Gelar RAT, CU Pancur Kasih Soroti Pajak Atas Bunga Simpanan dan Lesunya Perekonomian

Ini pajak yang tidak berkeadilan. Ini juga sudah saya sampaikan dalam forum, bahkan juga sudah sampaikan ke Presiden

Gelar RAT, CU Pancur Kasih Soroti Pajak Atas Bunga Simpanan dan Lesunya Perekonomian
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ishak
CU Pancur Kasih Angkat Peran Millenial di RAT 

Gelar RAT, CU Pancur Kasih Soroti Pajak Atas Bunga Simpanan dan Lesunya Perekonomian

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Koperasi menjadi satu di antara instrumen perekonomian penting bagi masyarakat. Terutama dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama dari masyarakat yang menjadi anggotanya.

Semangat ini pulalah yang diusung Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Credit Union (CU) Pancur Kasih. Hanya saja, ada beberapa hal yang menjadi sorotan bagi KSP CU Pancur Kasih.

Satu di antaranya adalah soal pajak atas bunga simpanan. Hal ini diungkapkan Ketua Pengurus KSP CU Pancur Kasih, Gabriel Marto, saat berikan sambutan dalam agenda Rapat Anggota Tahunan  (RAT) CU Pancur Kasih, Sabtu (23/02/2019).

"Ini pajak yang tidak berkeadilan. Ini juga sudah saya sampaikan dalam forum, bahkan juga sudah sampaikan ke Presiden," ujarnya.

Baca: Lakukan Penelitian Gizi dan Balita, Ini Hasil yang Diperoleh Tim Peneliti Dari Brawijaya

Baca: Ini Inisial Tiga Perempuan Diamankan Terkait Viral Video Jika Jokowi Terpilih Tak Ada Lagi Azan

Baca: Jadwal Rising Star Indonesia: Final Duel 2 Ada Shes Bro, Karen Claudia & Salwa Jasmine, Live RCTI

Pajak satu ini, disebutnya menjadi kendala tersendiri yang cukup memberatkan bagi KSP CU Pancur Kasih.

Padahal, pihaknya juga sudah membayar pajak kepada negara sesuai aturan. Pajak penghasilan, ditambah lagi pajak atas bunga simpanan anggota

Padahal, katanya, CU sebagai koperasi adalah wadah dan bentuk perjuangan masyarakat bawah. Yang mengorganisir diri secara bersama agar punya harapan dan kehidupan lebih baik.

"Karena jika masyarakat sudah bisa mengatur keuangan dengan baik, ekonomi negara juga akan baik," timpalnya.

Kondisi ini akan semakin diperparah dengan kondisi ekonomi nasional yang belum stabil. Apalagi hal tersebut berpengaruh besar pada perekonomian lokal Kalbar.

Sebagai gambaran, ia mengungkapkan soal harga kebutuhan pokok yang tidak sebanding dengan penghasilan masyarakat. Terutama yang bergantung dengan ada komoditas pertanian semacam karet dan sejenisnya.

"Sekarang, dua kilo karet baru bisa dapat satu kilogram. Bisa dibayangkan (susahnya)," sambungnya.

Pihaknya sebenarnya katanya tak berpangku tangan dan berdiam diri saja menghadapi keadaan ini. Satu di antara upaya itu, adalah dengan langkah pihaknya yang menyampaikan permasalahan ini langsung kepada kementerian terkait.

Penulis: Ishak
Editor: Maskartini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved