Zaitun yang mencari Banio dan hendak menikah.

Disaat bertepatan, muncul seorang pemuda mencurigakan bernama Adibul, yang ternyata adalah anak mereka sendiri.

Dengan tema tentang percintaan dalam sebuah rumah tangga, Barabah sebagai Istri Banio, seorang wanita berumur 28 tahun, cantik, menarik dan mencintai suaminya.

Banio sendiri sebagai Suami Barabah, seorang lelaki tua betubuh bongkok tapi kekar yang berumur sekitar 70an, suaranya lantang dan sukar untuk tertawa.

Mengambil latar waktu sekitar 1970-an, latar suasana kritis ekonomi dengan sudut pandang orang pertama yamg mengangkat nilai sosial, agama, dan budaya.

Aspek-aspek sastra yang ada dibahas seperti sosiologi sastra dalam naskah, konteks dan inferensi dalam naskah, serta memberikan sedikit pengetahuan mengenai pengarangnya, Motinggo Busye.

Penulis: Bella
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved